Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (5)

(27). Meninggalkan Karossa

Jam 06:45 WITA meninggalkan Karossa ke arah utara menuju kota Palu (Sulteng). Perjalanan 4-5 jam akan saya tempuh untuk mengejar pesawat siang dari Palu yang akan terbang menuju Surabaya lalu Jogja.

(Karossa, 30 Oktober 2010)

——-

(28). Itulah Juga Indonesia

Dalam perjalanan antara Karossa (Sulbar) – Palu (Sulteng), seorang teman merasa kesal karena susah menghubungi saya dan sekalinya bisa nyambung, terputus beberapa kali.

Saya katakan: “Jangan dibayangkan seperti di Jawa”. Dari satu tempat sampai tempat lain, berjajar sinyal-sinyal, sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Di Sulawesi, sinyal tidak sambung-menyambung menjadi satu, tapi itulah juga Indonesia

(Antara Karossa – Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(29). Membunyikan Klakson Panjang-panjang

Saya tidak habis pikir, pak sopir ini setiap kali ada orang, sepeda, apalagi sepeda motor, selalu membunyikan klakson panjang-panjang seperti sedang marah. Membuat jadi risih di telinga. Jadi ingin tahu kenapa.

Rupanya orang-orang itu suka jalan atau menyeberang seenaknya, terutama penyepeda motor yang suka tiba-tiba jalan ke tengah, memotong jalan tidak tolah-toleh atau memberi tanda. Kalau di Jawa suka saya bilang ke ibunya anak-anak: “Kuwi jaran (itu kuda)…”.

(Antara Karossa – Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(30). Bukan Anak Anjing Tapi Batu

Setelah ‘kresss‘…mobil yang kunaiki melindas sesuatu menjelang kota Donggala tadi pagi, pak Sopir tampak gelisah, lalu mengurangi laju mobilnya yang sebelumnya ngebyut-byut. Aku bergumam: “Tadi itu anak anjing. Salah sendiri, tiduran kok di tengah jalan”.

Pak sopir menimpali santai: “Bukan pak. Itu tadi batu…”. Sejenak aku terpana…, lalu berkata: “Iya pak, tadi itu batu…”, lalu kata batinku: “dan batu itu bernama anak anjing…”.

(Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(31). Antara Donggala – Palu

Jalur sepanjang sekitar 30 km antara Donggala – Palu, menyusuri pesisir teluk Donggala yang berpemandangan cukup menarik (saya bayangkan kalau malam pasti tampak indah sekali dengan kerlip lampu kawasan Palu yang berada di perbukitan). Kota Donggala dan Palu memang baku hadap terpisah teluk.

(Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(32). Kaledo Khas Palu

Kaledo (kaki lembu donggala), menu khas Palu. Tulang dan sumsum kaki sapi dimasak dengan kuah rasa asam, dimakan tidak dengan nasi tapi ubi rebus, dengan asesori bawang goreng khas Palu dan paru goreng. Serasa belum makan (wong tanpa nasi), tapi kuenyangnya minta ampyun

Huhmm, mak nyusss tenan itu namanya sumsum kaki. Tapi menyesuaikan status Merapi, statusku pun meningkat ke Awas kolesterol… (Ya diawasin aja, kaledonya tetap buablass).

(Palu, 30 Oktober 2010)

——-

(33). Perjalanan Setengah Trans – Sulawesi

Tunai sudah perjalanan darat setengah Trans Sulawesi melintasi Makassar (Sulsel) – Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng) sejauh lebih dari 800 km. Siang ini tiba di bandara Mutiara Palu, siap-siap melanjutkan perjalanan udara dengan “Burung Singa” Palu-Makassar-Surabaya-Yogyakarta.

(Palu, 30 Oktober 2010)

——-

(34). Mampir Ke Warung Kopi “Harapan” Palu

Mampir ke warung kopi “Harapan” Jl. M. Yamin, yang sudah kondang di Palu. Warkop milik mas Acang alias Arif Abdullah ini menjual minuman kopi racikan rahasia run-temurrun dari embahnya yang asli dari Tiongkok, yang sudah membuka warung kopi sejak tahun 1959.

Taste kopinya benar-benar spesial, sensasi theng-nya nuikmat tenan… Sayang tidak menjual bubuk kopinya. Perlu dirayu dulu untuk akhirnya sekantong kecil bubuk kopi bisa saya bawa pulang.

(Palu, 30 Oktober 2010)

——-

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: