Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (3)

(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan

(20)

Tidurku benar-benar lelap sampai pagi, sempat dua kali terbangun tapi tidur lagi. Untung tidak kliyengan… Tapi jelas pinggang dan leher terasa patah-patah, padahal tidak goyang…

Sholat subuh kutunaikan di dalam mobil. Kali ini fasilitas persolatan yang ada kugunakan habis-habisan: tayamum, sambil duduk di mobil menghadap ke tenggara…

Air bersih entah ada dimana, tanah berlumpur dan lengket, langit pagi makin terang… ‎

(21)

Kucoba keluar mobil untuk menikmati pagi. Nyanyian burung di pagi hari menyambut bangunku…

Gerimis malam masih tersisa rintiknya. Dengan mengenakan sepatu aku injakkan kaki keluar mobil, lalu menggeliat, berjalan-jalan sejenak, menghirup nikmatnya hawa pagi pegunungan. Kabut masih menggantung di pucuk-pucuk pepohonan. Makin berjalan, kakiku terasa makin berat. Ternyata lempung lengket itu menggelayuti sepatuku. Ah, lebih enak kulepas sepatu.. ‎

(22)

Aku masih punya air minum… Lumayan untuk melegakan tenggorokan, walau perut sebenarnya belum terisi sejak kemarin… Berharap ada mobil lain lewat sepertinya hil yang mustahal. Ini hari Minggu, pekerja logging pada libur. Sang sopir sudah jalan naik-turun bukit mencari bantuan. Teman satu lagi memilih tidur lagi.

Kucoba jalan ke tempat lebih tinggi siapa tahu ada sinyal. Berjalan terseok-seok karena lumpur lengket dan licin, padahal sudah lepas sepatu. ‎

(23)

Aha…dapat sinyal. Beberapa SMS berhasil kukirim keluar. Tapi untuk kirim status ke Facebook rupanya masih sulit, sementara baterei harus kuhemat.

Menikmati suasana pagi di jalan hutan. Bening tetes embun di dedaunan dan kuncup bunga warna ungu. Matahari masih samar terhalang awan, padahal sudah sepenggalah tingginya. Pucuk daun warna merah bata tampak kontras di antara hijau dedaunan. Aku berjalan turun kembali ke mobil…

(24)

Duduk nangkring di pintu bak belakang mobil, membunuh waktu menanti pertolongan, sambil menulis cersta Facebook yang baru dapat dikirim setelah nanti ketemu sinyal (mau duduk di tanah, berlumpur).

Tiba-tiba pandanganku tertuju ke bawah pada genangan air di belakang mobil. Kulihat seekor semut hutan yang panjang tubuhnya sekitar 1,5 cm, sedang berenang di tengah genangan air. Keenam kakinya menggapai-gapai seperti sedang berjuang agar tidak tenggelam. ‎

(25)

Kuperhatikan semut hitam itu dengan seksama. Kutunggu 5 menit, 10 menit, 15 menit.., masih juga tidak beranjak dari posisinya semula. Tak juga berhasil menggapai tepian genangan. Entah bagaimana semut itu bisa terjebak dalam genangan.

Akhirnya aku loncat turun, jongkok mendekati semut itu. Kuambil sepotong ranting, kuangkat tubuh semut itu dengan ranting karena khawatir kalau menyengat dan kupindahkan ke atas bongkah tanah di tepi jalan.

(26)

Semut itu diam sesaat lalu cepat merangkak menjauh (kalau berjalan nanti dikira sirkus). Kupandang lekat-lekat semut itu. Dalam hati aku berkata dan memohon: “Tuhan, sungguh aku ikhlas membebaskan semut yang tak kukenal itu dari genangan air. Maka kalau apa yang kulakukan pagi ini dapat Engkau catat sebagai ibadahku, tolong ulurkan tanganMu agar aku pun segera lepas dari perangkap kubangan lumpur di hutan ini…”.

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: