Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (12)

(12) Terpaksa Bermalam Di Bedeng Dekat Dermaga

(78)

Malam ini, jam 21 WITA akhirnya saya meninggalkan camp untuk keluar dari hutan. Setidak-tidaknya saya berusaha sampai di Logpond, dermaga sungai Segah.

Jika masih dimungkinkan saya ingin melanjutkan perjalanan malam menyeberang ke hilir sungai Segah menuju Tanjung Redeb dengan naik ketinting. Sangat berharap mudah-mudahan besok bisa mendapatkan tiket pesawat kembali ke Jogja.

(79)

Mumpung cuaca malam ini masih bagus, pak Dading yang orang Bugis, sopir sekaligus teman seperjalananku siap membawaku keluar dari hutan.

Kondisi jalan cukup bagus setelah seharian tadi cuaca panas. Bagus dalam arti sebagian lumpur mengering sehingga diperkirakan tidak akan memerangkap mobil 4WD yang kami naiki, sebab ada penggal jalan sekitar 20 km yang ketika habis hujan kondisinya bisa sangat parah.

(Kamis, 31 Maret 2011)

(80)

Setengah dari perjalanan keluar hutan yang kulakukan tadi malam diwarnai dengan hujan deras. Laju kendaraan pun agak dikurangi. Menjelang tengah malam, akhirnya tiba di dermaga sungai di Logpond.

Rencananya mau langsung naik ketinting menyeberang ke hilir sungai Segah menuju Tanjung Redeb. Pak Dading, sopir teman seperjalananku beberapa kali menghubungi tukang ketinting yang biasa disewa, tapi tidak ada jawaban. Mungkin sudah tidur. Sedang hujan kembali turun.

(81)

Ditunggu hingga jam 1 dini hari tak juga ada jawaban dari tukang ketinting. Hujan masih mengguyur. Listrik sudah dipadamkan sejak jam 12 malam. Akhirnya kami putuskan tidur di bedeng dekat dermaga sungai.

Bedeng ini sebenarnya tempat penjaga dermaga biasa mangkal. Bukan dermaga umum tapi milik perusahaan pengelola hutan yang sekarang dipakai siapa saja. Kalau malam bedeng ini kosong. Disitulah aku tidur…

(82)

Masalahnya saat hujan deras bedeng ini pada bocor, menyisakan sedikit bagian saja yang bebas dari bocor. Dalam gelap, basah karena bocor, banyak nyamuk, langsung saja saya menggeletak di lantai kayu bedeng yang bentuknya seperti rumah panggung. Tidak kuperhatikan lagi seperti apa bersih atau kotornya lantai kayu itu.

Tidak bisa lelap tidur. Susah sekali menemukan PW (posisi woenak…) untuk tidur. Saya hanya mampu menyelesaikan kurang dari dua jam tidur.

(83)

Sekitar jam 3 saya terbangun, setelah itu susah untuk benar-benar tidur lagi hingga subuh. Kucoba telentang, miring kanan, miring kiri, tidak bisa tidur juga. Tengkurap saja yang tidak kucoba karena saya tahu lantainya kotor dan pasti itu posisi yang tidak woenak.., tengkurap di atas kayu tanpa alas dan bantal.

Terdengar bunyi ketinting tanda orang-orang mulai aktifitas pagi, termasuk orang-orang yang datang-pergi keluar-masuk bilik kecil ukuran 1 m x 1 m di tepi sungai.

(84)

Tidak lama setelah pagi makin terang namun mendung masih setia setiap pagi menyelimuti Berau, pak Jacobus si penjaga bedeng datang. Segera menjerang air untuk keperluannya sendiri seperti biasa dilakukannya. Dalam hati aku berharap, semoga ada dilebihkan airnya untukku juga.

Ternyata benar. Pak Jacobus mempersilakan untuk membikin minum kopi atau teh sendiri. Hmmm…, makin cerah saja mata ini walau kurang tidur…

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: