Catatan Harian Untuk Merapi (9)

(79). “Penggampangan Bahasa”

Mbah Merapi masih AWAS, tapi tadi malam Mbah Rono (Ketua PVMBG) mengubah status aman per wilayah kabupaten. Kalau semula sama pada radius 20 km dari puncak Merapi, kini: Boyolali 10 km, Magelang 15 km, Klaten 10, Sleman 20 km.

Ada yang salah? Ya, lagi-lagi soal “penggampangan bahasa” (alias: pokoke ngerti dhewe lah..). Status aman pada jarak 20 km dari Merapi, artinya pada area itulah yang aman. Padahal yang dimaksud adalah sebaliknya. Oh, bahasaku, bahasaku…

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(80). Penanganan Pasca Bencana

Penanganan pasca bencana bagi korban Merapi akan jauh lebih rumit dibanding korban gempa Jogja 2006. Rehabilitasi korban gempa lebih ke infrastruktur dan fasilitas, seperti rumah-rumah yang roboh. Tapi rehabilitasi korban Merapi?

Ribuan hektar sawah ladang dan prasarana rusak. Mereka yang umumnya petani penggarap dan pemilik lahan harus mulai dari nol. Selama itu pula mereka tidak punya penghasilan. Dan ini rawan. Maka bagi pemerintah statusnya menjadi AWAS..!

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(81). “Let’s Think and Do Something”

Masalah penanganan pasca bencana Merapi, Mentawai atau Wasior hampir sama… Sama-sama rumit. Membangkitkan kembali kehidupan ekonomi masyarakat yang telah terpuruk. Maka kepada rekan-rekan yang berbasis di LSM, kampus atau manapun, ajakannya adalah: “Let’s think about it and do something. They need you!”, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Setelah itu, monggo… kalau mau meneruskan mencak-mencak dan misuh-misuh lagi di depan istana…

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

 

(82). Abu Tipis Masih Mengotori

Jogja siang ini redup, mendung berawan, agaknya bersiap mau hujan. Merapi mengeluarkan awan panas. Lahar dingin sewaktu-waktu siap menggelontor ke kali Code. Abu tipis masih mengotori udara Jogja, tidak terlihat tapi nampak jelas menempel di mobil yang berwarna hitam. Ada baiknya lengkapi diri dengan masker jika Minggu ini hendak keluar rumah, kecuali kalau hujan… (bawa payung atau ponco maksudnya, karena airnya akan bercampur abu)

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(83). Nasi Bungkus Untuk Berbuka

Sore tadi membantu persiapan sholat Ied dan ritual penyembelihan kurban di kampung untuk Hari Idul Adha besok. Tiba waktu maghrib, tiba waktu berbuka bagi mereka yang berpuasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). Di masjid sudah tersedia segelas teh hangat dan sebungkus nasi Padang. Bukan pengungsi saja yang makan nasi bungkus rame-rame… Hanya bedanya, nasi bungkus yang saya makan bukan karena keterdesakan melainkan direncanakan. Ada “taste” yang beda…

(Yogyakarta, 15 Nopember 2010)

——-

(84). Berbekal Masker Di Malam Takbiran

Malam ini, sebagian besar masyarakat Jogja bermalam takbiran, menyongsong datangnya Idul Adha 1431H besok. Gaung suara takbir, tahmid, tahlil, membahana ke penjuru langit Jogja yang cukup cerah dan nampak bersih. Rembulan tanggal 10 Dzulhijjah 1431 melintas jelas di tengah angkasa… Tapi sebagian wilayah Jogja utara terjadi hujan abu tipis. Para pejalan malam dan pentakbir jalanan perlu waspada dengan berbekal masker, kecuali kambing-kambing dan sapi2-sapi…

(Yogyakarta, 15 Nopember 2010)

——-

(85). Happy Ending Sandiwara Merapi

Indah sekali cara Mbah Rono (Surono, Kepala PVMBG) menyikapi Merapi sejak status AWAS tiga minggu yll. Polah Gunung Merapi yang susah ditebak, tidak seperti biasanya, bagi Mbah Rono bagai sebuah permainan. Harus dipahami tidak dalam konteks meremehkan melainkan kearifan moral dalam bersikap.

Kata Mbah Rono: “Ingin happy ending dalam sandiwara Merapi ini…” — “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sendau gurau…” (QS.47:36).

(Yogyakarta, 16 Nopember 2010)

——-

(86). Berkorban Di Kala Sempit

Berat nian derita para petani-peternak dari lereng Merapi. Rumahnya luluh-lantak, sawah-ladangnya porak-poranda, ternaknya gosong-terpanggang, tinggal jiwanya nglangut di pengungsian bersama anak dan ternak yang terbawa. Kini masih diimbuhi peluang yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepada mereka, ketika dengan spirit Ibrahimnya memutuskan untuk “berkorban di kala sempit” dengan sapi-sapinya. Hanya jika mereka mengetahui…(dan kita boleh iri).

(Yogyakarta, 16 Nopember 2010)

——-

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: