Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (4)

(19). Hidup Tanpa Sinyal

Hujan deras mengguyur, kemarin sore ketika tiba di camp di perbukitan Sanrege, Mamuju (Sulbar). Logistik segera dibongkar, ngupy dulu… Genset segera disiapkan.

Malam pertama di hutan bertepatan dengan malam Jum’at. Sinyal tak kunjung singgah, harus dijemput ke tempat tinggi, sedang hujan masih menyisakan guyurannya. Terasa sinyal seperti menjadi kebutuhan pokok (lengkap dengan HP dan pulsa tentu saja), hidup seperti ada yang kurang jika tanpa sinyal…

(Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010)

——-

(20). Mandi Di Sungai

Pagi, awan mendung menggelayut, tapi tidak hujan. Air sungai yang semalam keruh karena banjir pagi ini sudah surut. Membasuh muka, tangan, ubun-ubun lalu kaki, di tepi sungai yang arus airnya deras dan dingin, seolah menyemangati untuk segera nyubuh

Lalu, ngupy pagi… Waaah, selalu saja mengasyikkan, sambil duduk-duduk di beranda pondok di dekat sungai. Lalu, mandi di sungai. Uuugh, segar sekali… Mandi pagi kalau biasa, sejuk dingin tidak terasa.

(Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010)

——-

(21). Tidak Jum’atan

Terpaksa tidak Jumatan siang ini. Di camp sendiri menunggu teman yang akan mengantar ke kota. Kalau saja ada teman yang mau Jumatan (karena ada yang nggak mau), Jumatan dapat diatur. Salah satu menjadi khatib (tukang khotbah) merangkap imam (pemimpin sholat), satu lagi menjadi muadzin (tukang adzan) merangkap makmum (peserta sholat).

Lha kalau sendirian? Di hutan, hujan, nggak ada sinyal, rokok juga habis (keukeuh we..), teman nggaaak datang-datang, yo wis…

(Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010)

——-

(22). Mindset Seorang Petani

Ngobrol dengan seorang peladang. Banyak petani punya ladang luas ditanami coklat atau kakao. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Tapi kenapa tingkat kehidupan mereka begita-begitu saja dari tahun ke tahun?

Dengan bahasa sederhana peladang itu mengatakan, bahwa itu karena mindset mereka adalah berladang dan bukan berbisnis hasil pertanian. Maka yang penting bagaimana mereka bisa hidup dari ladangnya, dan bukan bagaimana mencari keuntungan sebesar-besarnya.

(Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010)

——-

(23). Hanya Ada Satu ATM

Tidak ada ATM di Karossa. Maka ketika saya perlu uang tunai, terpaksa harus mencari ATM ke kota kecamatan terdekat, yaitu kecamatan Topoyo yang berjarak sekitar sejam berkendaraan ke arah selatan dari Karossa. Itu pun di sana hanya ada satu mesin ATM milik BRI… Lha, kalau kebetulan rusak? (rusak kok kebetulan…). Pergilah ke kota Mamuju atau Palu yang berjarak 3-4 jam berkendaraan.

(Karossa, 29 Oktober 2010)

——-

(24). Mereka Yang Beruntung

Jam 16:00 WITA, dari Karossa menuju selatan sejauh satu jam untuk mencari ATM. Begitu dapat duit langsung kembali ke Karossa. Dilanjutkan menuju utara sejauh setengah jam untuk mencari warung agak enak. Begitu dapat kepala ikan langsung kembali ke Karossa, tiba jam 21:00 WITA –

Yen tak pikir-pikir.., betapa beruntung mereka yang tinggal di kota-kota besar. (Tapi jelas tidak boleh diterjemahkan betapa tidak beruntung mereka yang tinggal jauh dari kota besar…).

(Karossa, 29 Oktober 2010)

——-

(25). Sayur Kepala Ikan

Menu makan yang hampir selalu dijumpai di jalan lintas Sulawesi adalah ikan laut. Calon pemakan memilih sendiri ikan dalam almari pendingin. Setelah itu tinggal mau digoreng, dibakar atau disayur. Saat itu juga ikan langsung dimasaknya, dan selalu disajikan dengan asesori kuah.

Malam ini, di “Warung Hery”, Sarudu, Mamuju, kupesan kepala ikan batu yang disayur asam. Bumbunya pas sekali, sehingga ketika disruput celah-celah tulangnya…hmm suedap tenan.

(Sarudu, 29 Oktober 2010)

——-

(26). Kehidupan Pagi Di Karossa

Yang saya sukai dengan kehidupan di kota kecil seperti Karossa ini adalah banyak warung, kios atau toko yang sudah membuka usahanya sebelum jam enam pagi. Khas kehidupan kota di kawasan jalur lintas atau transit, seperti di jalan poros Trans-Sulawesi ini.

Rejeki memang tidak akan kemana, tapi kalau tidak dicari ya akhirnya benar-benar tidak akan kemana-mana, tidak juga mampir ke rumah kita (mampir saja tidak, apalagi mendayagunakannya).

(Karossa, 30 Oktober 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: