Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (3)

(15). Hujan Pagi Di Binai

Pagi cerah di desa Binai. Suasana masih terlihat sepi belum nampak ada aktifitas pagi di desa. Tapi kecerahan pagi itu hanya sebentar, sebab kemudian tiba-tiba turun hujan deras…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(16). Segarnya Air Binai

Semalam tidur nyenyak (jelas karena kelewat ngantuk) padahal tadi malam malas mandi, maka mandi pagi tadi terasa begitu menyegarkan. Kesegaran air desa itu mengalahkan kesan air sumur yang berwarna kecoklatan seperti air sungai, tapi jelas tidak sekeruh lahar dingin…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(17). Penduduk Asli Dayak Punan

Desa Binai yang dibelah oleh sungai Binai, dihuni hanya oleh sekitar 1000 jiwa dengan penduduk aslinya suku Dayak Punan. Tapi saat ini Binai juga dihuni suku pendatang. Selain pendatang lokal yaitu Dayak Kenyah yang malah menjadi penduduk mayoritas, juga pendatang interlokal dari Sulawesi (Bugis, Palopo, Pinrang, Sidrap, Bone, dll), dan ada juga dari Jawa.

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(18). Hutanku Tak Lagi Rimba

Penduduk Binai tinggal tersebar-sebar, walau ada yang mengelompok di satu kawasan, di desa yang begitu luas yang barangkali seluas sebuah kabupaten di Jawa. Jangan tanya bagaimana Pak Kades mengurus warga dan desanya, sedang prasarana jalan umumnya masih berupa jalan tanah berkerikil atau kerikil bertanah, di sela-sela hutan nan luas.

Tapi hutanku tak lagi rimba belantara, sebagian sudah dimangsa mesin HPH. Hingga rusa dan babi pun tak lagi nyaman diajak hidup bersama.

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(19). Hidup Dari Menggesek

Sebagian masyarakat Binai hidup berladang padi hutan, sayur, buah, dll. tapi terkesan tidak “serius” sehingga tidak berkembang karena tidak mudah untuk menjual hasilnya. Keterbatasan transportasi adalah masalahnya. Belum lagi harga premium yang bisa lebih dari Rp 10 ribu/liter. Sebagian lainnya menggesek alias menggergaji atau menebang pohon untuk dijual kayunya.

Illegal logging? Aah…, tak seujung gesekan mata gergajinya orang dari Jakarta…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(20). Sholat Jum’at Di Binai

Cuaca hari ini ternyata banyak mendung lalu hujan merata. Siang tadi Jum’atan di masjid At-Tawwabin di sisi timur sungai Binai, dimana banyak dihuni masyarakat dari Sulawesi, terutama Bugis. Konstruksi masjid ini menyerupai rumah-rumah lokal yaitu rumah panggung tapi tidak terlalu tinggi, berbahan kayu.

Hingga usai Jum’atan hujan semakin nampak awet, nggaak…selesai-selesai. Agenda ke lapangan jadi tidak efektif, maka agar efektif ya tidak usah ke lapangan..

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(21). Tumis Daun Singkong Ditumbuk

Karena hujan tidak juga reda, ke lapangan tidak bisa, ya makan saja… Kali ini oleh tuan rumah dimasakkan menu tradisional, yaitu daun singkong mentah ditumbuk lalu ditumis. Katanya itu masakan khas mereka. Kutanyakan apa namanya? Dijawab: “Daun singkong ditumbuk”.

Jadi namanya memang panjang, yaitu tumis daun singkong ditumbuk… Maka rahasia enak-tidaknya tergantung pada cara menumisnya. Dan memang enak…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(22). Mengeroyok Singkong Rebus

Habis makan lalu leyeh-leyeh menunggu hujan yang belum reda juga. Lha kok disusul dengan suguhan kopi panas dan singkong rebus. Singkongnya mukibat alias singkong kuning. Enggak tega rasanya untuk diacuhkan begitu saja. Biarpun sudah terasa kenyang, tetap saja singkong rebusnya habis dikeroyok, ditemani segelas kopi panas. Huuuu…, dasar! (dasar enak, maksudnya).

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(23). Pisang Goreng Tanpa Rasa

Sebelum meninggalkan Binai sore tadi, disuguhi kue sederhana tapi mantap nian. Pisang goreng tanpa rasa… Pisang kepok (kapok) yang belum masak, dipenyet, digoreng, langsung disantap kalau suka, gurih rasanya… Jika tidak, bubuhi dengan susu coklat atau apa saja yang disukai, bahkan sambal dan saos.

Menu ini cocok untuk orang-orang yang tidak sabar menunggu pisangnya masak lebih dulu atau nggak punya alternatif lain… Tapi dijamin, woenak tenan rasanya…

(Tanjung Selor, 3 Desember 2010)

——-

(24). Terperosok Di Jalan Licin

Setengah dari rute Binai ke Tanjung Selor yang berjarak sekitar 75 km, berupa jalan tanah. Idealnya ditempuh dengan kendaraan 4WD karena ketika habis hujan, jalan yang naik-turun bukit itu menjadi sangat licin dan berlumpur.

Sore tadi dalam perjalanan kembali ke Tanjung Selor, Innova yang kami naiki serong kanan serong kiri hingga terpeleset lalu terperosok. Maka harus nunggu bantuan mobil lain untuk ditarik kembali ke jalan yang benar… Untung tidak menunggu lama…

(Tanjung Selor, 3 Desember 2010)

——-

(25). Ayam Bakakak Di RM “Parahyangan” Tanjung Selor

Makan malam di Saung & Lesehan “Parahyangan” Tanjung Selor. Resto lesehan yang bernuansa desa dengan kolam-kolam di bawahnya. Tapi itu hanya cocok saat siang hari. Kucoba menu beda selain ikan, pilihan pada ayam bakakak. Terbayang daging ayam kampung goreng yang kress ketika digigit.

Ternyata bayanganku meleset…, tersaji ayam yang dagingnya keras sehingga harus ditangani dengan kekerasan pula. Tapi lumayanlah, untuk ancang-ancang perjalanan pulang besok.

(Tanjung Selor, 3 Desember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: