Catatan Harian Untuk Merapi (7)

(58). Bintang Kecil

Dini hari ini langit Jogja begitu cerah. Gemintang menyebar seluas antariksa…..

Bintang kecil di langit yg tinggi
amat banyak menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada…..

(Nyanyian masa kanak-kanak itu kini semakin terlupakan. Coba saja tanyakan anak-anak kita. Tapi hamparan indah itu dua minggu ini sering tertutup abu vulkanik Merapi….)

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(59). Tutul-tutul Abu-abu Abu Merapi

Memasuki minggu ke-3 AWAS Merapi… Baru pagi ini saya tidak perlu memandikan mobil yang kuparkir di karpot. Sebelumnya tiap pagi mobil harus diguyang (dimandikan), digosok dan dilap, karena warna aslinya yang hitam selalu berubah menjadi tutul-tutul abu-abu abu Merapi.

Pertanda bahwa kemarin dan tadi malam tidak ada abu yang berkeliaran. Tapi prihatin dengan saudara-saudara yang tinggal di baratnya Merapi (Muntilan, Magelang, dkk), karena angin kuat berhembus ke arah barat…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(60). Tentang Sendal Jepit

Sendal jepit untuk pengungsi. Apa pentingnya? Ketika pengungsian harus pindah-pindah dalam suasana buru-buru bin panik karena perubahan radius KRB (Kawasan Rawan Bencana), sendal adalah piranti yang sering keteteran dibawa. Hilang, tertinggal, terbawa sebelah, selen (ketukar sebelah), dsb. Kini di pengungsian, mau jalan keluar kagok, ke kamar mandi atau wudhu bergantian. Padahal jumlah mereka ada ratusan, eh ribuan. “Oh sendal jepit, betapa aku butuh kamu…”

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(61). Di Batas “Zona Merah”

Menjelang tengah hari di batas “zona merah” Jl. Kaliurang, Jogja (radius 20 km dari Merapi). Jalan baru distop di Km-14, padahal mestinya di sekitar Km-11. Toko-toko banyak tutup, tapi ada juga yang buka. Rumah-rumah dikosongkan, tapi ada juga yang masih berpenghuni. Suasana lengang, tapi lalu lintas tetap ramai, sehingga pak polisi perlu menghalo-halo (dengan megaphone) dan menghalau-halau (dengan tongkat), intinya dilarang masuk. Entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(62). Tentang Pakaian Dalam

Di posko-posko pengungsian umumnya bantuan berupa pakaian melimpah ruah. Tapi di beberapa lokasi masih ada yang butuh handuk, selimut dan pakaian dalam. Sehelai handuk bisa dipakai rame-rame, selembar selimut bisa berbagi, tapi pakaian dalam? Bayangkan kalau tidak ganti sekian hari. Sedang umumnya mereka kabur dari rumah bukan seperti orang mau pergi haji, melainkan seperti dikejar kirik (anak anjing). Maka jangan diketawain kalau ada yang malu-malu butuh cede wal-beha

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(63). “Pulang Kampung Nih…”

Berita di televisi seringkali lebih heboh, dramatis dan menakutkan daripada aslinya. Dapat dipahami, kalau ada 100 momen, 99 momen “baik-baik saja” dan satu momen “dramatis”, maka sang reporter akan memilih yang satu momen itu untuk ditayangkan. Cilakaknya, penonton di rumah lalu menyimpulkan bahwa 100 momen itu “dramatis” semua.

Maka para orang tua nun jauh di sana lalu menyuruh anaknya yang kost di Jogja untuk segera “pulang kampung nih…” (dengan dialek mas Obama).

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(64). Hidup Dijalani Sebagai Ibadah

Selamat datang di kota kami
Yogyakarta aman dan tentram…

(Mars Yogyakarta)

Kalau ada gunung meletus? Ya berlindung atau lari menghindar. Kalau ada banjir? Ya mengungsi. Kalau ada gempa? Ya menyelamatkan diri. Saya akan melakukan hal yang sama andai tinggal di Jakarta, Sabang atau Merauke.

Tapi kalau saya tinggal di lereng Merapi sedang saya tahu itu masuk KRB, maka saya salah kalau berdiam diri. Sesederhana itu hidup ini saya jalani sebagai ibadah…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(65). Pengungsi Mulai Bosan

Pengungsi di GOR Maguwoharjo, Sleman, mulai pada bosan. Lalu ada yang pindah, minta pulang, dsb. Tapi ada yang kreatif. Di UII, diajari membuat kerajinan kalung (tapi kan tidak semua suka). Di UPN, diadakan senam masal (apa ya mau tiap hari senam). Di UMY, dibangun dapur mandiri (bisa masak sesuai selera). Walau kebanyakan mereka petani, apa ya mau bercocok tanam di halaman? Intinya: Perlu waspada terhadap “kreatifitas jenis lain”…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(66). Numpang Laporan

Sebagai Laporan: Saya telah menerima transfer bantuan untuk pengungsi Merapi sejumlah Rp 4,5 juta. Sudah saya distribusikan berupa nasi bungkus, beras, sendal, handuk dan selimut, ke beberapa lokasi pengungsian di Kalasan dan Prambanan, Sleman. Masih tersisa dana Rp 38 ribu yang rencananya akan saya salurkan menyusul (Terima kasih untuk mas Ari Muriyanto, mas Budi Yuwono, pak Didiek Subagyo, mbak Anita Nitisastro).

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(67). Mengarahkan Bantuan Ke Muntilan

Kebanyakan posko pengungsian yang menyebar di wilayah kota Jogja dan kabupaten Sleman kebutuhannya sudah tercukupi bahkan berlebih (pemerataannya yang belum). Maka saya berencana mengarahkan bantuan ke kawasan lain yang masih minim bantuan, seperti kota Muntilan, kabupaten Magelang.

Muntilan yang sempat lumpuh dan nyaris seperti kota mati ternyata banyak “menyimpan” pengungsi. Ke sanalah saya berencana menyalurkan bantuan titipan dari teman-teman Facebook.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(68). Kali Code Banjir Malam Ini

Jogja malam ini sekitar jam 21:00 – 21:30 WIB… Kali Code banjir cukup besar, membawa material lahar dingin. Di beberapa lokasi muka air sudah melebihi tinggi talut, meluber. Beberapa jembatan ditutup sebagai langkah pengamanan. Berharap tidak berlangsung lama dan tetap terkendali.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

2 Tanggapan to “Catatan Harian Untuk Merapi (7)”

  1. ray Says:

    Haru… Sabar dan tetap tabah Saudaraku. Jangan berpaling hanya karena diuji olehNya. Teruslah bangkit, Tuhan selalu ada di sampingmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: