Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (4-Selesai)

(26). Menyeberang Dengan Jadwal Pertama

Gerimis pagi di Tanjung Selor… Bergegas menuju dermaga penyeberangan di sungai Kayan, mengejar jadwal pertama KM (kapal motor) yang menuju Tarakan. Ternyata KM Kalimantan yang kami tumpangi tidak ingkar janji… Jam 8:00 WITA teng.., kapal berkapasitas sekitar 30 orang tanpa alat pelampung (sejenis yang terbalik di Nunukan kemarin) pun melaju.

Perjalanan pulang ke Jogja hari ini segera dimulai… Tanjung Selor – Tarakan – Balikpapan – Jogja.

(Tanjung Selor, 4 Desember 2010)

——-

(27). Duduk Di Belakang Pak Nakoda

Duduk di belakang pak nakoda yang sedang bekerja, mengendarai speed boat supaya baik jalannya… (Menyeberang dari Tanjung Selor ke Tarakan). Ngobrol dan bercanda sejenak dengan pak nakoda sebelum beranjak meninggalkan KM Kalimantan sambil menunggu giliran penumpang turun dari kapal (turun dari kapal tapi sebenarnya justru naik ke dermaga).

(Tarakan, 4 Desember 2010)

——-

(28). Mampir Ke RM Kepiting Saos Kenari Tarakan

Aha…, akhirnya sempat juga mampir ke rumah makan Kepiting Saos Kenari, Tarakan. Setelah belanja oleh-oleh ikan jambal, sebelum tiba di bandara Juwata Tarakan, mampir dulu makan pagi merangkap siang (kaena itu makannya harus agak banyak) dengan menu kepiting asam manis dan lada hitam. Wow…, sebaiknya jangan lewatkan…

(Tarakan, 4 Desember 2010)

——-

(29). Ruang Tunggu Tanpa Fasilitas

Memasuki ruang tunggu keberangkatan bandara Juwata Tarakan, pastikan Anda sudah ngopi, sudah sholat dan sudah kencing… Sebab di ruang tunggu bandara internasional kelas 1 ini tidak dilengkapi (mudah-mudahan belum) fasilitas kantin, mushola dan toilet. Harus keluar dari gerbang security check dulu untuk menemukan fasilitas-fasilitas tsb. Jika Anda telanjur berada di dalam, maka bersiaplah untuk celingukan…

(Tarakan, 4 Desember 2010)

——-

(30). Sambil Berkumur-kumur Dikejar Anjing

Aku duduk di kursi dekat jendela darurat di pesawat Lion Air dari Tarakan ke Balikpapan. Seperti biasa, awak kabin memberi penjelasan tentang tugas penumpang yang duduk dekat “emergency exit”. Bicaranya cepat sekali secepat pesawat yang mau take off.

Penumpang di sebelahku berkomentar: “Ngomong kok seperti orang berkumur-kumur”. Kubalas komentarnya sambil tertawa kecil: “Iya, berkumur-kumur sambil dikejar anjing…”.

(Balikpapan, 4 Desember 2010)

——-

(31). Penumpang Sebelah Yang Luar Biasa

Penumpang di sebelah saya yang tadi ngatain pramugari berkumur-kumur itu memang luar biasa. Mulanya sekedar basa-basi sapa-menyapa. Lama-lama bercerita panjang-lebar ngalor-ngidul. Setelah tahu saya dari Jogja, lalu memberi kuliah tentang terjadinya letusan gunung berapi dan gempa. Walaupun ceritanya salah ya terpaksa saya tinggal tidur saja….

Ma’aaaaaf…, kondisi saya sedang nguwantuk berat karena beberapa hari ini kurang tidur…

(Balikpapan, 4 Desember 2010)

——-

(32). Antara Duduk Persoalan Dan Duduk Di Pesawat

Duduk dekat jendela darurat di pesawat memang enak, lebih longgar. Mereka disebut “Able Bodied Passanger” (penumpang yang mampu membantu awak kabin) dan punya tugas ekstra cukup berat ketika keadaan darurat. Tapi kertas petunjuk biasanya hanya dilirik saja.

Awak kabin pun cukup mengingatkan sebentar dan berkata: “Silakan baca petunjuknya, hubungi kami kalau ada pertanyaan”. Bertanya itu kan bagi yang paham duduk persoalan, sedang kebanyakan hanya paham duduk di pesawat..

(Balikpapan, 4 Desember 2010)

——-

(33). Terminal Lion Air Di Bandara Sepinggan

Pesawat Lion Air di bandara Sepinggan Balikpapan menempati fasilitas bangunan baru. Ketika transit di Balikpapan, begitu turun dari pesawat, penumpang akan diarahkan ke gedung berbeda, tapi terkadang tidak ada petunjuk yang jelas (pengguna Lion Air yang pertama kali transit di Balikpapan, kalau ragu sebaiknya tanya). Di gedung transit hanya dilayani sedikit petugas di antrian yang sempit. Siap-siap melonggarkan syaraf sabar Anda…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

(34). Ikan Asin Itu Bau

Boarding..! Masuk ruang tunggu bandara Balikpapan, pak Satpam minta saya membuka tas kabin. Dibukanya bungkusan rapat itu dan dicium, katanya: “Ini bau ikan asin, harus dibagasi”. Sejak nabi Adam ikan asin itu ya bau (padahal nabi Adam belum tentu kenal ikan asin). Kataku: “Sebelum bapak buka tadi bungkusannya rapat dan tidak bau”. Tetap dilarang.

Maka kutinggal saja dan saya sengaja tidak tersenyum (tidak tersenyum kok sengaja), pertanda ikhlas tapi kesal…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

(35). Bagasiku Tak Kunjung Datang

Jogja masih mendung tipis habis hujan menjelang petang, saat akhirnya saya mendarat di bandara Adisutjipto Jogja. Alhamdulillah…

Celingak-celinguk di tempat pengambilan bagasi sampai semua penumpang menghilang tapi bagasiku tak kunjung datang. Kemana gerangan itu sekotak ikan jambal dari Tarakan? Akhirnya saya tinggal pulang sambil tawakkal kepada bagian “Lost & Found” Lion Air. Semoga tidak ingkar janji…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

(36). Dilayani Sambil Melirik Facebook

Memasuki bagian “Lost & Found” Lion Air, terlihat ada dua orang petugas sedang mencermati layar monitor. Kubiarkan dulu agar tidak mengganggu kesibukan mereka. Lama-lama jadi penasaran, kok layarnya dominan warna biru. Kulongokkan kepalaku. Weee, ladhalah..! Lagi fesbukan to…

Yo wis, kubiarkan sesaat sampai kemudian salah seorang menyadari kehadiranku. Aku pun dilayani sambil halaman FB tetap ada di sana, sedang laporanku cukup ditulis tangan…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: