Catatan Harian Untuk Merapi (8)

(69). Ketika Sawah Ladang Rusak Dan Ekonomi Lumpuh

Dusun Pepe, Muntilan, berada pada Ring 22 Km, sedikit di luar “zona merah”. Sebagian warganya masih bertahan sejak letusan besar Merapi (5/11). Mereka memilih tidak mengungsi dan memang tidak harus mengungsi. Walau dekat situ ada posko pengungsian Van Lith, apa bedanya dengan tetap tinggal di rumah. Tapi masalahnya, karena sebagian besar dari mereka adalah buruh harian dan petani, maka tidak ada yang dapat mereka perbuat. Sedang semua sawah ladang rusak, aktifitas ekonomi lumpuh.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(70). Ke Dusun Pepe Muntilan

Kemarin saya menerima transfer sejumlah dana dari Papua. Maka hari ini saya kirimkan enam karung beras (150 kg) dan satu karung gula pasir (50 kg) ke dusun Pepe, Muntilan. Sekitar 90 KK kini termangu-mangu di rumahnya. Tidak ada yang dapat mereka kerjakan untuk mengais upah, selain membersihkan abu tebal yang mengotori rumahnya. Beberapa rumah roboh karena tidak kuat menahan beban gumpalan tebal abu vulkanik, apalagi ketika basah kena hujan (Terima kasih untuk mas Anto Kadyanto).

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(71). Mengais Sisa Padi

Mbok Yanti gusar. Padinya yang sudah menguning siap dipanen itu rupanya bukan rejekinya. Abu vulkanik yang seperti tiada jeda menghambur sejak letusan besar Merapi (5/11) telah memupus harapannya. Hari-hari ini, janda beranak empat itu dengan dibantu seorang anaknya berusaha mengais, memilih dan memilah sisa padinya yang hancur rata dengan lumpur sawah. Batang padi yang masih bagus dipotong lalu dikeringkan seraya berharap masih ada beras dapat diperoleh, seadanya.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(72). Korban Merapi Non-Pengungsi

Korban Merapi Non-Pengungsi… Mereka tinggal di sekitar kawasan batas Ring 20 Km. Mereka tidak harus mengungsi, tapi praktis tidak banyak yang dapat dikerjakan. Sebagian mereka adalah buruh harian (tani/bangunan/pasar/jasa). Tidak ada aktifitas bertani, bahkan sawah-ladang rusak. Tidak ada aktifitas usaha/ekonomi. Maka tidak ada juga penghasilan harian. Mereka nyaris tak tersentuh bantuan, berbeda dengan pengungsi yang jelas-jelas meninggalkan rumahnya dan full bantuan…

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(73). Menjelang Kota Muntilan

Menjelang masuk kota Muntilan dari arah Jogja, hamparan abu vulkanik tampak di sepanjang jalan. Sebagian sudah dibersihkan, sebab jika tidak, saat hujan akan menjadi licin. Namun gumpalan abu yang melekat di aspal masih tebal di setengah bagian luar dan tengah-tengah jalan. Saat kering, abu berhamburan nyaris tak menyisakan jarak pandang.

Maka bagi para sopir, jangan lupa nyalakan lampu dan kurangi kecepatan. Hati-hatilah, masih ada abu vulkanik yang akan lewat…

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(74). Masih Ada Peluang “Berbisnis”

Malam ini saya menerima SMS dari dusun Pepe, Muntilan, mengabarkan bahwa bantuan yang tadi siang sedang didistribusikan dibagi dalam paket-paket untuk 88 KK prioritas yang dipandang membutuhkan (dari sekitar 150 KK yang ada di sana). Tidak lama kemudian Pak RW-nya juga tilpun.

Tertangkap kesan betapa mereka sangat membutuhkan dan karena itu juga sangat berterima kasih. Masih ada kesempatan dan peluang “berbisnis” dengan pengungsi atau korban yang lain…

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(75). Merapi Sedang Leyeh-leyeh

Sejak siang tadi hingga malam ini sebagian kota Jogja seperti dikepyuri (ditaburi) hujan abu tipis. Entah datang darimana kalau mengingat Merapi sedang leyeh-leyeh seharian ini. Semakin ke arah utara semakin terasa. Memang tidak terlalu tampak dipandang mata, tapi dapat dirasakan. Ada baiknya gunakan masker ketika bepergian keluar. …Jika tidak, jangan kaget kalau tahu-tahu rambut terasa kotor dan pernafasan agak sesak.

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(76). Menyusuri Dusun Pepe Muntilan

Tengah hari, berjalan menyusuri dusun Pepe, Muntilan. Pepohonan tampak berwarna keabu-abuan. Sebagian besar dahannya patah tak mampu menahan beratnya gumpalan abu vulkanik yang melekat. Nyaris semua rusak dan hancur, padi di sawah yang berteras, kebun salak, cabe, tomat, terung, bahkan daun kelapa pun lunglai tak kuasa menahan beban. Kebetulan sedang tidak hujan abu, tapi saat angin bertiup kencang, kepala seperti diguyur debu yang rontok dari pohon.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(77). Datanglah Ke Jogja

“Merapi mengancam, Muntilan mencekam”… Itu bahasa televisi. Berita itu tidak salah. Merapi sejak jaman nabi Adam ya begitu itu. Muntilan mencekam pada satu kawasan saat malam Jum’at, listrik mati, langit mendung, ada petir, hujan abu, terdengar suara gemuruh, sepi tidak ada orang lewat, perut lapar… Padahal tidak seluas Muntilan seperti itu.

Maka kalau ingin menikmati rasa takut, tontonlah TV. Tapi kalau ingin menikmati Merapi, datanglah ke Jogja.

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(78). Ketika Tenggorokan Terasa Serak

Tenggorokan kok terasa agak serak-serak gitu… Sepertinya ada abu vulkanik yang singgah di sana. Obatnya? Mampir ke angkringan-nya kang Umar di Bintaran Kulon Jogja, beli teh jahe… Sembuh? Siapa bilang…, cuma rasa abu berganti dengan rasa jahe, sedang abunya ya tetap di sana…

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: