Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin

Catatan dari mengunjungi dusun Gempol,desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang Jateng) pada tanggal 24 Januari 2011. Sebagian besar rumah warga dusun Gempol tertimbun bahkan tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin Merapi yang meluber dari aliran kali Putih.

Aliran lahar dingin di Kali Putih yang terjadi tadi sore (24/01/11)…, tak sebesar minggu lalu yang menghancurkan desa Jumoyo, kecamatan Salam, Magelang (sosok gunung Merapi yang berjarak sekitar 20 km ada di latar belakang).

(1)

Sebagian warga dusun Gempol, desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, masih tinggal di pengungsian akibat erupsi Merapi November tahun lalu.

Saat minggu lalu mereka pulang untuk menengok rumahnya, malah rumahnya pada hilang. Bukan oleh letusan Merapi, tapi oleh sapuan lahar dingin yang menggelontor dari lereng barat Merapi, yang mbludak tak tertampung oleh kali Putih di seputar jembatan jalan raya Jogja-Magelang.

(2)

Kini lebih 500 jiwa warga dusun Gempol tinggal di pengungsian di lapangan depan Balai Desa Jumoyo. Nyaris semua rumah mereka hancur, tenggelam, bahkan hilang. Ada juga yang setengah tenggelam oleh endapan pasir lahar, dan masih tersisa sekitar 39 rumah yang hanya kotor saja. Tapi praktis dusun Gempol kini ditinggal warganya. Ancaman banjir lahar dingin belum selesai, dan entah sampai kapan ancaman itu berhenti..

(3)

Tempat pengungsian itu berupa tenda-tenda berbentuk dome warna putih. Tenda-tenda itu pindahan dari lokasi lain yang sebelumnya digunakan oleh pengungsi korban letusan Merapi.

Ada puluhan tenda berdiri di lapangan depan Balai Desa. Selain warga dusun Gempol, ada juga pengungsi dari dusun Kadirogo, Kemburan dan Dowakan, yang berjumlah lebih 800 jiwa semuanya dari desa Jumoyo.

(4)

Tenda dome warna putih… Dari kejauhan terlihat seperti perkemahan di padang Arafah. Hanya saja lokasi itu dikelilingi oleh hijau pepohonan. Entah sampai kapan mereka akan mampu bertahan di tempat itu. Sedang menyediakan shelter bagi warga kecamatan Cangkringan yang rumahnya hancur oleh awan panas saja sampai sekarang Pemkab Sleman masih kesulitan. Kini ditambah warga kecamatan Salam

(5)

Rombongan lebih 40 sepeda motor berkonvoi ke Balai Desa Jumoyo. Dari tampilannya, ini rombongan orang-orang desa. Dari sepeda motornya, ini pedagang keliling. Keranjang yang terpasang di sepeda motor itu penuh berisi sayur-mayur. Ada apa gerangan?

Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu. Mereka datang tiba-tiba untuk mengirim bantuan sayur-sayuran ke dapur umum pengungsian korban lahar dingin.

(6)

Mereka bukan tukang sayur yang sedang berjualan di pasar. Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Berkonvoi mereka datang, ingin meringankan beban derita sesama. Rasa empati dan peduli yang kemudian menggerakkan hati dan rasa cinta orang-orang kecil itu terhadap sesama.

Sebuah kepedulian dari orang-orang kecil untuk saudara-saudara yang sama kecilnya. Dari mana datangnya cinta, dari lembah Merbabu turun ke desa Jumoyo…

(7)

Sekian kali saya mengunjungi tempat pengungsian, sekian kali pula saya menyaksikan tumpukan pakaian (bekas, layak pakai, bagus) tertimbun, terhampar, berserakan begitu saja seperti tak terurus. Nampaknya pakaian memang bukan kebutuhan mendesak bagi pengungsi korban bencana, termasuk gunung meletus, banjir lahar, juga gempa.

Pada saat-saat tak berdaya, mereka lebih butuh logistik atau bentuk lain yang lebih nyata bagi keseharian di tempat pengungsian…

(8)

Posko utama pengungsian desa Jumoyo tampak tertangani dengan baik. Bantuan pun berdatangan. Namun fenomena lambatnya penyaluran bantuan oleh “alasan prosedural” sering menghantui. Akibatnya bnyak donatur yang kadang-kadang “skeptis” dengan Posko utama.

Donatur merasa lebih puas kalau dapat langsung menyalurkan bantuan ke lokasi yang biasanya dikelola relawan mandiri. Itu juga alasan saya kemarin sore bersama Kadus Gempol turun langsung ke lokasi.

(9)

Pak Sudiyanto, Kadus (Kepala Dusun) Gempol, desa Jumoyo, galau menyaksikan sebuah rumah warganya tinggal menyisakan daun pintu yang masih berdiri. Selebihnya tertimbun pasir setinggi atap sedang atapnya tersapu aliran lahar dingin. Sebagian rumah lainnya bahkan hilang tak berbekas. Termasuk rumah pak Kadus yang tertimbun pasir setengah tingginya.

(10)

Sore itu langit agak mendung dan gerimis mulai turun. Pak Kadus Sudiyanto begitu semangatnya memboncengkan saya dengan sepeda motornya berkeliling dusun menunjukkan rumah-rumah warganya yang kini hilang.

Ada yang tenggelam oleh endapan lahar dingin menyisakan atapnya, ada juga yang benar-benar tersapu dahsyatnya aliran lahar yang membawa pasir dan batu-batu besar. Dusun yang dulu agak jauh dari kali Putih, kini berubah menjadi jalan baru bagi aliran sungai.

(11)

Rute aliran kali Putih itu membelok sebelum menyeberang jalan raya Jogja-Magelang. Namun rupanya aliran kuat lahar dingin Merapi tidak sabar untuk membelok mengikuti aliran sungai yang sudah ada, melainkan lurus saja menyeberangi sekaligus menggerus badan jalan aspal, menghantam pasar Jumoyo dan dusun Gempol seisinya. Begitu berulang setiap kali banjir lahar dingin datang. Maka jalan raya Jogja-Magelang pun berulang terganggu.

(12)

Sekitar jam empat sore itu tiba-tiba orang-orang yang sedang “berwisata” di sekitar jalan raya desa Jumoyo pada berlarian. Petugas keamanan mengumumkan agar orang-orang menjauh karena lahar dingin segera tiba.

Pak Kadus memberitahu saya bahwa sebentar lagi akan melihat datangnya lahar dingin. Kutanya: “Apa aman?”. Dengan yakin dijawab: “Tidak apa-apa, banjirnya kecil”.

Dengan pesawat HT-nya, pak Kadus dapat memonitor gerakan aliran lahar dari Merapi, seberapa besar dan sudah sampai mana.

(13)

Kami memilih lokasi di tanggul timur, dekat pertigaan antara aliran lama dan baru. Semakin lama para “wisatawan” yang datang semakin banyak. Petugas keamanan tidak melarang karena sudah tahu bahwa banjir sore itu tidak besar.

Ketika banjir lahar akhirnya datang, memang tidak sampai meluber keluar dari aliran sungai yang ada sehingga masih aman bagi masyarakat yang ingin menyaksikan. Walau lalulintas Jogja-Magelang sempat ditutup sebentar sebagai tindakan preventif.

(14)

Menunggu datangnya banjir lahar dingin seperti menunggu datangnya pujaan hati. Kata pak Kadus yang merangkap relawan mandiri: “Kalau sudah dapat info ada banjir lahar di atas (Merapi), terus dimonitor laju kepala banjir sambil deg-degan. Kalau nggak datang-datang seperti ada rasa ‘gelo’ (menyesal), padahal tahu bahwa itu bisa jadi petaka…”.

(15)

Dengan melihat sendiri kondisi dusun Jumoyo yang berantakan dan sebagian lenyap, serta warganya yang ingin pulang tapi tidak ada yang dipulangi.

Maka kesanalah saya berencana menyalurkan bantuan (prioritas sementara logistik/sembako). Setidaknya, langsung ke sasaran, sebagaimana diharapkan pak Kadus Gempol. Seorang warga dusun tetangga (Seloiring) juga berharap bantuan langsung ke lokasi. Uugh, nampak ada nada skeptis jika bantuan dikirim ke Posko utama.

(16)

Dusun Seloiring bertetangga dengan dusun Gempol, masih di desa Jumoyo, hanya terpisah oleh jalan raya Jogja-Magelang. Ketika terjadi banjir besar lahar dingin minggu yll. yang telah melenyapkan sebagian dusun Gempol, warga Seloiring selamat tapi nyaris karena ada di batas limpahan kali Putih.

Namun… (lha ini anehnya masyarakat kita), belum mau disuruh mengungsi karena memang belum terbukti terkena bahaya. Sedang potensi ancaman itu nyata di depan mata. Huuh..!

(17)

Masyarakat Gempol pada umumnya adalah buruh tani dan penambang pasir. Entoch, endapan pasir lahar tidak begitu saja dapat ditambang, walau pasir itu kini menghampar nyaris seperti tak kan habis.

“Wah, jadi rejeki bagi warga”, kataku kepada pak Kadus.

“Paling-paling nanti orang luar yang menikmati, warga ya tetap saja begitu…”, jawab pak Kadus sambil memboncengkan saya menuju mobil.

Terasa ada nada getir di baliknya. Saya pun segera pulang membawa serta kegetiran itu…

Yogyakarta, 25-27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Satu Tanggapan to “Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin”

  1. Arnold Says:

    rental Tenda kemping/ tenda dome & alat-alat kemping
    Tendaku, merentalkan/ menyewakan Tenda kemping/ tenda dome & alat-alat kemping.
    alamat : jln. siliwangi, no. 55 bandung, website : http://www.tendaku.net.
    Mrcamp, merentalkan/ menyewakan Tenda kemping/ tenda dome & alat-alat kemping.
    jl. Raya Tapos no. E17, ciawi, bogor, . website : http://www.mrcamp.net.
    thx, Arnold 0817 230 8338

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: