Catatan Harian Untuk Merapi (19)

(156). Seputar Kali Gendol (1)

Tengah hari mendung, saya tiba di dusun Bronggang, desa Argomulyo, kecamatan Cangkringan, Sleman yang berjarak sekitar 25 km utara Jogja. Tepatnya di lintas jalan alternatif Magelang – Solo.

Sekitar 50 meter ke timur, sampai ke tepi kali Bendol, nampak ada dua dam sabo penahan aliran lahar. Sungai yang dulu dalam dan lebar itu kini penuh dengan material vulkanik gunung Merapi, abu, pasir, batu memenuhi kali Gendol hingga lebih tinggi dari damnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(157). Seputar Kali Gendol (2)

Langit Merapi mendung dan berawan. Bleger (profil) gunung yang sedang kecapekan setelah lebih sebulan aktif bererupsi itu tidak nampak jelas, hanya siluet bayangannya terlihat di balik awan.

Geluduk bersahutan, saat saya memandang sekeliling dimana sejauh mata memandang seolah hanya hamparan material vulkanik yang nampak. Sedang pepohonan kering dan gosong melatari di kejauhan.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(158). Seputar Kali Gendol (3)

Dari dusun Bronggang, bergerak lebih ke utara beberapa kilometer, melalui desa Wukirsari, sampai ke dusun Pager Jurang, desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, yang berada pada radius sekitar 10 km dari Merapi.

Timbunan material vulkanik di kali Gendol terlihat lebih lebar hingga ratusan meter, menimbun kawasan di luar bantaran sungai. Bahkan jalan aspal yang ada di tepi sungai pun tertimbun. Timbunannya lebih dari kampung di sekitarnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(159). Seputar Kali Gendol (4)

Awan panas (wedhus gembel) yang bersuhu sangat panas tidak saja berhembus turun mengikuti aliran kali Gendol tapi juga meluber hingga beberapa ratus meter ke luar bantaran, masuk ke pemukiman dan menyapu apa saja. Semua pepohonan terbakar dan hangus, rumah-rumah penduduk hancur, bahkan manusia dan ternak tak terkecuali.

Andai saja status Awas Merapi tidak segera diikuti dengan evakuasi total, maka korban jiwa tak terperikan lagi. Betapa dahsyatnya…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(160). Seputar Kali Gendol (5)

Lihatlah kawasan di sepanjang sisi kali Gendol di desa Glagaharjo. Pepohonan semua terbakar dan berwarna coklat mengering. Bahkan rumah-rumah penduduk pun terbakar, tampak dari banyaknya arang kayu sisa pembakaran. Belum lagi rumah-rumah yang roboh dan porak-poranda seperti habis terkena badai. Dan badai itu adalah awan panas.

Tak heran kalau setengah desa Glagaharjo bubar jalan, masyarakatnya pun belum bisa pulang dari pengungsian. Lha, mau kemana?

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(161). Seputar Kali Gendol (6)

Sebuah jalan desa di Glagaharjo terlihat lengang. Semua rumah di sepanjang jalan itu hancur dan menyisakan saputan abu yang masih melekat. Demikian pula tidak satu pun pepohonan selamat. Tak terbayangkan andai masih ada manusia di sana ketika awan panas menyinggahi rumah mereka.

Namun kini tanda kehidupan mulai terlihat dari warna hijau pohon pisang dan talas yang kontras dengan dominasi warna abu-abu, coklat dan hitam bekas kebakaran…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(162). Seputar Kali Gendol (7)

Cuaca mendung masih menyelimuti kali Gendol dan Merapi siang tadi. Namun sesekali awan beringsut seakan memberi kesmpatan kepada Merapi dan puncaknya agar dapat dilihat dengan jelas, walau cuaca tidak cerah.

Itulah menit-menit indah bagi kenampakan Merapi dari sungai Gendol. Walau hanya beberapa menit saja, tapi cukup untuk diabadikan atau menjadi latar untuk bergaya-gaya di depan kamera…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(163). Seputar Kali Gendol (8)

Kepulan asap terlihat muncul di beberapa tempat di hamparan material vulkanik di sungai Gendol. Menandakan bahwa di titik itu material masih sangat panas.

Untuk membuktikannya cukup dengan mendekatkan telapak tangan, panasnya masih sangat terasa. Bahkan hanya beberapa cm di bawah permukaannya, suhunya masih sangat poanasss… Yang terakhir itu sebaiknya tidak usah dibuktikan, kecuali dilengkapi dengan peralatan yang sesuai…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(164). Seputar Kali Gendol (9)

Cuaca masih mendung sore kemarin. Dari desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, lalu melanjutkan perjalanan ke sisi timur kali Gendol, ke desa Balerante, Klaten. Untuk mencapai Balerante jalannya harus memutar ke selatan lebih 20 km melalui jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Menyusuri jalan yang relatif lurus, mendaki dan beraspal cukup bagus akhirnya tiba di Balerante yang ternyata bersebelahan dengan desa Glagaharjo dimana kuburan Mbah Marijan berada.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(165). Seputar Kali Gendol (10)

Desa Balerante, kecamatan Kemalang, Klaten dan desa Glagaharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman dipisahkan oleh jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Kondisi kedua desa itu sangat parah. Amat memprihatinkan. Desa Glagaharjo di sisi timur kali Gendol hancur total. Tak satu pun rumah dan tumbuhan selamat dari awan panas. Begitupun desa Balerante bagian barat yang berbatasan dengan Glagaharjo. Warna abu-abu, coklat dan hitam mendominasi seluas mata memandang.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(166). Seputar Kali Gendol (11)

Balerante dan Glagaharjo berada dalam radius sekitar 4 km dari puncak Merapi. Sosok gunung itu nampak begitu dekat. Bahkan saat langit mendung dan berawan kemarin sore, sosok menakutkan itu sesekali nampak jelas. Waktu terbaik untuk menikmati sosok Merapi adalah saat pagi.

Saat ini, lokasi di perbatasan Jateng-DIY itu menjadi obyek wisata dadakan, terlebih setelah dihancurkan awan panas dan ditinggal penghuninya mengungsi hingga kini.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(167). Seputar Kali Gendol (12)

Kalau bukan karena diberitahu seorang relawan di Glagaharjo, saya tidak ngeh kalau di desa itulah almarhum Mbah Maridjan dimakamkan.

Dalam cuaca berkabut sore kemarin, kususuri jalan desa yang sepi dan lengang menuju ke kuburan desa. Ada taburan bunga segar di makam Mbah Maridjan, entah siapa yang baru berziarah. Nampak bersih, tidak seperti diwartakan tertimbun material Merapi. Kukirim doa untuk Mbah Maridjan. Semoga spirit ke-roso-annya abadi…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(168). Seputar Kali Gendol (13)

Di Balerante, kijang hitamku kurang tinggi loncatnya, sehingga terperosok ke selokan. Hari semakin sore, orang-orang mulai pada pulang, suasana jadi sepi. Padahal tadi dipesan sama tentara yang jaga agar posisi parkirnya mengarah ke bawah jaga-jaga kalau keadaan buruk terjadi. Uuuh.., rada tegang.

Setelah maju-mundur sambil diganjal batu akhirnya bisa lolos. Kata temanku: “Itu tanda Mbah Maridjan minta ditengok”. Asal bukan tawaran jadi juru kunci saja..

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(169). Seputar Kali Gendol (14)

Seorang relawan di Glagaharjo yang tiap hari berjaga disana dan prihatin dengan situasi desa yang habis dibumi-hangus awan panas, punya ide “kreatif”. Setiap hari berusaha menanam tumbuhan di pinggir bekas jalan desa. Tujuannya agar kawasan itu segera hijau kembali. Dia minta dikirim bibit tanaman apa saja asal cepat tumbuh dan menghijaukan. Sebuah pemikiran sederhana, langkah kecil, tapi masuk akal manfaatnya. Mumpung sering turun hujan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(170). Seputar Kali Gendol (15)

Sebagian besar warga desa Kepuharjo, Glagaharjo dan Balerante masih berada di pengungsian hingga kini. Selama itu pula hidup mereka ada yang menjamin. Tapi rumah mereka berantakan, ternak mereka mati, ladang mereka hancur dan penghidupan mereka pun seperti terhenti. Mungkin rumah ada yang membangunkan, ternak ada yang mengganti dan ladang ada yang mensubsidi. Tapi tidak begitu saja dengan penghidupan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(171). Seputar Kali Gendol (16)

Setelah warga yang mengungsi itu kembali dari pengungsian. Hidup dan penghidupan harus dimulai dari awal. Tentu “perlu waktu” untuk dapat menggelinding kembali. Lalu bagaimana mereka harus menjalankan penghidupan selama periode “perlu waktu” itu? Adakah yang akan menjamin, setidak-tidaknya membantu memutar roda hidup dan penghidupan mereka? Ruh yang bernama kepedulian memang tak pernah selesai apalagi mati…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(172). Seputar Kali Gendol (17)

Rumah boleh hancur, pepohonan boleh mati, tapi sang merah putih harus tetap berkibar membelah angkasa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman…

(Sebuah bendera merah-putih berukuran sedang, berkibar di atas tiang bambu yang menjulang tinggi di sela puing-puing rumah dan pepohonan yang hancur dan terbakar).

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: