Nostalgia Es Murni Tukangan Jogja

Pengantar:

Catatan di bawah ini adalah kumpulan dari catatan status saya di Facebook.-

——-

(1)

Alkisah, lebih 20 tahun yll ibunya anak-anak dan teman-teman gadisnya suka ngiras (ngudap) es teler di warung Es Murni, Jl. Tukangan 45, Jogja. Ke warung itu juga dia suka mentraktir pacarnya.

Jaman itu tidak banyak pilihan tempat jajan di Jogja. Resto, cafe dan sejenisnya baru muncul pada tahun-tahun belakangan. Yang lebih penting, Es Murni tergolong murah-meriah-wuuah rasanya. Kini, warung itu masih ada, warung “Murni 83” namanya (83 adalah nomor lama warung itu).

(2)

Sore kemarin, ketika pulang dari Madurejo, Sleman, tiba-tiba terlintas ide ingin bernostalgia. Kami lalu singgah ke warung es “Murni 83”. Tampilan warungnya sederhana. Dari jaman dulu ya begitu itu. Dengan becanda kubilang seperti di kandang macan karena dikelilingi pagar besi tinggi.

Menu unggulannya sebenarnya tidak ada yang khas, yaitu es teler, bistik dan bakso. Buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore, tapi jangan kecewa kalau kehabisan baksonya.

(3)

Racikan es teler “Murni 83” sebenarnya biasa saja. Ada alpukat, nangka, kolang-kaling, cincau, tape ketan, roti tawar, kelapa muda, juga durian kalau sedang musimnya. Tapi takarannya begitu pas, hingga rasanya boo..., yang lain makin ketinggalan!

Setelah mangkuk pertama tandas, mangkuk lainnya seolah berkata: Jadikan aku yang kedua… Bakso mie atau kuahnya sering sudah habis sebelum jam tutup warungnya.
(4)

Salah satu menunya yang tak lekang oleh jaman tak lapuk oleh pergantian generasi adalah bistik (bestik). Aslinya sebenarnya beef steak. Tapi orang Jawa jaman kumpeni dulu lidahnya suka terpelintir kalau menyebut kata itu, maka lalu dimudahkan saja.

Daging sapi seperti pada burger dan gorengan wortel, buncis dan kentang, dilengkapi mentimun, tomat, lalu diguyur kuah tomat. Uuufff…, menu londo dengan citarasa tradisional yang berbeda…

(5)

Kalau menu sederhana warung Es Murni mampu bertahan lebih setengah abad dan hingga kini masih dikunjungi pelanggan, itu tentu bukan prestasi sederhana. Sebut saja pak Juwahir Setiabudi sang “founding father” Es Murni yang kini berusia 83 tahun.

Ketika saya ketemu kemarin sore, beliau sedang santai di depan warungnya yang kini dikelola anaknya. Beliau nampak letih, duduk di kursi roda dengan pandangan kosong mata tuanya.

(6)

Maka kalau kemarin sore saya menyengaja berkunjung ke warung Es Murni, bukan semata-mata hendak bernostalgia. Melainkan karena kangen dengan es teler, bakso dan bistik resep turunan dari pak Juwahir yang istrinya baru meninggal sekitar tiga bulan yll. Sekaligus menikmati pencapaian bisnis sederhananya.

Semangkuk bakso kuah dan semangkuk es teler pun tandas masuk tembolok, sedang bistiknya dibungkus untuk dimakan di rumah saja. Perut keburu kemlakaren… (penuh kekenyangan).

(7)

Sesaat di rumah, kunikmati sebungkus bistik warung “Murni 83”. Nyaaammm…pas tenan kuah tomatnya. Pantas  banyak penggemarnya yang suka minta dibungkus dibawa pulang.

Tak kuduga sejam kemudian…, perutku mulas banget. Langsung saja menghambur ke jumbleng. Rupanya perutku kebingungan milah-milah antara es teler, bakso dan bistik saat memprosesnya… Tapi ya kunikmati saja, alhamdulillah…!

Yogyakarta, 22 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

3 Tanggapan to “Nostalgia Es Murni Tukangan Jogja”

  1. drummerfan Says:

    kalo ada fotonya pasti bakal lebih keren lagi pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: