Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (2)

(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan

(9)

Cuaca Tanjung Redeb siang ini panas sekali, padahal matahari sudah lewat condong ke barat. Segera saya tinggalkan kota Tanjung Redeb ke luar ke arah barat untuk menuju ke lokasi survey mblusuk ke hutan di kawasan bernama Sambarata.

Jarak tempuhnya sekitar 70-an km, tapi waktu tempuhnya bakal bisa 3-4 jam melintasi jalan tanah serta naik-turun perbukitan. Itu kalau cuaca tidak hujan. Kalau hujan? Nggak tahu, mungkin malah nggak bisa lewat…

(10)

Kata teman seperjalananku yang sudah lebih dahulu naik-turun ke lokasi survey, cuaca cerah bin panas ini karena hari Jum’at kemarin mulai cerah. Maksudnya? “Biasanya kalau Jum’atnya cerah, maka dua-tiga hari kemudian juga akan cerah”, katanya sambil cengengesan.

Anyway, bismillahi tawakkaltu ‘alallohu laa haula walaa quwwata illa billahi… Maka Allahlah sebaik-baik penjaga…

(11)

Namanya juga mblusuk ke hutan. Sekitar 5 km menyusuri jalan raya Tanjung Redeb – Tanjung Selor, menyimpang ke barat ke Jl. Birang (menuju kampung Birang). Jalan berbatu, bertanah merah, berkubangan lumpur, hanya pepohonan menghiasi, mobil pun terseok-seok, entah untuk berapa jam ke depan. Sinyal ponsel mulai putus-putus, sebentar pasti akan menghilang, habis…

Dan, cerita status ini pun akan terputus dan berlanjut esok, lusa atau esoknya lusa. Insya Allah.

(12)

Baru sekitar setengah jam perjalanan dari Tanjung Redeb, sekitar 25 km, mobil 4WD yang kutumpangi terperosok kubangan lumpur… Uuugh! Dicoba diatasi tak juga berhasil.

Sore semakin remang, senja pun lenyap, gelap hadir di tengah jalan hutan. Jam 19 masih tak berkutik. Beruntung cuaca begitu cerah, bintang bertaburan di angkasa. Namun geluduk terdengar di kejauhan. Hanya nyanyian serangga malam dan serangga-serangga kecil beterbangan menemani. ‎

(13)

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain mencari pertolongan. Pak sopir mencoba berjalan menuju bulldozer perusahaan logging, tapi sudah tidak ada orang.

Mencoba berburu sinyal yang sesaat timbul, beribu saat tenggelam. Seorang teman mencoba memanfaatkan yang sesaat itu untuk mencari bantuan. Berharap bantuan datang, jam berapapun adanya. Sambil harap-harap cemas agar tidak keburu hujan. Jika terlambat, maka bantuan pun tak akan bisa menuju. ‎

(14)

Terperosoknya mobil yang kutumpangi ini sesungguhnya bukan karena semata-mata kondisi alam, tapi lebih disebabkan kecerobohan sang sopir. Sebab mestinya masih ada bagian jalan yang bisa dipilih untuk menghindari kubangan. Entah kenapa sang sopir pede sekali menerabas kubangan. Maka sang sopir dan teman satu lagi saling menyalahkan dan berbantahan. Walau dalam nuansa guyon, tapi terdengar getir di telinga. Toh, sudah terjadi… ‎

(15)

Semakin malam, gelap gulita. Ada mendung berjalan-jalan di langit, menutupi taburan gemintang. Semoga tidak kebelet mampir. Biar melanjutkan perjalanannya di atas sana…

Sang sopir yang kelelahan tidur terkapar di tanah. Lagu-lagi ndang-ndut muncrat dari HP-nya. Teman lain membuat perapian dengan membakar ranting kayu kering. Cahaya api menyibak gelapnya malam. Hanya ketika berada dalam kegelapan maka kita akan tahu artinya setitik cahaya. ‎

(16)

Jam 21 malam bantuan yang ditunggu tidak juga datang. Geluduk dan kilat bersahutan di batas cakrawala. Betapa bodohnya aku ini. Kenapa tadi mampir membeli bekal minum tapi tidak sekalian membeli sekedar makanan.

Mestinya, walau sedang tak berdaya di hutan, malam ini bisa menjadi sebuah pesta kecil, sambil tepekur bermalam Minggu di depan perapian. Bermusikkan nyanyian serangga malam dan geluduk, berpencahayaan kilat yang memantik di angkasa… ‎

(17)

Tiba-tiba teringat, aku belum sholat maghrib dan isya… Haruskah kulakukan sekarang? Air entah ada dimana. Atau nunggu nanti saja kalau sampai di lokasi yang layak? Tapi cukupkah kesempatannya? Tidak tahu jam berapa akan sampai. Atau absen dulu? Toh Tuhan pasti “maklum” dengan sikon yang sedang saya hadapi.

Tapi keputusanku adalah memanfaatkan segala fasilitas yang ada: tayamum, jama’-qoshor, di atas tanah terbuka, masih pakai sepatu, kira-kira menghadap kiblat… ‎

(18)

Jam 21:30 gerimis benar-benar turun dan menjadi hujan. Kami tinggalkan perapian lalu masuk mobil. Setengah jam kemudian gerimis reda. Sopir dan seorang teman mencoba lagi menangani mobil, menggali, mendongkrak, men-start, dalam gelap, tanpa hasil. Aku yang pegang senter. Hanya bisa setengah jam saja hingga gerimis kembali membesar.

Tipis harapan ada bantuan, semakin malam dan hujan. Tanpa komando kami masuk mobil, tidak lama kemudian semua terlelap… ‎

(19)

Bermalam di mobil adalah pilihan terbaik. Aku berusaha tidur senyaman mungkin di jok depan. Kubayangkan sama seperti ketika harus tidur di kereta malam, bis malam atau pesawat terbang malam.

Bukan sesuatu yang luar biasa. Yang luar biasa adalah, dan ini bagian menariknya, perut lapar tapi tidak membawa bekal… Untung masih ada air. Duduk leyehan di dalam mobil, membayangkan makan sego kucing dua bungkus dan teh jahe gula batu. ‎

(Sabtu, 26 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: