Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (13)

(13) Antara Petuah, Doa Dan Kerja Keras

(85)

Perjalanan saya ke pedalaman Berau, Kaltim, kali ini untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di sana, kenapa pekerjaan pemboran sepertinya banyak kendala.

Ketika saya ketemu dengan seorang ibu di Tanjung Redeb yang selama ini banyak berperan membantu transit alat dan crew sebelum menuju lokasi kerja, beliau memberitahu: “Saya juga sudah minta seorang Kyai untuk mendoakan”.

Ini dia..! “Pasti ada yang menarik”, kataku dalam hati. Mulailah naluri ingin tahuku bekerja. ‎

(86)

Si ibu itu bercerita bahwa sebelum didoakan oleh Kyai yang sengaja diundang ke rumahnya, dia diminta menyiapkan air putih, beras kuning dan kembang.

Hmmm, acara “Realigi van Berau” segera dimulai… Beberapa orang hadir, lalu pak Kyai yang juga tetua di situ komat-kamit berdoa. Selanjutnya air, beras kuning dan kembang ditebar di seputar kawasan lokasi kerja. Dan, itulah yang ternyata memang benar-benar dilakukan… ‎

(87)

Masih tutur si ibu. Ada petuah yang perlu diperhatikan. Ketika beraktifitas di sungai jangan menghadap melawan arus karena berkonotasi menantang alam, juga jangan menginjak batas antara muka air dengan daratan. Ketika masuk hutan, ambil sebatang kayu lalu tancapkan terbalik agar tidak tersesat dan hilang arah. Terakhir (ini yang paling kusuka), bersikap sok akrab dengan pohon besar, misalnya berkata: “Eh, pohon ini sudah besar padahal dulu masih kecil”. Sukkaa..! ‎

(88)

Belum cukup rupanya. Masih ada satu “senjata” lagi, yaitu kayu anti racun. Ketika keracunan entah oleh ulah manusia, tumbuhan atau binatang, kunyah-kunyahlah potongan kecil kayu itu, telan airnya (kalau yang ini lebih masuk akal).

Air kayu itu akan menetralkan racun dalam tubuh. Kayu itu berasal dari masyarakat Dayak pedalaman. Saya memiliki sepotong kecil kayu itu yang saya peroleh waktu berkunjung ke Binai, Bulungan, Kaltim, tiga bulan yll. ‎

(89)

Saya sendiri tidak tahu nama pohon dari kayu anti racun itu. Ada yang menyebutnya tanaman akar seribu. Berdiameter sekitar 1-1,5 cm, nampaknya seperti tanaman menjalar.

Konon, kalau ditelan airnya akan dapat menetralkan rasa minuman apapun. Penasaran kucoba, terasa seperti ada menthol-nya. Mungkin taste menthol itulah yang menyebabkan rasa lainnya menjadi “seperti” netral. Nyatanya, nyruput kopi ya masih woenaaak dengan sensasi theng-nya tuh… ‎

(90)

Pertanyaannya adalah: apakah setelah dipanggilkan pak Kyai deng segenap ubo rampe, petuah dan doanya itu lalu pekerjaan jadi lancar tanpa kendala? Tentu saja tidak, selama belum dilakukan tindakan apapun untuk mengatasi kendala yang ada.

Yang pasti, kami dan tim sedang bekerja keras mengatasinya. Maka insya Allah, secara bertahap berbagai kendala akan dapat diatasi. “Bi-idznillah… Cukup Allah yang menjadi wakilku…”. Amin.

(Kamis, 31 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: