Archive for April 10th, 2011

Celana Kolor Saerah

10 April 2011

(1)

Di lorong pintu utama pasar Legi Kotagede, Jogja, ada penjual celana. Coraknya kotak-kotak warna gelap. Penjualnya teriak-teriak: “Saerah, saerah…”. Rupanya singkatan dari sae tur murah (bagus lagi murah).

Ini celana model 3/4, seperti bis kota. Bukan pendek, bukan panjang. Harga? Rp 5000,- (harree gene..). Rupanya terbuat dari sambungan sisa-sisa kain perca satu pola-warna (gelap). Sambung-menyambung menjadi satu, itulah celana saerah…

(2)

Ketika saya bilang membeli celana kolor, ya celana saerah inilah. Made in Solo. Lumayan untuk di rumah. Walau dari sisa kain perca, tapi kain yang bagus.

Si penjual berpesan: “Kalau sudah kotor jangan dicuci pak”.
Kutanya lugu: “Kenapa?” (sambil mengernyit mungkin ada keunggulan dari bahannya).
Jawab penjualnya enteng: “Dibuang saja, nanti beli lagi kesini. Anggap saja bapak beli semangkuk mie ayam, kalau habis ya sudah…”. Wooo, dassarrr..!

(3)

Celana saerah alias sae tur murah (bagus lagi murah), di pasar Kotagede, Jogja. Warna dan coraknya menarik, harganya myurah @Rp 5.000,-/potong. Menilik bahannya, untuk dipakai di rumah bisa bertahan 2-3 tahun.

Jika minat, silakan datang sendiri ke pasar Legi Kotagede atau pasar Klewer Solo… (Jangan hubungi saya, nanti saya hargai Rp 25.000/potong, yang Rp 20.000 untuk ongkos nulis di Facebook…).

Yogyakarta, 22 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Tempe Garit

10 April 2011


Di pasar Legi Kotagede, Jogja yang Istimewa… Ada bawang merah, bawang putih, cabe keriting, tomat sayur, jeruk nipis, cabe rawit, dan tempe bungkus… Ya ini..! Yang terakhir ini kalau digoreng lalu dimakan fanas-fanas (saking panasnya) saat cuaca hujan, dengan judul tempe garit… Berapapun banyaknya, buablasss…

Yogyakata, 22 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Gurihnya Ikan Wader

10 April 2011

(1)

Ikan wader (di Jabar disebut beunteur, daerah lain punya nama beda), ikan kali ukuran 1-2 jari. Harga agak mahal karena mencarinya tidak mudah. Jarang yang jual mentah. Ada yang dijual sudah matang, tapi coba bandingkan dengan ikan wader yang masih segar lalu digoreng sendiri.

Hmmm.., kress, kriuuk dan gurihnya ngedab-edabi (ruar biasa). Kalau beli yang sudah digoreng biasanya sudah lembek dan hilang krispinya. Lebih nikmat kalau digoreng lagi di rumah.

(Note: Seorang teman bercerita, di Sumsel dan Lampung dikenal dengan nama seluwang. Di Sumbar dikenal dengan nama bilih singkarak)

‎(2)

Untuk mendapatkan wader segar, pagi-pagi habis subuh saya mruput pergi ke depan Kantor Pos pasar Kotagede, Jogja. Di sana ada seorang ibu asal kecamatan Srandakan, Bantul, yang setiap pagi menjual ikan wader dari kali Progo.

Ibu ini biasa memasok warung-warung makan yang sedia menu wader. Harganya Rp 16.000,-/kg (yang matang bisa dua kali lipat). Sang penjual bersedia mbetheti (membuang isi perutnya). Mudah, tinggal pencet, keluar semua isi perut ikan-ikan kecil itu.

‎(3)

Membersihkan wader yang sudah dibetheti juga mudah. Cemplungkan ke ember kecil, diopyok-opyok (tidak usah pakai sabun…), bilas beberapa kali.

Siapkan ketumbar dan garam yang dilumat halus, campurkan, tunggu beberapa waktu biar bumbunya meresap. Lebih baik kalau dibalut tipis dengan larutan tepung encer saja, agar waktu digoreng dagingnya yang memang sedikit itu tidak rontok. Digoreng kering… Uuuuhh, renyah dan gurihnya minta ampyuuuun…

Yogyakata, 21-22 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Buntil

10 April 2011

Suguhan makan siang acara pertemuan pensiunan. Pilihan menu harus “ramah pensiunan” (cocok untuk manusia usia lebih setengah abad). Sayur asam, buntil daun pepaya, tahu bacem, tempe goreng, ikan wader, lalapan.

Apakah buntil itu?
Buntil adalah masakan yang kalau dimakan sebuah saja akan mampu menghabiskan dua piring nasi hangat zonder perlu asesori lain, dan masih pingin nambah kalau saja kapasitas waduk memungkinkan…

Yogyakata, 21 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Ke Pasar Sentul

10 April 2011

Malam Minggu…
Hujan, angin, kilat, geluduk, langit gelap, sejak sore.
Bulan sembunyi hingga tengah malam.
Jelang fajar bulan super bundar penuh.
Menyapa orang-orang terlelap.
Terlambat berjama’ah subuh.

Merenungi surat Yasin 39.
Fajar masih gelap.
Sisa purnama super di dinding barat, mengantar saya dan istri masuk pasar Sentul. Beli jajan pasar.
Seharian sibuk punya gawe pertemuan.
Kelelahan.
Leyehan.
Ngantuk.
Ngupi.
Kliyengan tak lagi…

Yogyakata, 19 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Ke Pasar Kota Gede

10 April 2011


Malam Sabtu…
Menikmati purnama di atas kepala.
Gagal tidur awal, jam 2 dini hari baru leesss…
Bangun jam 4 mencari rembulan, ternyata sudah sembunyi di ufuk barat.

Merenungi surat Ali Imran 199.
Bertahajud.
Berjama’ah subuh di masjid.
Bersepeda motor ke pasar Legi Kotagede dengan istri, fajar masih gelap. Beli ikan, daging, sayur, buah, jajanan dan celana kolor.
Mbetheti (ngoprek-oprek) ikan wader.
Ngupi.
Ngantuk.
Kliyengan…

Yogyakata, 19 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Bolu Kukus Ubi Ungu

10 April 2011

Ada yang menarik perhatianku ketika pagi-pagi masuk pasar tradisional di Kotagede, yaitu bolu kukus ubi ungu. Beli di pasar Legi Kotagede, Jogja. Sebuah inovasi jajan pasar yang cara pembuatannya sederhana, kandungan gizinya menyehatkan dan warnanya menggairahkan…

Yogyakata, 17 Maret 2011
Yusuf Iskandar