Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (10)

(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal

(66)

Lokasi survey yang jalannya berlumpur dan berlempung lengket pada lintasan yang mendaki dan menurun sering membuat repot. Kalau pun ada kendaraan 4WD sering juga tidak mampu saking buruknya jalan. Kalau sudah begitu, terpaksa berjalan kaki.

Hmmm.., maka pagi itu saya tempuh juga lintasan 12 km pergi-pulang termasuk menerabas hutan, naik-turun lereng licin, nyebrang kali, plus bonus disruput pacet, si binatang kecil yang suka minta donor darah kotor. ‎

(67)

Menempuh lintasan 12 km dengan kondisi seperti saya ceritakan sebelumnya, memang bukan hal yang menyenangkan. Ada dua cara untuk membuatnya menjadi menyenangkan: jalani sebagai ibadah dan nikmati sebagai an adventure.

Seperti ketika sedang mendaki gunung, seberat dan sesulit apapun bila cita-cita untuk menggapai puncak sudah dipancangkan, maka semua yang terjadi di sepanjang perjalanan adalah bunga-bunga untuk dinikmati. Mengada-ada? Tanyakan kepada mereka yang suka mendaki gunung… ‎

(68)

Jangan pikirkan jauh dan capeknya, tapi coba hirup dan nikmati bau hutan basah oleh embun pagi atau tanah lempung becek habis hujan… Di sana ada sensasi alami yang ngangeni (menimbulkan rasa kangen).

Saya memahami, bagi sebagian orang kata-kata itu hanya ada di buku kumpulan puisi. Tapi bagi sebagian orang lainnya, itu nyata. Tanyakan kepada mereka yang suka blusukan ke hutan, dimana hutan menjadi bagian dari hidupnya…

(69)

Di tengah hutan ada sebuah tempat yang elevasinya lebih tinggi. Orang-orang suka beristirahat di situ karena lokasi itu rupanya satu-satunya lokasi yang dijumpai sering disambangi sinyal. Dan orang-orang pun menyebutnya gunung sinyal.

Tapi harus pandai-pandai menangkap sinyal yang singgah. Sekali waktu sinyal datang, tapi setiap kali HP goyang sedikit saja sang sinyal pun kabur. Aha.., untuk menangkap sinyal yang datang, orang-orang itu punya cara rupanya. ‎

(70)

Apa akal? HP dimasukkan kantong plastik, lalu digantungkan di ranting pohon yang ada. Diamkan beberapa saat sambil ditunggu dan dilihat layar HP-nya sehingga ketahuan ketika ada sinyal.

Kalau mau kirim SMS, tulis dulu pesannya, sehingga nanti tinggal klik kirim. Kalau mau telpun sebaiknya gunakan head set, sehingga nanti tinggal pencet tombol OK. Maka sinyal pun nyaman singgah di HP tanpa terganggu goyangan….

(71)

Cara menangkap sinyal — HP dimasukkan kantong plastik, lalu dibiarkan digantung di cabang pohon agar tidak goyang-goyang, lalu tunggu sampai sang sinyal datang. Di lokasi dimana sinyal sulit ditemukan, seperti di hutan misalnya, sinyal tidak suka dengan goyangan, apapun jenis goyangnya… ‎

(72)

Begitulah cara orang-orang yang sedang melintas di hutan itu berkomunikasi keluar. Mereka akan memanfaatkan waktu istirahat di bukit sinyal yang jaraknya sekitar 5 km dari camp.

Ketika mereka kembali ke camp waktu sore, mereka merasa terisolir lagi. Sinyal terdekat ada di gunung kapur (sebutan salah kaprah untuk sebuah lokasi yang warna tanahnya putih seperti kapur), jaraknya sekitar 15 km. Hanya bisa ditempuh saat cuaca bagus. Huuhh..! ‎

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: