Ketika “Crop Circle” Muncul Di Berbah, Sleman

Fenomena “Crop Circle” di areal persawahan desa Jogotirto, kecamatan Berbah, Sleman, yang terjadi pada hari Minggu (23/01/11). Lukisan alam berupa tanaman padi yang roboh beraturan membentuk lingkaran dan lengkungan. Perlu tanya kepada alam dulu: “What the hell is this?” – (Saya mengambil foto dari puncak bukit Suru, 25/01/11 jam 10:45 WIB).

Masih menunggu penjelasan para ahli tentang seluk wal-beluknya…

(1)

Fenomena “Crop Circle” Berbah, Sleman…
Sementara masyarakat berbondong-bondong datang ke pinggir sawah dan bertanya-tanya kepada para ahli tentang apa gerangan yang terjadi, aku bertanya kepada pak Jumiran pemilik sawah. Jawabnya sambil terkekeh di tengah kerumunan masyarakat yang penasaran: “Nggih pantun kulo sami ambruk niku…(Ya padi saya pada rubuh itu…)”.

(2)

Tidak dipungkiri, fenomena “Crop Circle” memang membuat dahi mengernyit. Kalau dibuat orang pasti ada bekasnya, ditiup angin kok begitu terukur membentuk lukisan indah, bukan patah bukan roboh tapi melengkung rapi, tepat di atasnya ada SUTET (saluran udara tegangan tinggi), di bawahnya ada saluran pipa Pertamina. Hanya Bandung Bondowoso yang dapat melakukan ini selesai sebelum fajar, bahkan lebih cepat dari cinta satu malam.

(Note: Catatan obrolan dengan pak Jumiran sang pemilik sawah dan seorang pengunjung yang penasaran)

(3)

Hujan deras, angin kencang, geluduk, merata melanda Jogja siang ini. Waspada… (siapa tahu “Crop Circle” berubah menjadi “Crop Square” karena semua tanaman padi di seluas sawah pada roboh oleh angin…).

(4)

Banyak pohon tumbang di Jogja, akibat hujan deras dan angin kencang siang ini. Waspada..! Dalam perjalanan menuju Madurejo melalui rute klasik via Berbah, terlihat kawasan dimana ada “Crop Circle” masih ramai. Entah sengaja hujan-hujanan, entah kepalang kehujanan di tengah persawahan.

“Boss” saya penasaran tentang “Crop Circle”. Kujawab: “Ya sannaa... hujan-hujanan kalau mau lihat, aku tak nunggu di mobil…” (Saya belum cerita kalau paginya sudah ke sana).

(5)

Tuhan memang ruarrr biasa untuk urusan membagi rejeki. Ribuan orang berduyun-duyun datang ke lokasi “Crop Circle” di desa Jogotirto, Berbah, Sleman, setiap hari sejak hari Minggu yll.

Mobil dan sepeda motor mbayar parkir harga premium. Pedagang segala macam betebaran bahkan hingga ke puncak bukit Suru dimana lukisan alam terlihat bentuknya. Para petugas dan pejabat negara berdatangan dengan ngantongi SPJ. Maka terbagilah rejeki dari langit.

(6)

Entah malam Minggu, entah Minggu dini hari ketika proses “pembuatan” lukisan “Crop Circle” terjadi. Tahu-tahu pagi harinya, pak Jumiran dilapori tetangganya: “Itu sawah sampeyan pada ambruk”. “Ya sudah…”, pikir pak Jumiran.

Baru sorenya pak Jumiran melongo. Sawah yang padinya hampir menguning itu diributkan orang. Malah dibatasi pita kuning sama pak polisi dan dijaga. Kalau ada orang mau lihat dan lewat garis, disemprit dari jauh.

(7)
Bergaya seperti wartawan infotainmen kehabisan berita kawin-cerai, kutanya pak Jumiran, satu dari tujuh pemilik sawah yang ketiban “sial” itu: “Sebelumnya pernah ada firasat, mimpi aneh atau kode nomor, gitu pak?”.

Mboten wonteeen…(tidak ada)”, jawabnya.

Eh, malah seseorang di sebelahnya tanya saya: “Suka pasang lotre Singapur pak?”. Weleh, lha lotre pasar malam Sekaten yang tinggal jalan kaki saja saya ‘girap-girapen’, boro-boro harus terbang ke Singapur…

(8)

Pak Jumiran jelas tidak paham apa itu “Crop Circle” (bisa terpelintir lidahnya mengucapkan kata itu), apalagi Alien, UFO atau makanan lain sejenis itu. Pak Jumiran hanya menggerutu gusar (dalam bahasa Jawa halus): “Kalau sawah saya rusak, nanti dapat ganti rugi enggak ya?”.

Uuugh, pak Jum, pak Jum…, membumi sekali kegusaran Sampeyan. (Dalam hati saya becanda: Waduh, dananya telanjur dipakai untuk studi banding pak…).

(9)

Berdiri di pinggir sawah untuk melihat “Crop Circle”, memang ya hanya tanaman padi ambruk yang akan terlihat. Selain dengan terbang di atasnya (itu juga kalau tidak kesetrum jaringan listrik tegangan tinggi), satu-satunya cara untuk melihat keanehan padi ambruk itu adalah dengan mendaki bukit Suru yang ada di sebelah baratnya.

Maka ini juga keanehan lain, orang-orang tua, muda, anak, ramai-ramai seperti ikut lomba kebut gunung, mendaki bukit yang sebenarnya cukup terjal dan licin.

(10)

Berjalan di depanku saat mendaki bukit Suru seorang nenek (belum terlalu tua), ndeso, sambil mengangkat kain jaritnya, berjalan pelan. Saya agak miris melihat si nenek, walau bukit Suru ini kecil tapi terjal dan licin (diwartakan hari ini ada seorang yang tewas terjatuh).

Untuk menyalipnya saya perlu menyapa (dengan bahasa Jawa halus). “Mbah, panjenengan ini kok ya nekat ikut mendaki”. “Saya kan juga ingin lihat”, jawab nenek itu tidak mau kalah. Betapa…

(11)

Ini kisah tentang bukit Suru yang tidak ada hubungannya dengan “Crop Circle” –

Hari-hari ini orang ramai mendaki gunung Suru karena ingin melihat lukisan misterius. Hingga sekitar lima tahun yll. bukit Suru dipercaya banyak menyimpan kekayaan. Buktinya dulu banyak orang mendakinya saat malam Jum’at Kliwon dengan membawa sesaji. Tapi sejak sekitar gempa Jogja 2006, kekayaan bukit ini seolah hilang amblas bumi dibawa kabur Ontorejo.

(12)

LAPAN meyakini “Crop Circle” di Berbah, Sleman, itu bikinan manusia. Jika benar demikian, berharap akan terungkap.

Namun siapapun manusianya, dia adalah seorang yang kreatif dan luar biasa (nekatnya, maksudnya). Hasil proses kreatif yang layak diapresiasi untuk diarahkan ke hal yang lebih produktif. Dan bukan dikait-kaitkan dengan politik atau urusan tetek bin bengek yang semakin menguras energi yang sudah banyak diecer-ecer mubazir di Jakarta…

Yogyakarta, 25 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Satu Tanggapan to “Ketika “Crop Circle” Muncul Di Berbah, Sleman”

  1. ageng Says:

    Alien itu kurang kerjaan banget ya. Dari dulu mendaratnya selalu aja diatas sawah. Sekali-sekali di kolam renang, atau empang gitu kan keren ya.

    Hah, semoga masalah ini cepat terungkap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: