Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (2)

(8). Kota Kecil Nyaman Dijalani

Pagi di Tanjung Selor, Bulungan. Ibukota kabupaten yang terlihat sepi, tidak padat, jalan lebar, bersih, nyaman dijalani… Sebuah kota kecil yang berkesan damai, walau konon sempat mencekam terimbas kerusuhan di Tarakan yang terjadi beberapa waktu yll.

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(9). Kulewati Malam Di Peraduan Kamar Hotel

Semalam di Tanjung Selor…

“Tumben tidak hujan”, kata seorang teman yang tinggal di Tanjung Selor. Kulalui malam di peraduan kamar hotel, karena ingin menyaksikan kesebelasan negerinya para TKW ini memberangus negerinya majikan TKW dengan skor 5-1. “Tumben tidak kalah”, kata seorang teman juga…

Kulewati malam, dinihari, fajar hingga pagi, dalam syahdu, rindu, indah dan kesyukuran, menyongsong esok yang kan terus menjelang…

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(10). Seperti Kuda

Tanjung Selor, ibukota kabupaten Bulungan (Kaltim), yang memiliki jalan-jalan lebar tapi lalulintasnya tidak padat ini terasa makin sepi saat malam menjelang. Walau begitu perilaku pengendara sepeda motor sering mengejutkan. Bludas-bludus, belak-belok, slonang-slonong… seperti kuda (padahal kuda saja masih nurut perintah kusirnya), sesuai selera pikiran pengendaranya. Aaaaah…, sami mawon ternyata…

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(11). Ikan Senangin Goreng Di RM “Bagi Alam” Tanjung Selor

Makan siang… Ikan lagee, ikan lagee… Kali ini ke RM Ikan Bakar “Bagi Alam”, Jl. Sengkawit, Tanjung Selor, Bulungan (Kaltim). Pilihan jatuh ke ikan senangin goreng (tidak tahu apa nama lain dari ikan ini), lalapan (tapi matang) kacang panjang, kol, sawi hijau, paria… Menu pembukanya too-sottoo… Wah, menunya ikan terus? “Baik untuk orang seusia kita”, kata temanku… (asal tidak bosan saja…).

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(12). Tidak Ada Sinyal Hape

Hari hampir malam ketika kemarin tiba di desa Binai, kecamatan Tanjung Palas Timur, kabupaten Bulungan, setelah menempuh perjalanan hampir dua jam ke arah tenggara dari Tanjung Selor. Di daerah ini ada batubara dan itulah tujuan kunjungan saya…

Tapi tidak ada sinyal hape, manjat pohon pun belum tentu dapat. Untuk mendapatkan sinyal harus pergi ke tempat terbuka yang berjarak sekitar 6 km. Coba kalau ada yang jual…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(13). Menu Sayur Pucuk Nibung

Angkasa Binai begitu cerah tadi malam. Kupandang langit penuh bintang bertaburan…, tapi bulan belum tiba waktunya berkunjung. Di sebuah rumah, kunikmati makan malam dengan menu sayur pucuk nibung. Sejenis pohon palem hutan. Setelah dimasak, bentuk dan rasanya seperti sayur keluwih atau jantung pisang.

Sebenarnya tidak ada rasanya. Kok… dimakan? Karena indra pencecap merasakan taste yang khas. Pokoknya woenak.., dan habis banyak…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(14). Disuguh Kopi Panas Dan Jagung Rebus

Kami tinggal di sebuah rumah penduduk. Pak Antung pemilik rumah itu, adalah salah seorang sesepuh desa Binai. Bercengkerama (kata dasarnya bukan ‘cengkeram’) di rumah panggungnya hingga tengah malam, menambah wawasan tentang masyarakat Binai. Sambil disuguh kopi panas dan jagung manis rebus masih panas yang jagungnya baru dipetik dari ladang. Hmmmm…, biar perut sudah kenyang tapi tetap saja habis dua jagung ukuran besar…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: