Yang Tak Berdaya Dan Yang Peduli

Tulisan berikut ini adalah kumpulan dari cerita status (cersta) yang saya tulis di Facebook.

***

Beberapa hari terakhir ini saya menerima amanah berupa barang dan transferan dana dari beberapa sahabat yang minta disalurkan untuk korban Merapi, erupsi maupun lahar dingin. Mereka minta untuk tidak disebutkan namanya. Haha.., terpaksa harus kupenuhi.

(Sebenarnya kalau selama ini saya menyebut nama itu bukan untuk pamer atau narsis, melainkan dalam rangka kompor-mengompor tentang kebaikan dan laporan bahwa amanahnya sudah saya tunaikan).

(1)

Sekecil apapun yang dapat saya lakukan, maka akan saya lakukan (insya Allah). Sama seperti yang dilakukan para relawan di lokasi bencana dan orang-orang lainnya. Saya hanya ingin menjadi bagian keciiil… saja dari kehidupan para korban bencana.

Sejauh ini saya tidak pernah sengaja menggalang dana, melainkan sekedar berbagi cerita ngalor-ngidul. Jika kemudian ada yang mengirim dana untuk disalurkan, maka saya berusaha menunaikan amanah itu sebaik-baiknya.

(2)

Beberapa sahabat mentransfer sejumlah dana yang nilainya tidak kecil. Warung Mandiri dua unit sudah berdiri di Glagaharjo (dari sorang rekan di Papua) dan dua unit lagi sedang disiapkan di Kepuharjo dan Kinahrejo (dari seorang rekan di Jakarta). MCK di Glagaharjo sedang dibangun, juga mushola sedang dirancang.

Glagaharjo, Kepuharjo dan Kinahrejo (Umbulharjo) adalah kawasan yang rata dengan tanah tersapu awan panas dan nyaris berubah menjadi padang pasir.

(Note: Saat ini, tiga bulan setelah hantaman awan panas Merapi, kawasan itu mulai menampakkan nuansa hijau oleh tanam-tanaman yang mulai tumbuh, walau masih sangat sedikit).

(3)

Tambahan material untuk dinding dan jendela huntara (hunian sementara) untuk pengungsi di dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, Magelang, sudah dikirim (dari dua orang rekan entah dimana). Sejumlah rumah lenyap tersapu lahar dingin di dusun ini.

Huntara ini adalah shelter semi permanen berupa rumah panggung terbuat dari konstruksi bambu di atas lahan persawahan. Layak untuk dihuni sebuah keluarga kecil dan dibangun secara swadaya.

(Note: Kalau saya sebut rekan entah dimana, itu karena saya memang tidak tahu dimana sesungguhnya kedua rekan ini berada, tapi transferan dananya saya terima).

(4)

Alat tulis dan permainan anak sudah dibelanjakan untuk dua TK di desa Sirahan, kecamatan Salam, yang sekolahnya lenyap disapu lahar dingin. Sedangkan anak-anak sementara sekolahnya menyebar di beberapa lokasi. Juga baju seragam pramuka untuk siswa SD yang sekolahnya tertimbun material pasir lahar sudah disiapkan. Pengiriman akan segera dilakukan. Tambahan bantuan logistik untuk pengungsi korban lahar dingin segera juga akan disusulkan…

(5)

Tentu saja semua aktivitas distribusi, alokasi dan penyiapan bantuan itu tidak saya lakukan sendiri melainkan bekerjasama dan didukung oleh banyak pihak, baik yang di Jogja maupun yang di lapangan. Khususnya saya banyak dibantu oleh tim relawan mandiri yang komitmen dan dedikasinya tidak diragukan. Sedang mereka adalah orang-orang yang tidak menerima upah dari siapapun malahan patungan untuk membiayai operasi mereka sendiri.

(6)

Bantuan berupa alat komunikasi HT menjadi “senjata” para relawan untuk saling komunikasi tentang perkembangan situasi. Saat ini, saat musim hujan tak menentu, saat jutaan m3 material vulkanik menunggu menggelontor, saat masyarakat di bantaran sungai was-was, saat ancaman banjir lahar dingin bisa tak terkira besarnya…

Maka para relawan tanpa tanda pengenal ini pun siaga full tidak setengah-setengah… memonitor situasi.

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

(7)

Dua hari terakhir ini saya menerima transfer susulan sejumlah dana dari Papua dan Jakarta untuk disalurkan bagi korban bencana Merapi. Rekan dari Jakarta memberi catatan bahwa dana itu sebagai zakatnya. Maka saya merasa perlu memberi “special treatment” terhadap dana zakat ini agar tidak menyimpang dari SOP tentang per-zakat-an yang obyeknya lebih bersifat personal ketimbang prasarana umum.

(8)

Seorang relawan di kaki selatan Merapi yang mendampingi korban Merapi di wilayah Cangkringan melapor bahwa biaya pembuatan MCK membengkak karena atas permintaan warga konstruksinya dibuat lebih permanen. Belum lagi, ada 16 warga desa Glagaharjo yang meminta bantuan dinding gedheg untuk memulai “membangun kembali” rumahnya, sedang mereka tidak punya akses memperoleh bantuan dari luar. Hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(9)

Relawan lain di kaki barat Merapi yang memantau ancaman banjir lahar dingin dan memfasilitasi penyaluran bantuan untuk korban banjir lahar menyampaikan permintaan usulan bantuan untuk penyelesaian 10 huntara (huntian sementara) rumah bambu bagi warga bantaran sungai Pabelan di dusun Prumpung, Muntilan, yang rumahnya lenyap disapu lahar dingin. Juga hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(10)

Ya, ya… Memang ya tidak mungkin, membantu semua pihak yang tak berdaya yang membutuhkan bantuan, sementara sumber bantuan sangat terbatas.

Maka baiknya dicari yang paling mungkin, yaitu mempertemukan mereka yang tak berdaya dengan mereka yang peduli, dengan kesadaran dan keikhlasan atas segala keterbatasan masing-masing… Lalu katakana: “It’s a beautiful world!”.

Yogyakarta, 4 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: