Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (5)

(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb

(34)

Perjalanan akan dilanjutkan, tepatnya dicoba lagi, besoknya. Malamnya jalan-jalan saja keliling kota Tanjung Redeb hingga kemudian berhenti di kawasan dimana berjajar kedai-kedai sambung-menyambung menjadi satu, itulah kawasan Tepian.

Ini lokasi untuk santai di malam hari, berada di sisi selatan sungai Segah. Cukup nyaman dan indah dinikmati kalau cuaca sedang cerah. Aneka makanan dan minuman tinggal pilih.., mbayar tentu saja… ‎

(35)

Ada judul yang menarik perhatian saya, yaitu sarabba. Rupanya ini susu jahe. Jahe dikeprek, dibakar, lalu dicampur dengan susu panas. Lumayan untuk penghangat badan yang capek. Pasangannya roti bakar yang rotinya warna hijau, disayat tengahnya lalu diisi coklat atau selai. Tapi ya belum makan kalau belum nasi, maka pesan juga nasi goreng.

Uuuh.., bukan rasanya. Tapi karena tiba-tiba turun hujan lebat dan penjualnya kalang kabut memasang tenda. ‎

(36)

Huh, kenyang, capek, ngantuk… Jam 21:30, cari penginapan di luar kota arah barat, sekedar untuk melepas penat. Atas saran teman, saya menuju hotel “Beringin” di bilangan Teluk Bayur.

Sampe di depannya, bunyi musik keras sekali entah darimana sumbernya. Tidak nampak bentuk hotel. Di teras ada seorang gadis berkaos dan celana ketat nangkring di sepeda motor. Cengengesan sendiri dengan HP-nya, acuh saja melihat kedatanganku. ‎

(37)

Begitu masuk saya semakin ragu. Mana resepsionis? Hanya ada 3 wanita sedang ngobrol sambil duduk dengan posisi “tidak sopan”.

Kutanya salah satunya: “Hotelnya dimana?”.
“Disini”, jawabnya.
Aku ingin membatalkan saja tapi kepalang sudah di dalam. Kutanya seorang wanita paruh baya yang katanya resepsionis. “Ada kamar?”. “Penuh”, jawabnya pendek tanpa mengubah posisi “tidak sopan”-nya.

Hmmm, sukka… (suka dengan jawaban pendeknya, bukan posisinya). ‎

(38)

Setelah mendengar jawaban resepsionis itu segera saya pamit kabur. Hmm.., bisa-bisa tidak istirahat aku (karena bunyi musik yang keras itu).

Cari tempat lain, dekat batas kota. Ada hotel “Pelangi”. Ini baru benar hotel transit yang tarifnya di bawah Rp 250 ribu/malam. Ada TV dan AC, tapi tidak ada air panas. Lumayan, untuk sekedar nggeblak dan buang hajat. Baru 15 menit di kamar, sudah ML (mati lampu). Uuuh.., ya minta lilin. Rupanya sudah disiapkan.

(39)

Karena mati lampu jadi tidak bisa nge-charge HP. Yo wisss… Dalam keremangan cahaya lilin ingin segera melampiaskan rasa penat bin capek. Tidak lama turun gerimis, lalu hujan lebat, silih berganti sampai pagi.

Haaa…, nyanyian kodok ada di sebelah hotel. Nyaman sekali… Sudah bayar murah, dinina bobok sama nyanyian kodok. Paginya sudah disiapkan kopi dan kue. Ya, hotel transit, diman orang biasanya masuk malam, paginya keluar…

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

2 Tanggapan to “Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (5)”

  1. Lloyd Says:

    Salam, saya sangat tertarik dengan catatan Bapak mengenai perjalanan ke Berau, kebetulan saya sangat berkeinginan ke sana. Apa boleh kita berkenalan? Ada nomor HP yang dapat saya hubungi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: