Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (6 – Selesai)

(35). “Burung Singa” Tak Mau Ingkar Janji

Seperti tak mau kalah dengan Merpati dan Merapi, “Burung Singa” pun tak mau ingkar janji. Di bandara Mutiara Palu, panggilan boarding dilakukan sesuai jadwal. Eh, lha ternyata take-off tetap saja terlambat lebih 20 menit tanpa permohonan maaf.

Maka bagi penumpang maskapai ini, ketika beli tiket harus juga sudah menyediakan maaf untuk diberikan tanpa diminta, dan dilarang sakit hati…, kalau rada serik (jengkel) boleh…

(Makassar, 30 Oktober 2010)

——-

(36). “Sang Kondektur”

Di bandara Sultan Hasanuddin Makassar, di ruang tunggu Gate 5, seorang petugas Wings bin Lion Air berteriak-teriak sambil mondar-mandir seperti kondektur bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi).

Karena penasaran kudekati “sang kondektur” ini, lalu kutanya: “Jurusan mana mas?”.
Jawabnya: “Baubau…”.
“Ooo saya kira jurusan Surabaya. Saya mau naik Lion yang ke Surabaya…”, kataku.

(Makassar, 30 Oktober 2010)

——-

(37). Seorang Nenek Dan HP-nya

Pesawat Wings Air segera tinggal landas dari bandara Mutiara Palu. Seorang nenek di kananku terlihat bingung karena HP-nya tak henti-henti menderingkan suara kodok. Saking gugupnya HP lalu dimasukkan ke dalam tas tangannya. Ya tetap saja terdengar suara kodoknya. Lalu dikeluarkan lagi. Rupanya si nenek tidak bisa mematikan HP-nya.

Maka pesannya adalah: Jangan sekali-sekali membeli HP yang tidak bisa dimatikan. Belilah HP yang ada tombol “Mati”-nya.

(Makassar, 30 Oktober 2010)

——-

(38). Tiba Kembali Di Jogja

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya tiba kembali di Jogja. Setelah menempuh perjalanan poanjang Jogja-Makassar-Mamuju-Palu-Makassar-Surabaya-Jogja, selama lima hari. Bandara Adisutjipto memang katanya tadi pagi sempat ditutup sebentar. Alhamdulillah juga, masih sempat merasakan rumah yang ngeres (apa ya bahasa Indonesianya? Sedikit kotor oleh debu, begitulah…).

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

(39). Secangkir Kopi “Harapan”

Saya ingat pesan mas Aceng alias Arif Abdullah pemilik warung kopi “Harapan” Palu, dengan gaya canda kira-kira katanya: Bagi penikmat kopi, jangan tinggalkan Palu sebelum menikmati kopi “Harapan”. Sempat kubujuk dia, datanglah ke Jogja dan bukalah cabang di sana…

Malam ini, begitu tiba di rumah, secangkir kopi “Harapan” langsung saya seduh…. Uuugh, nikmatnya. Aromanya tidak seberapa, tapi sensasi kentalnya mroso tenan, theng-nya mantaff...

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,


%d blogger menyukai ini: