Catatan Harian Untuk Merapi (3)

(15). Waspada Banjir Lahar Dingin

Jogja hujan derasss… Semoga membantu ngerih-rih (meredakan) “kemarahan” Mbah Merapi… Setidak-tidaknya, udara Jogja yang kotor oleh taburan abu vulkanik menjadi agak menyegarkan. Tapi tetap waspada banjir lahar dingin…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(16). Berdoa Di Waktu Kritis

Jogja hujan deras, petir menyambar-nyambar, di tengah rasa takut terhadap bencana Merapi… Wahai warga Jogja, inilah salah satu saat terdekat dengan Sang Maha Penguasa Jagat Seisinya, termasuk isinya Merapi. Maka tundukkan hati dan  pikiran sejenak, lalu berdoa. Sisipkan doa apa saja, termasuk kalau ingin kaya, dapat jodoh, naik pangkat, naik gaji, naik haji… (ini serius). Manfaatkan waktu kritis ini. Syukur kita memperoleh peluang luar biasa ini…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(17). Menulis Makalah

Puji Tuhan walhamdulillah, sambil menemani Mbah Merapi terbatuk-batuk, dalam cuaca hujan deras dan petir menyambar-nyambar siang tadi, sebuah makalah berhasil diselesaikan untuk bahan seminar besok pagi. Topiknya tentang berbahasa tulisan di dunia maya. Lhadalah…, gak ono hubungane karo tambang babar blasss…(tidak ada hubungannya dengan ilmu tambang sama sekali). Yo wis.., tiba saatnya mendongeng berbagi pengalaman…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(18). Musim Gunung Tidak Normal

Lagi musim gunung tidak NORMAL. Ada 20 saudaranya Merapi menggeliat. Berita yang sebenarnya “normal” itu menjadi terkesan “menakutkan” kalau penjelasan di media tidak jelas. Tapi media memang suka begitu.

Contohnya, running text di sebuah TV. Katanya: ‘anak’ gunung Krakatau meningkat aktivitasnya. Lho, kapan ibu Krakatau melahirkan? Padahal maksudnya adalah gunung ‘Anak’ Krakatau. Khawatir saja kalaou nanti ditulis gunung Krakatau ‘anak’..

(Yogyakarta, 4 Nopember 2010)

——-

(19). Gerimis Pasir Dini Hari

Tengah malam di Jogja.., malam Jum’at Pahing, air gerimis telah mereda, geluduk bersahutan. Nun jauh di utara terdengar lembut gemuruh erupsi Merapi dan hujan air telah berganti dengan gerimis pasir Merapi… Lewat tengah malam…, gerimis pasir terdengar semakin lebat. Bukan lagi…tik-tik-tik bunyi hujan, melainkan…krutuk-krutuk-krutuk

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(20). Penggalangan Nasi Bungkus

Rencana mengisi seminar pagi ini, tentang berbahasa tulisan di dunia maya, dibatalkan. Kawasan tempat seminar (kampus UPN “Veteran” Yogyakarta) sedang disibukkan sebagai tempat pengungsian sejak memburuknya dampak letusan Merapi tadi malam. Simpan dulu file Powerpoint, diganti dengan penggalangan nasi bungkus…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(21). Ketika Dapur Umum Belum Siap

Wajah-wajah lelah, letih, bingung, ngantuk, terpancar dari lebih 700 pengungsi yang hari ini ditampung di Auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta. Mereka sejak dini hari tadi dievakuasi dari berbagai barak pengungsian di utara Jogja yang harus menghidar dari radius 20 km.

Dapur umum belum bisa segera disiapkan, sehingga nasi bungkus adalah solusi termudah sementara ini. Itu yang terjadi di banyak tempat pengungsian dadakan di wilayah kota sejak dini hari tadi.

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(22). Ketika Pengungsian Harus Berpindah-pindah

Hingga Jumat siang ini jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY terus bertambah. Sebagian adalah anak-anak yang dipindahkan dari Stadion Maguwoharjo yang kondisinya terbuka dan kurang terlindung. Tikar, makanan bayi, pakaian dalam, adalah sebagian kebutuhan yang mendesak, setelah makan tentu saja…

Situasi pengungsian yang berpindah-pindah seiring status Merapi, bisa dipahami akan “membingungkan” Posko Utama dalam mendistribusikan bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(23). Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY semakin banyak. Siang ini jumlahnya sudah lebih 1200 orang dan diperkirakan masih akan terus bertambah sebab mereka yang masih ada di bagian utara Jogja segera harus menjauh dari Merapi. Kini pengungsian banyak terpusat di kampus-kampus yang ada di kota Jogja. Bantuan pun terus berdatangan, dari swasta dan personal. Perpindahan mendadak ke berbagai tempat ini pasti akan menyulitkan manajemen distribusi bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(24). Terbangunnya Kekompakan

Melihat orang-orang muda itu begitu kompak bahu-membahu bekerjasama mengelola bantuan bagi pengungsi, indah sekali tampaknya. Tapi…, masak sih kekompakan itu hanya dapat terbangun ketika ada bencana? Sedang ketika suasana aman dan tenteram mereka kembali timpuk-timpukan? Jika demikian, jangan kemudian menyalahkan Tuhan, kalau….

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(25). Waspada Banjir Lahar Di Kali Code

Siang ini Kali Code yang membelah kota Jogja sempat nyaris penuh membawa lumpur lahar dingin. Masyarakat di lembah Code sudah bersiap-siap mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Kentongan tanda bahaya dipukul bersahut-sahutan, sebagian harta benda diamankan. Tapi alhamdulillah…air kemudian surut, masyarakat pun lega. Namun semua paham bahwa ancaman belum sepenuhnya berlalu…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: