Setengah Hari Ke Purworejo

Catatan dari perjalanan setengah hari ke Purworejo, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Purworejo adalah sebuah kota kabupaten di wilayah Jawa Tengah yang terletak sekitar 66 km di sebelah barat Yogyakarta. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook.

***

Takziah

Langit mendung di angkasa pemakaman Kuncen, Baledono, Purworejo… Membantu mengangkat tubuh tua, lunglai, tak berdaya, berbungkus kain kafan putih, mengantarkannya masuk ke liang lahat, diiringi alunan lembut kumandang adzan…

Sebentar lagi akan bertemu dengan Yang Maha Indah. “Sugeng tindak Mbah Paiyem…”. Allahummaghfirlaha… (Ya Allah, ampunilah dia).

Di bawah pohon randu, di atas perbukitan makam Kuncen, Baledono, Purworejo. Beristirahatlah dengan tenang, mbah Paiyem…

Klanting

Di toko roti “92” Jl. A. Yani, Purworejo, saya temukan klanting, makanan khas Purworejo. Makanan berbahan tepung ketela, bentuknya mlungker-mlungker, rasanya gurih, suaranya kriuk-kriuk ketika dikunyah, cocok untuk yang giginya masih oke untuk mengunyah 33 kali makanan yang agak keras…

(klanting, atau ada juga yang menyebut lanting)

Geblek

Sudah puluhan tahun mbah Marni jualan gorengan termasuk geblek (huruf ‘e’ dibaca seperti pada kata ‘jelek’), di depan RSUD Jl. Sudirman, Purworejo. Usaha itu kini diteruskan oleh mbak Is, anaknya. Geblek adalah makanan khas Purworejo terbuat dari tepung ketela yang dicampur dengan garam, diuli, dibentuk rantai tiga lingkaran. Rasanya gurih. Digoreng dengan api kecil agar bisa mekar dan enak dimakan.

***

Saya membeli geblek (makanan khas Purworejo) mentah agar bisa saya nikmati di rumah sebagai oleh-oleh.

“Nanti digorengnya pakai minyak dingin”, kata yang jual.
“Lho?”, tanyaku.

Rupanya yang dimaksud adalah apinya kecil. Minyak dingin bukan berarti minyak tanpa api melainkan lawan dari minyak panas.

***

Ketika geblek saya goreng sendiri di rumah… Gak sabbaaar, api kompornya saya besarkan sedikiiit… saja. Voila! Benar juga, lebih cepat matang. Tapi yang tidak benar adalah matang hanya di bagian luarnya sedang bagian dalamnya belum. Walhasil, ketika makanan geblek sudah dingin, lebih cocok untuk nimpuk kirik (anak anjing) sangking kerasnya itu makanan…

***

Baru pada penggorengan yang ke tujuh kali saya benar-benar berhasil menggoreng geblek seperti yang seharusnya. Rupanya ada teknik tersendiri untuk menggoreng makanan itu. Maka saran saya jika hendak membeli geblek tidak usah gaya-gaya, belilah yang sudah digoreng dan siap dimakan, kecuali jika Anda ingin repot sendiri di rumah.

Yogyakarta, 2 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: