Archive for April 8th, 2011

Soto “Mas Bero” Jl. Veteran Jogja

8 April 2011

Semangkuk soto “Mas Bero” ditambah jerohan goreng… Di seberang timur RS Hidayatullah, Jl. Veteran, Yogyakarta.

Yogyakarta, 17 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Ketika Bumi Muter-muter Dan Kepala Kliyengan

8 April 2011

Pengantar:

Berikut ini kumpulan catatan pengalaman saya ketika tiba-tiba terserang vertigo untuk pertama kali sepanjang hidup lebih setengah abad. Catatan ini secara berseri saya tulis sebagai cersta (cerita status) di Facebook pada tanggal 12-18 Maret 2011. Semoga ada manfaatnya, setidak-tidaknya menjadi bacaan selingan yang menghibur…

***

(1)

Hari Minggu kali ini diisi dengan berkebun tanaman hias di belakang toko di Madurejo, Sleman, DIY. Bercocok tanam bagi manusia setengah abad yang tidak biasa, sungguh bukan pekerjaan ringan. Padahal ya cuma gali-gali tanah lalu menanam di bawah mentari siang hingga sore.

Tapi rupanya pekerjaan yang dulu begitu enteng dilakukan, kini terasa sangat menguras energi. Usia memang tidak bisa dibohongi, tapi kok ya inginnya “berbohong” terus…

(2)

Enaknya kalau punya “boss” baik hati, tidak sombong, suka menabung, dan (tidak seberapa) rajin belajar… Tahu sopirnya kecapekan habis berkebun di belakang toko, sebagai wujud “boss” yang bertanggung jawab, pulangnya mampir warung sate kambing “Pak Tarno” di Jl. Prambanan-Piyungan yang dagingnya empuk karena dijamin kambing muda.

Tapi untuk urusan capek, “boss” saya lari dari tanggung jawab. “Panggil saja tukang pijit langganan itu…”. Huuu…

(Note: Yang saya maksud “boss” adalah ibunya anak-anak yang semakin enjoy ngurus toko).

(3)

Bangun pagi badan terasa kaku, pegel, sakit semua, dampak dari berkebun kemarin. Uugh..! Faktor “U” (usia) terbukti bekerja sesuai kodratnya. Pertanyaannya: Kenapa harus dikerjakan sendiri? Itulah soal yang sulit saya pungkiri jawabnya.

Ada kenikmatan dan keasyikan tersendiri saat adrenalin meningkat dan ada desir darah ketika faktor “G” (gairah) memuncak dengan berkebun sendiri. Tinggal mencari rumus yang pas antara kedua faktor itu.

(4)

Ternyata soal tidak seimbangnya faktor U & G bukan guyonan semata. Setelah Minggu siang menguras energi dengan berkebun di bawah terik matahari hingga sore, lalu makan sate dan gule kambing habis dua piring nasi, Senin terasa ada yang aneh dengan tubuh setengah abad ini.

Senin malam tidak nyenyak tidur karena kepala kliyengan, memandang dunia seolah berputar (ya memang bumi berputar pada porosnya). Tapi ini kok kamar tidur seisinya ikut berputar…

(5)

Lewat tengah malam saya terbangun kepingin pipis. Tapi rupanya seisi kamarku masih berputar. Untuk duduk pun sulit. Kupaksa berdiri, hampir jatuh, hilang keseimbang, akhirnya duduk lagi dan kembali terbaring. Waduh.., ada apa denganku?

Kuusahakan memejamkan mata untuk tidur lagi. Tapi bumi seperti benar-benar melayang dan berputar. Ada sedikit rasa nikmat seperti sedang fly (padahal seingatku fly tidak seperti itu…). Uuugh.., tiba-tiba aku merasa tak berdaya.

(6)

Sesaat kemudian aku terlelap. Hanya sebentar, karena terbangun lagi dan masih ingin pipis. Kali ini kupaksakan bertahan duduk walau dunia kamarku tetap berputar. Aku menang, kamarku kelelahan berputar. Kucoba berdiri, sempoyongan menuju kamar mandi. Berpegangan pintu, hingga berhasil berdiri di depan lubang closet.

Walau kepala kliyengan, aku masih bisa mengarahkan kencingku ke lubangnya. Tak kupungkiri, sejenak aku merasa hebat…

(7)

Kucoba melanjutkan tidur, tapi kepala kliyengan tidak karuan. Telentang mata melek, kamar seperti kembali berputar. Kucoba mata merem, sejenak terasa nikmatnya serasa terbang melayang, tapi lama-lama semua pun berputar. Ada apa denganku?

Aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Kepala tidak pusing, hanya kliyengan. Perut terasa mual mau muntah. “Harus bertahan”, kata hatiku. Dini hari, serasa sendirian, bergulat dengan rasa cemas yang sangat…

(8)

Cemas… Ya, tak kupungkiri itu kurasakan. Sempat berpikir buruk, jangan-jangan ini adalah penghujung perjalanan hidupku. Kutengok ibunya anak-anak di sebelahku lelap tidur. Mau kubangunkan, takut dia panik lalu memaksa ke RS (wah, orang lain enak tidur, aku malah ke RS…).

Kutahan dulu. Kliyengan semakin menjadi-jadi, mual tak tertahankan, mau bangkit tidak bisa, selalu terhuyung-huyung, akhirnya nggeblak lagi… Hanya dzikir dan salawat menyertai.

(9)

Saat hendak sholat subuh, benar-benar kupaksakan untuk berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Semua saya lakukan dalam adegan lambat.

Haha…, sholat subuh pun tertunaikan dalam adegan lambat. Karena ingin menikmati sensasinya, sengaja aku tidak memanfaatkan fasilitas sholat sambil berbaring. Habis itu nggeblak lagi… Dalam persepsi kepala dan panca inderaku, dunia benar-benar berputar tak terkendali.

(10)

Pagi datang menjelang. Segera ingat sahabat dokter di Jakarta yang ingin kuminta sarannya. Konsultasi saya lakukan via SMS agar tidak mengejutkan sahabat saya itu. (Haha.., kepala kliyengan tapi masih bisa nulis SMS, dunia berputar kecuali huruf-huruf di HP).

Dan kesimpulan sementara, saya kena vertigo. Beliau pun memberi tips-tips mengatasi kliyengan yang belakangan disebut namanya desensitisasi (Trims untuk dr. Nury Nusdwinuringtyas di Jakarta).

***

(11)

Pagi itu dr. Nury meminta saya melakukan latihan merem-melek. (Haha, saya sudah terbiasa, sukkaa… sekali melakukannya). Intinya: Buka-tutup mata berulang kali, memandang benda yang diyakini tidak bergerak, lalu mulai menggerakkan tubuh. Tetap mensugesti bahwa ruang tidak bergerak.

Jelasnya dalam SMS-nya: Tetap berbaring, buka mata, fokus pada satu benda. Kalau terasa berputar, merem lagi. Ketika terasa enak, buka mata lagi. Begitu berulang-ulang…

(12)

Ada perasaan lega setelah mendengar pandangan awal dr. Nury bahwa yang saya alami malam itu adalah vertigo. Setidak-tidaknya saya tahu apa yang sedang terjadi. Walau saya tetap merencana hari itu mau ke Rumah Sakit untuk konsultasi langsung dengan dokter. Dengan tahu apa yang terjadi, maka masalah menjadi lebih mudah diatasi.

Seringkali kita ini tidak tahu apa yang harus dilakukan bahkan kadang-kadang salah bertindak, karena kurang pandai mengidentifikasi apa yang sesungguhnya sedang terjadi…

(13)

Setelah lebih yakin dengan apa yang terjadi pagi itu, saya baru cerita kepada istri. Namun responnya di luar dugaan yang semula saya pikir dia akan terkejut. Eee, malah dengan enteng berkata: “Itu karena sampeyan kecapekan tapi tidak pernah dirasa…”.

Uugh… “Terus gimana?”, pancingku.
“Sini tak kerokin…”, jawabnya.
Weleh.., lha istriku kok lebih sakti, kataku dalam hati. Akhirnya kuturuti juga. Kusodorkan punggungku, siap kerokan…

(14)

Benar juga. Belum selesai kerokan, saya sudah bersendawa beberapa kali. Perut pun terasa makin lega. Rasa mual yang semalam terasa mendesak mau muntah jadi makin hilang. Tapi rasa kliyengan masih ada walau tidak separah semalam.
“Sana berjemur biar keringatan”, kata istriku santai.

Uuugh… Aku pun berjemur seperti bayi cuma tidak telanjang, hanya tanpa baju, di depan rumah di bawah sinar matahari pagi. Nyaman terasa di badan…

(15)

Pagi itu saya pergi ke Rumah Sakit tidak jauh dari rumah. Merasa kondisi badan lebih enak, saya naik sepeda. Saya perlu konsultasi dengan dokter tentang apa yang saya alami malam sebelumnya.

Tensiku 110/70. “Normal”, kata dokter yang kemudian juga berkata saya kena vertigo. Lalu diberinya aku resep obat untuk diminum tiga hari.

Keluar dari ruang dokter tiba-tiba kepalaku kliyengan. Segera saya berhenti berpegangan kursi ruang tunggu sampai kondisiku stabil.

(16)

Saya menuju ke bagian Farmasi, resep obat kuberikan. Petugas Farmasi kemudian memberitahu total harganya Rp 119.000,- Tiba-tiba saya diam tercenung. Saya lupa tanya dokternya, ini obat apa? Tapi petugas itu malah berkata: “Diambil setengah dulu boleh kok pak. Masing-masing untuk obat mual dan pusing”.

Pikiran luguku mulai bekerja. Saya sudah tidak mual dan dari semalam juga tidak pusing. Kalau begitu untuk apa minum obat? Lalu kataku: “Obatnya tidak jadi saya ambil sekarang…”.

(17)

Pulang dari RS perasaan terasa lebih lega karena dua dokter telah mengkonfirmasi tentang serangan vertigo. Setidak-tidaknya itu bukan serangan yang secara “historis” mematikan (kecuali sambil dipukuli kepalanya).

Bersepeda santai meninggalkan RS. Lha kok ndilalah, di seberang jalan, mataku tertuju pada sebuah warung soto. Haha.., jangan-jangan vertigo menyerang karena sebulan ini saya tidak nyoto… Dan, sepedaku seperti otomatis belok menuju warung.

(18)

Warung itu warung soto ayam komboran “Mas Bero”. Sejenak lupa dengan kliyengan saat nyruput soto panas wal-pedas, ditambah jerohan goreng. Nyemmm…

Sedang enak-enaknya menikmati soto, datang SMS dari istri: “Gimana keadaan sekarang? Ada perubahan? Sudah lebih enak?”.

Kujawab: “Alhmdulillah. Woenak banget. Aku lagi nyoto…”.

Lalu pesannya: “Yo wis. Maem yang banyak biar cepat sembuh”. Haha.., terpaksa sotonya nambah, seperti pesan istriku.

***

(19)

Lha wong kepala masih kliyengan kok ya kepingin makan tempe goreng sambal bawang. Terpaksa menggoreng sendiri. Gak tahu kenapa tiba-tiba jempolku mak nyosss menyentuh tempe puanas yang baru mentas dari pnggorengan.

Segera ingat daun binahong. Ya, itu daun sakti mandraguna. Dipetik, diremas, ditempel… Kurang dari sehari kulit tidak melepuh, tidak sakit, langsung kering, menyisakan batas lepuhan yang tidak jadi..

(20)

Setiap kali kliyengan timbul, dunia seperti berputar, segera saya lakukan desensitisasi dengan cara merem-melek. Kejadiannya mirip ketika naik kereta api berhenti di stasiun. Ketika lewat kereta lain, sepertinya gerbong kita yang jalan. Baru sadar ketika kemudian terlihat stasiun masih mbegogok (nongkrong) di seberang rel.

Maka ketika kliyengan tiba, lakukan sugesti diri bahwa bukan kita berputar. Berulang-ulang, karena masih ada kereta yang akan lewat…

(21)

Ketika tengah malam itu kepalaku kliyengan nggak karuan dan semua seperti muter, prasangka pertama sebelum tahu bahwa itu vertigo, saya menduga aliran darah ke otak tidak lancar. Maka yang kulakukan adalah memindahkan bantal dari kepala ke kaki sehingga posisi kepala lebih rendah.

Rupanya cukup membantu membuat lebih nyaman. Tentu saja yang saya lakukan itu bukan mengobati. Pada kesempatan pertama setelah itu baiknya tetap temui ahlinya (dokter).

(22)

Beberapa tips diberikan oleh beberapa rekan terkait vertigo (trims banyak). Seperti tips saat kliyengan, berusaha duduk lalu menunduk mencium lutut. Atau makan tomat dicampur sedikit gula.

Tentang tomat ini (konon) punya khasiat lain. Bagi pria dapat mencegah penyakit prostat. Juga untuk mengurangi kegemukan atau peyyut buncit jika rajin makan tumat sebagai menu terakhir sebelum bubu malam… Kalau pun ini salah, maka yakinlah tomat itu woenak…

(23)

Akhirnya, mengakhiri dongeng tentang “Si Vertigo”… Dalam kasus yang saya alami, Si Vertigo datang karena faktor G (gairah alias semangat beraktifitas) yang tak seimbang dengan faktor U (umur) pada saat bioritme fisik sedang di bawah.

Yang harus saya lakukan setelah serangan awal adalah banyak istirahat, memulihkan kondisi fisik. Tapi harus hati-hati, sebab kelamaan istirahat jadi nglangut (mengawang-awang) yang bisa berakibat munculnya faktor M (melamun)…

Yogyakarta, 12-18 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Antara Rindu Dan Mati Rasa

8 April 2011

‎”Jangan biasakan rindu kepada seseorang, kau jadi mati rasa”, kata Roy Nolan kepada Dr. Zach Nolan anaknya (film “10,5” sutradara John Lafia)

Yogyakarta, 16 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Mampir Membeli Gule Kambing

8 April 2011

Kalau sedang malas masak di rumah, ibunya anak-anak pulang dari toko suka mampir dulu ke warung membeli gule kambing untuk dibawa pulang. Tapi sore tadi kulihat gule yang dibawa kok banyak sekali, tidak seperti biasanya.

“Kok beli gulenya banyak banget?”, tanyaku.
“Tadi sambil melayani pesananku, yang jual kuajak ngomong terus…”, jelasnya.
Maka lalu kusarankan: “Lain kali kalau mau beli lagi, coba siapkan bahan omongan yang lebih banyak dan menarik”.

Yogyakarta, 15 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Sambil Makan Rujak

8 April 2011

Meng-input data sambil makan rujak… Jangan meniru adegan ini (hanya dilakukan oleh yang sudah terlatih, sebab kalau tidak, sambalnya ndlewer... kemana-mana…)

Yogyakarta, 14 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Kearifan Lokal dan “Zakenkabinet”

8 April 2011

Hari ini koran Kompas memuat artikel pendek tulisan Sri-Edi Swasono berjudul: Kearifan Lokal dan “Zakenkabinet”.

Artikel pendek cukup menggelitik, merefleksikan pangkal persoalan “kegagalan” presiden daripada Indonesia dlm membangun bangsa daripada Indonesia yang bertubi-tubi diterjang bencana betulan (ulah alam) dan bencana “jadi-jadian” (ulah manusia). Sulit tapi bisa…daripada…

Yogyakarta, 14 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Men-jama’-qashar Makan

8 April 2011

Kalau lagi di rumah saya jarang sarapan (yang pakai nasi). Lalu ketika siangnya saya juga tidak makan, seorang temanku heran.

Sebenarnya bukan tidak makan, tapi saat pergantian pagi dan siang saya sudah menggabung-ringkas (jama’-qashar) seperti sholat, makan pagi dan siang sekaligus. Tapi belakangan saya menyesal. Harusnya cukup digabung (jama’) saja, jangan diringkas (qashar). Akibatnya menjelang sore perut sudah teriak minta diisi lagi. Haha.., gak mau rugi..!

Yogyakarta, 13 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Mencari Inspirasi Di Depan Toko

8 April 2011

Malming… Yang mau diapelin sudah duluan nggeblak tanpa pamit… Yo wisss, pergi ke toko nginput data barang-barang dagangan yang baru dikulak lalu nongkrong di depan toko seperti centeng, cari inspirasi… maksudnya inspirasi bagaimana menaikkan omset toko, sambil agak melamun (melamun kok agak)…

Yogyakarta, 12 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Bakpia 5555

8 April 2011

(1)

Pulang dari Glagaharjo di kaki tenggara Merapi kemarin sore, saya mampir ke gerai bakpia di dekat pasar Jambon, dusun Kejambon Kidul, desa Sindumartani, kecamatan Ngemplak, Sleman.

Saya tertarik karena tagline yang ditawarkan adalah “fresh oven” dan tampak penjualnya sedang memasak bakpia di depan gerai dengan beberapa orang berdiri di sekitarnya, seperti tukang gorengan yang sedang ditunggu pembelinya. “Pasti ada sesuatu yang beda dengan bakpianya”, pikirku.

(2)

Namanya Bakpia 5555 (karena kepanjangan, orang suka menyebutnya “bakpia lima lima” saja). Rasanya tidak jauh beda dengan bakpia Pathuk (berapapun nomornya) yang sudah melegenda.

Sedikit yang membedakan adalah bentuknya tidak dicetak, kulitnya kurang krispi tapi agak kenyal, dan selalu tersaji panas karena langsung bisa ditunggui dan dilihat prosesnya (kalau terlalu dekat bisa ikut kepanasan). ‎

(3)

Bakpia 5555 memberi tawaran aneka rasa yang berbeda. Rasa “standar” kumbu (berbahan kacang hijau) hitam dan putih tetap ada. Namun tawaran rasa ketela ungu dan ketela madu?

Wow…, begitu menggairahkan sensasi mak nyusss-nya. Itu baru rasanya. Harganya? Satu kotak kecil Rp 6.000,- @10 biji dan kotak besar Rp 12.000,- @20 biji. Isinya boleh kombinasi rasa campursari. Unbelievable..! (Sayangnya lokasinya rada ndeso…)

(4)

Baru sekitar dua tahunan bakpia 5555 memproklamirkan diri. Namun menilik banyak dan sibuknya pegawai yang semua perempuan, sepertinya citarasa bakpia 5555 sudah mengena di hati pelanggannya walau adanya agak jauh di pelosok utara Jogja.

Sudah memiliki satu cabang gerainya di kawasan Madurejo, Prambanan. Bagusnya bakpia ini mampu betahan 4-5 hari. Kalau disimpan di kulkas mungkin mampu bertahan lebih lama. Cocok untuk alternatif oleh-oleh.

(5)

Masih tentang bakpia… Kalau membeli bakpia, sampai rumah pasti sudah dingin, padahal rasa enaknya justru ketika masih panas. Termasuk kalau bakpia sudah disimpan di peti sejuk dan ingin disantap panas, caranya mudah.

Ambil bakpia lalu panaskan di oven atau microwave sebentar. Kalau di rumah hanya ada wajan dan kompor, olesi bakpia dengan mentega lalu panaskan di atas penggorengan. Sekedar alternatif untuk menikmati bakpia fresh oven… ‎

Yogyakarta, 12-13 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Kemaruk Klakson

8 April 2011

Perilaku tidak sopan yang menjengkelkan dari oknum penunggang sepeda motor saat berhenti di lampu merah adalah begitu lampu berubah hijau, langsung dari belakang membunyikan klakson sekeras-kerasnya (padahal biar dipencet kayak apa juga bunyinya ya tetap begitu). Kemaruk seperti anak kecil baru dapat mainan baru…

Maka pesannya adalah: jangan menambah jumlah orang tidak sopan yang sudah banyak berceceran di jalan… (Status ini saya tulis sambil kesal. Uuugh!!!)

Yogyakarta, 12 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Bunga Rumput Safari

8 April 2011

Seuntai bunga rumput safari yang tumbuh di lereng Merapi… (di desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DIY)

Sejoli rumput safari

Serumpun rumput safari

 

 

 

 

 

 

 

Yogyakarta, 11 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Sebungkus Getuk

8 April 2011

Getuk…asale seko telo (terbuat dari ketela), beli di pasar Sentul, Jogja.

Jum’at pagi-pagi, ibunya anak-anak mblandang (melaju) ke pasar Sentul Jogja. Pulang-pulang bawa dua bungkus gudangan (urap) dua macam, satu dengan sayur matang + tahu, satu lagi dengan sayur mentah + tempe. Ditambah sebungkus getuk. Apa boleh buat, terpaksa ketiga bungkusan itu bablass masuk tembolok…

Kuingat-ingat sepertinya saya belum sarapan, soalnya tadi belum makan nasi…

Yogyakarta, 10 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Mengupas Jeruk Bali

8 April 2011

Sudah lama tidak ngobrol dengan penjual buah itu. Tadi malam kusempatkan menyambangi. Pasokan jeruk bali (tapi dari Madiun) baru datang bergelundung-gelundung. Kuberikan uang Rp 10.000,- untuk segelundung jeruk bali dan minta tolong dikupaskan agar mudah makannya.

Haha.., rupanya si bapak kagok, tidak bisa ngupas. Kupasannya amburadul. Terpaksa di rumah kupotong seperti mengiris tomat dan kukupas lagi kulitnya. Rupanya ada keterampilan tersendiri yang tak kumiliki..

Yogyakarta, 10 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Sate Kambing “Taufik” Jl. Wonosari Jogja

8 April 2011

(1)

Kamis sore, menyusuri Jl. Wonosari. Jogja, nyopir sambil tolah-toleh cari warung makan. Sampai di timur perempatan Sampaan, Jl. Wonosari km10, ada warung sate yang belum pernah kuampiri. Judulnya: Warung sate kambing “Taufik” (jelas nama orang, yang punya).

Haha, nyattee lagee… Kalau saya nyate kambing, itu bukan karena ini malam Jum’at. Sebab untuk tadarus surat Yasin saya lebih perlu buku Qur’an ketimbang sate kambing… ‎

(2)

Tahun 1968, bu Sosro mulai merintis usaha warung sate. Ya di tempatnya yang sekarang itu. Setelah bu Sosro meninggal, kini pak Taufik anaknya yang melanjutkan bisnis persatean.

Masih juga di tempatnya yang sekarang, sebuah warung yang sangat bersahaja. Walau pilihan dagingnya tidak 100% empuk, tapi taste satenya mampu bertahan lebih dari empat dekade yang hingga kini paling tidak per hari masih mampu bertahan dengan satu K-A-M-B-I-N-G…. ‎

Yogyakarta, 10 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Penjaga Kedondong

8 April 2011

Penjaga buah kedondong di belakang toko saya di Madurejo, Prambanan, Jogja Istimewa. Pohon kedondong cangkok mulai berbuah banyak. Belalang coklat besar pun rajin menyambangi menetaskan ulat asu (karena besarnya “seanjing”) warna hijau…

Yogyakarta, 9 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Memanfaatkan Fasilitas

8 April 2011

Saat waktu ashar tiba, saya pasti sedang berada di angkasa antara Jakarta dan Jogja (kemarin sore). Mestinya dzuhur bisa saya sempurnakan di Jakarta dan ashar di Jogja. Tapi saya memilih untuk menggabung-ringkas (jama’-qashar) saat di Jakarta. Bukan karena mau enaknya, melainkan agar tidak “dianggap” sombong sebagai tanda apresiasi kepada Sang Pemberi Fasilitas. Diberi kemudahan, ya dimanfaatkan…

Yogyakarta, 9 Maret 2011
Yusuf Iskandar