Melepas Matahari Terakhir 2010 Di Kaki Merapi

Pengantar :

Berikut ini penggalan catatan saya saat mengunjungi desa Glagaharjo (kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman) yang berbatasan dengan desa Balerante (kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten) yang saya posting berurutan di Facebook. Kunjungan itu saya lakukan pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 dalam rangka ingin menyaksikan dan melepas matahari terakhir di penghujung tahun 2010.

Kabut sore terakhir di penghujung tahun 2010, di desa Balerante, Kemalang, Klaten (yang berbatasan dengan desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman)…

Yogyakarta, 31 Desember 2010
Yusuf Iskandar

——-

(1)

Bermaksud melepas matahari terakhir tahun 2010, Jum’at senja di kampung Klengon, dusun Kalitengah Lor, desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Ini adalah kawasan pemukiman tertinggi dan terujung di bawah Gunung Kendil, kaki tenggara Merapi. Kawasan ini kini musnah, menyisakan fondasi rumah dan sisa pepohonan yang terbakar awan panas (5/11/2010).

Namun sayang mendung bergelayut rata di angkasa, menutupi bentang Merapi.

(2)

Desa Glagaharjo, Cangkringan (dimana makam Mbah Maridjan berada) terletak di sisi timur kali Gendol. Di seberang barat kali Gendol terbentang kawasan desa Kinahrejo dan Kepuharjo yang nampak rata dan hilang tersapu awan panas. Seluas mata memandang ke arah barat, selatan dan timur adalah hamparan tanah terbuka yang didominasi oleh pemandangan pasir, lahar dingin dan sisa pepohonan mati.

(3)

Ketika kemarin sore saya mengajak seorang relawan mengunjungi desa Glagaharjo (Sleman) dan Balerante (Klaten), Kang Tugi sang relawan, mengajak naik motor saja. Mobil saya titipkan dan saya membonceng sepeda motor yang sudah tidak dikenali mereknya, yang suaranya mbeker-mbeker.., lebih 10 km mengikuti jalan menanjak dan…, blusukan ke bekas jalan-jalan desa.

Rupanya itulah alasannya, agar kami bisa blusukan di jalan-jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor…

(4)

Kawasan Glagaharjo dan Balerante masih nampak suram, lebih-lebih cuaca sore mendung seperti mau hujan sehingga bleger (sosok) Merapi menjadi tidak nampak. Padahal lokasi itu berjarak 5 km dari puncak.

Menyusuri jalan-jalan desa dengan sepeda motor, napak tilas dusun Klangon dan Kalitengah Lor yang merupakan kawasan terujung yang kini “hilang”, hingga masuk ke wilayah TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Bak penampungan dan sumber air goa Jepang masih ada di sana.

(5)

Kini kawasan Glagaharjo dan Balerante menjadi obyek tujuan wisata, seperti halnya Kepuharjo dan Kinahrejo. Lebihlebih di musim liburan ini, wilayah itu menjadi sangat padat pada siang hari. Sedang jalan-jalan desa yang ada umumnya sempit, maka bisa dibayangkan suasana yang padat oleh pengunjung termasuk sepeda motor dan mobil yang berdesak-desakan.

Keadaan ini nampaknya belum diantisipasi, bahkan hingga kini belum tertangani oleh pihak manapun.

(6)

Pihak perangkat desa belum sempat memikirkan desa yang kini ditinggalkan dan nyaris seperti “tak bertuan”. Apalagi perangkat pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi.

Dapat dimaklumi kalau pihak desa masih berfokus menangani warganya yang masih mengungsi karena mau kembali tidak lagi punya tempat berteduh, juga bagaimana masa depan mereka. Akibatnya tidak ada aparat keamanan yang turun ke kawasan itu. Maka tenggang rasa sesama pengunjunglah yang menjadi pengendali.

(7)

Terlihat beberapa bedeng sangat sederhana di beberapa lokasi di Glagaharjo. Sekedar atap peneduh dari plastik atau dinding gedek (bambu). Itu adalah bedeng yang digunakan oleh sebagian warga yang sebenarnya masih di pengungsian untuk membuka lapak berjualan makanan dan minuman seadanya. Sekedar memanfaatkan peluang usaha kecil-kecilan di lokasi wisata dadakan. Wisata bekas letusan Merapi. Tapi itu sebenarnya menjadi titik awal bangkitnya aktifitas ekonomi.

(8)

Relawan yang menemaniku berujar: “Saya kepingin membantu warga yang mau jualan dengan membuatkan warung yang lebih layak, sekalian dapat untuk berteduh pengunjung”.

Memang di kawasan seluas itu nyaris tidak ada bangunan yang masih tegak berdiri dan semua pepohonan mati. Para relawan sedang mengumpulkan material-material bekas yang masih dapat digunakan. Dan itulah salah satu info yang saya cari dalam kunjungan kemarin: Apa yang paling dibutuhkan saat sekarang ini.

(9)

Satu dua warga Glagaharjo kalau siang memang berjualan makanan-minuman bagi pengunjung. Satu dua warga mengumpulkan puing-puing rumahnya. Ada juga yang sudah mencoba mendirikan sebarang bedeng asal bisa ditempati dulu, sehingga bisa memulai beraktifitas di tempat semula.

Sekian lama tinggal di pengungsian tanpa kepastian kapan pulang tentu menjemukan, juga mereka menjadi tidak produktif. Berharap rumah bantuan, entah kapan turun dari langit…

(10)

Hal lain kemudian saya catat sebagai kebutuhan mendesak mereka adalah material bangunan untuk sekedar dapat mendirikan tempat berlindung sederhana, tidak permanen. Hanya agar mereka dapat memulai kehidupan di tempat asalnya, sebagai petani dan peternak. Atap, dinding dan kelengkapan seperlunya tentu akan sangat membantu.

Sekali lagi, berharap rumah? Ah.., berbiaya tinggi, sedang bantuan yang pernah dijanjikan entah kapan menjelma.

(11)

Hari makin petang dan awan gelap masih bergelayut di angkasa kaki Merapi ketika saya berada di kawasan TNGM. Rumpun-rumpun bambu yang dulu rimbun menghijau, kini kering, meranggas, roboh dan mati. Menyisakan pemandangan lepas ke arah gunung dan ke arah dataran rendah.

Masih ada bak penampung air. Perbaikan jaringan pengairan yang pasti perlu biaya banyak, belum mendesak saat ini mengingat warga belum kembali, walau tetap perlu direncanakan.

(12)

Di antara kegersangan tanpa satu pohon tinggipun tersisa melainkan kering dan mati seluas mata memandang, kini tunas-tunas tanaman pisang, keladi dan jenis rerumputan sudah mulai nampak menghijau. Memang akan perlu waktu untuk mengembalikan kerimbunan dan kehijauan Glagaharjo dan Balerante. Sedang kesuburan pasti akan meningkat. Maka penghijauan adalah program yang sedang digiatkan oleh para relawan di sana…

(13)

Para relawan yang sekarang “membina” kawasan Glagaharjo dan Balerante, saat ini sedang giat mengumpulkan bibit aneka tanaman keras. Tujuannya guna membantu mempercepat penghijauan.

Mengharapkan program pemerintah, mereka “no comment” (tidak perlu diterjemahkan apa artinya). Lebih baik langsung bergerak mengusahakan bibit tanaman apa saja sebisanya, bahkan meminta jika perlu dan mencari sendiri…

(14)

Jumat sore itu saya lihat beberapa bibit tanaman sudah ditanam. Mahoni, sengon, kelapa, talok (kersen), gayam, pendeknya bibit apa saja. Ada yang menyumbang tanaman buah seperti mangga dan rambutan. Bibit kelapa adalah hasil meminta karena memang tidak ada dana untuk membelinya. Bahkan bibit pohon gayam dan talok mereka cari sendiri.

Maka bantuan bibit tanaman adalah yang mereka harapkan sekarang. Bibit itu ditanam dimana saja di seluas kawasan gersang itu…

(15)

Menjelang maghrib saya tiba di dusun Sambungrejo, dusun paling ujung atas di desa Balerante, Klaten. Tempat yang saya tuju adalah sebuah masjid yang sedang direnovasi. Dari kejauhan masjid kecil ini, Al-Barokah namanya, nampak jelas berdiri megah. Dari pelataran masjid itu kupandang lepas kawasan gersang ke arah dataran rendah.

Dalam hembusan angin sejuk bertiup cukup kuat, kulepas kepergian senja terakhir tahun 2010… Subhanallah…

(16)

Di sebelah masjid kecil itu ada sebuah rumah yang nampak mulai ada penghuninya. Di sana saya bertemu dengan pak Barjo, takmir masjid itu, satu dari sedikit warga Balerante yang sudah mulai kembali.

Dari pak Barjo saya tahu, bahwa rupanya memang menjadi prioritas Pemkab Klaten untuk memperbaiki masjid lebih dulu (setelah sebelumnya dikunjungi oleh Bupatinya…). Pak Barjo juga sekalian menunggu dan merawat ternak sapi penggantian dari pemerintah untuk sapi-sapinya yang mati.

(17)

Di rumah yang masih terlihat baru diperbaiki itu pak Barjo tinggal bersama kedua orang tuanya, Mbah Sudi dan istrinya yang jelas menampakkan wajah tuanya. Di senja yang berhawa sejuk itu mbah Sudi sedang duduk santai menghangatkan badan dengan menyalakan api unggun di hadapannya.

Melihat kedatanganku, mbah Sudi dan istrinya bangkit menghampiri dan menyalamiku. Tidak tampak kesusahan di mukanya, melainkan aura damai terpancar di wajahnya. Ah…

(18)

Jejak sapuan wedhus gembel dapat saya temukan di seputaran rumah mbah Sudi dan masjid di dekatnya. Dua sepeda motornya yang kini tinggal rangka, masih teronggok di depan rumahnya. Horn (pengeras suara) masjid tergeletak bak besi tua, juga mustoko (kubah) masjid yang lama, selain onggokan kayu seperti sisa kebakaran.

Ketika kutanya apa kegiatannya sekarang. Jawabnya lugu: “Inggih pados suket kangge pakan sapi…(ya cari rumput untuk pakan sapi)”.

(19)           ‎

Antara desa Glagaharjo, kabupaten Sleman dan Balerante, kabupaten Klaten, memang hanya terpisah sebuah jalan desa. Tapi bagaimana kedua Pemkab itu menangani masyaakatnya, nampaknya masyarakat Glagaharjo pantas iri dengan tetangganya di Balerante.

Saat penggantian ternak mati masih angin sorga di Glagaharjo, tetangganya di Balerante sudah sibuk mencari rumput untuk sapi-sapi yang sudah ada di kandangnya, bangunan rumah contoh sudah mulai dibangun, termasuk masjid, dsb.

(20)

Saat warga Glagaharjo belum sempat terpikir melakukan penghijauan, kepada warga Balerante sudah dibagikan bantuan ribuan bibit tanaman. Para relawan kini berupaya mencari bibit tanaman bagi desa Glagaharjo dimana pihak pemerintah belum juga mulai bergerak “menghidupkan” desa itu.

Peran para relawan yang tidak menerima upah sepeserpun dari siapapun layak diapresiasi. Mereka yang kini aktif ngupokoro (mengelola) kawasan yanlg seoah tak bertuan…

(21)

Senja semakin remang, saya turun ke dusun di bawahnya, Banjarsari. Di sini lebih banyak warga yang kembali dari pengungsian. Mereka perbaiki rumah seperlunya asal dapat ditempati dulu. Beberapa warga terlihat sedang membuat api unggun di pinggir jalan untuk menghangatkan suasana yang sejuk, di depan masjid Al-Fatah yang juga baru selesai direnovasi.

Di masjid ini pula kusempatkan bersujud guna menghormati waktu maghrib terakhir tahun 2010…

(22)

Hari semakin gelap, saya menuju ke sebuah rumah yang kini dijadikan Posko Banjarsari, desa Balerante. Pak Darmini, ketua Posko menerima kedatangan saya dengan sangat baik. Kami bertukar pikiran tentang penanganan pasca bencana.

Saya tahu kenapa sebagian warga Balerante sudah kembali dari pengungsian, karena rupanya mereka digilir ronda guna menjaga ternak penggantian pemerintah yang sudah mereka terima, juga harta benda yang msh ada disana.

(23)           ‎

Posko Banjarsari bukan sekedar Posko penerimaan bantuan, tapi juga membuka dapur umum. Benar-benar dapur untuk umum karena siapa saja boleh ikut makan di situ. Bahan makanannya berasal dari bantuan logistik dari siapa saja. Tukang masaknya juga siapa saja yang mau. Dan rupanya selalu ada relawan yang datang dan pergi silih berganti dari mana-mana yang membantu membersihkan desa, menanam pohon, dsb. Semua ikut makan di dapur umum.

(24)

Jum’at malam itu, malam tahun baru 2011, bu Darmini menyuguhkan menu istimewa. Nasi putih, sayur daun ubi dan mie instan rebus. Semua disajikan dingin. Minuman tehnya saja yang hangat. Tapi nuikmatnya… Wow! Saya “terpaksa” nambah makan sayur daun ubi bumbu ndeso.

Soal wujud, rasa dan harganya tidak ada apa-apanya dibanding menu tahun baru di tempat-tempat hiburan. Tapi soal kenikmatan dan kesyukuran, tidak serta-merta harus berbanding lurus..

(25)

Bermalam tahun baru di kaki Merapi yang sejuk tapi gersang, sepi tapi tenteram, sederhana tapi bermakna… Sementra di tempat lain berbiaya tinggi tapi full “mudharat”, di kaki Merapi bergantung bantuan orang lain tapi sarat hikmah.

Apakah di kaki Merapi lebih baik daripada di tempat lain? Bukan itu soalnya, melainkan bagaimana menempatkan diri ke dalam medium yang sesuai menuju titik pencapaian. Perkara titik itu baik atau buruk, ya monggo (silakan)…

(26)

Sambil mnikmati sayur daun ubi dan nyruput teh panas, bercengkerama dengan pak Darmini dan beberapa warga Balerante…

Tiba-tiba ada yang nyeletuk: “Malam ini malam tahun baru lho…”.

Kata salah seorang: “Ya apa bedanya tahun baru dan tidak”.

Iya, ya, apa bedanya..? Ada seribu jawab dari perspektif berbeda. Tapi yang pasti kalender ruang tamu harus diganti. Itu pun kalau ada yang memberi gratis bergambar bintang film cantik, kalau tidak ya di pasang di jumbleng.

(27)

Hari sudah malam dan gulita ketika saya meninggalkan Balerante. Mendung di langit mulai agak tersingkap. Menyusuri jalan desa perbatasan provinsi Jateng-DIY dan memandang ke arah dataran rendah di selatan terkesan lepas dan luas.

“Beruntung” tiada lagi rumah warga dan pepohonan, sehingga bentang kota Yogyakarta di malam hari terlihat indah dengan kerlap-kerlip lampu kota, yang pasti sedang sibuk menyongsong detik-detik pergantian kalender…

(28)

Dalam perjalanan pulang, berhenti di sebuah warung di timur perempatan Manisrenggo, Klaten. Relawan yang menemani perjalanan saya hari itu mengajak mampir ke warung langganannya. Di sana dijual nasi kucing spesial.

Nasi kucing? Ya, nasi seukuran jatah makan kucing yang dibungkus kertas dengan lauk sesendok sambal belut. Harganya Rp 1000,- per bungkus. Wow..! Saya makan sebungkus, bukan karena lapar tapi ingin mencicipi rasanya…

(29)

Sambal belut terbuat dari belut goreng ditumbuk, dibumbu bawang, cabe, garam lalu disangrai. Mirip roa ikan cakalang dari Manado. Ketika dimakan dengan nasi putih (apalagi kalau hangat). Uhmm..!

“Kali ini tidak terlalu pedas. Cabenya mahal”, kata si penjual. Oo.., tak terbayang bahwa harga cabe akan berpengaruh terhadap kualitas nasi kucing. Kalau bukan karena sudah kenyang makan nasi sayur daun ubi, ingin sekali nambah dua takaran kucing…

(30)

Perjalanan saya ke Glagaharjo-Balerante di kaki tenggara Merapi pada Jumat sore terakhir di penghujung tahun 2010 diakhiri dengan obrolan ngalor-ngidul di sebuah warung di Manisrenggo bersama sesama penggemar nasi kucing. Khas suasana warung angkringan… Makannya tak seberapa, tapi berlama-lama nongkrongnya itu…

“Selamat Tahun Baru 2011”.

——-

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: