Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (4)

(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”

‎(27)

Kurang dari sejam kemudian terdengar bunyi mesin bulldozer semakin mendekat. Lalu dari belokan muncul sebuah bulldozer CAT model kuno merayap naik. Tapi lho.., sopir dozer-nya kok sopir mobilku?

Sebentar, sebentar.., itu bulldozer siapa dan darimana? “Ya yang ada di pinggir jalan tadi, pak…”, jawabnya ringan.

Woo.., “ueddan”, kataku dalam hati. Tapi bagus juga punya sopir rada edan. Bisa “mencuri” bulldozer, jika terpaksa… ‎

(28)

“Kunci kontaknya gimana?”, tanyaku lugu. “Ya dikonsletkan saja…”, jawabnya lugu juga, yang maksudnya di-jumper seperti di film-film itu.

Ternyata mas Kentung, sopir mobil yang kusewa, pemuda gempal asal Solo yang sudah lima tahun tidak pulang itu dulu pernah bekerja di perush logging (penebangan kayu). Selama itu pula dia banyak berurusan dengan alat-alat berat. Pantesan, lincah sekali dia “mencuri” bulldozer… ‎

(29)

Maka ketika pagi-pagi sekali dia sudah berjalan naik-turun bukit meninggalkan kami berdua di mobil, rupanya dalam rangka mencari bantuan, ya dengan “mencuri” bantuan berupa bulldozer itu.

Yen tak pikir-pikir.., antara mencari dan mencuri itu kan hanya beda satu huruf saja. Ketika harus mencari dia berteriak agak kesal tapi semangat “aaah…” dan setelah berhasil mencuri dia berteriak lega tapi puas “uuuh…”. (Just kidding…). ‎

(30)

Kebetulan hari Minggu. Karyawan perusahaan kayu itu pada libur, maka dozer pun pada nongkrong ditinggal operatornya. Kebetulan tapi juga keharusan…

Kebetulan karena dozer-nya pada nganggur. Keharusan karena kalau tidak nekat “mencuri” kami tidak tahu berapa lama lagi kami harus menunggu bantuan datang sebab di lokasi itu tidak bakalan ada kendaraan yang lewat pada hari itu… ‎

(31)

Sekitar jam 10 pagi akhirnya mobilku lepas dari kubangan. Baru jalan tertatih-tatih beberapa kilometer, setelah mengembalikan dozer yang tadi “dicuri”, kami terjebak lagi di jalan berlempung licin. Rupanya double gardan mobilku tidak berfungsi.

Aagh… Praktis kami pun tak berkutik. Terpaksa sopirku yang rada edan itu beraksi kembali “mencuri” dozer lain. Giliran bulldozer Komatsu yang “dicurinya”, juga dengan cara mengkonsletkan entah kabel apa.. ‎

(32)

Sopirku yang sejak malam sebelumnya berbusana tarzan-tarzanan alias hanya menyisakan cd (celana dalam) dan kaos saja karena tubuhnya yang berkulit hitam itu jadi kecoklatan penuh berlumuran lumpur. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bukan sekedar membebaskan mobil itu dari jalan yang licin yang membuatnya tak mampu bergerak, melainkan ditariknya terus hingga jauh. Dan dozer itu tidak dikembalikan lagi tapi ditinggal begitu saja di tepi jalan. Ngabuuur… ‎

(33)

Sekitar jam 14 siang akhirnya kami tiba kembali di Tanjung Redeb. Alhamdulillah… Hal pertama yang kami lakukan adalah makan nasi bungkus yang sedianya mau dikirim untuk menolong kami tapi keburu pak sopirku sukses dengan aksi “pencuriannya”.

Hmm… Nasi, ayam goreng, tempe dan lalapan yang banyak daun kemanginya, tandas tak bersisa kecuali bungkusnya. Lebih-lebih seikat daun kemangi segar membuat nafsu makanku memuncak sampai ke ubun-ubun… ‎

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: