Catatan Harian Untuk Merapi (17)

(141). Ada Yang Menanyakan Sisa Logistik

Siang tadi saya dihubungi seorang relawan mandiri yang tanya apa saya masih memiliki sisa logistik karena ada sebuah dusun di desa Wonolelo, Sawangan, Magelang, sangat membutuhkan bantuan logistik.

Menurut infonya, belum ada bantuan masuk ke sana karena lokasinya memang ada di radius 4-5 km dari Merapi, yang bagi masyarakat umum (pemberi bantuan) ini lokasi yang dianggap “menakutkan”.

Apa boleh buat, saya hanya bisa menjawab: “Insya Allah saya usahakan…”.

(Yogyakarta, 28 Nopember 2010)

——-

(142). Entah Apa Yang Ditunggu

Siang tadi menyalurkan beras bantuan untuk korban Merapi yang sudah kembali dari pengungsian, di dusun Windusabrang, desa Wonolelo, kecamatan Sawangan, Magelang (23 km dari Blabak, Muntilan dan berada di radius 5 km dari Merapi).

Ketika semua lahan dan tanaman sayur rusak, tak lagi bisa diambil manfaatnya, sedang biaya tak ada, Merapi masih berstatus Awas, maka mereka (210 KK, 800-an jiwa) hanya bisa menunggu. Entah apa yang ditunggu…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(143). Khawatir Kalau Bantuan Dicegat

Hujan turun cukup lebat saat saya dalam perjalanan menuju dusun Windusabrang, Sawangan, Magelang, tengah hari tadi melalui obyek wisata Ketep terus mengikuti jalan yang menuju Boyolali. Seseorang dari dusun itu tadinya keukeuh mau menjemput di Ketep, tapi saya yakinkan setelah di Wonolelo saja.

Rupanya dia khawatir, kalau tidak dikawal seringkali bantuan dicegat di tengah jalan dan diminta oleh masyarakat setempat yang juga butuh logistik. Sebegitunya…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(144). Mereka Perlu Bibit Sayuran

Bantuan yang saya bawa tadi siang sebenarnya darurat, daripada tidak. Walau lokasinya di pinggir jalan, tapi tidak mudah bagi warga Windusabrang dan tetangga-tetangganya untuk mendatangkan bantuan. Ketika tidak lagi berstatus pengungsi, mereka harus survive. Meminta (apalagi cuma berharap) ke pemerintah pun tidak ada hasil.

Untuk segera mulai bertani bukan perkara mudah dan murah. Mereka perlu bibit sayuran yang bisa cepat untuk diusahakan, seperti sawi, kobis, bunga kol, loncang…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(145). Umbi-umbian Pun Rusak

Ketika kutanya sejak pulang dari pengungsian makannya bagaimana?

Jawabnya: “Ya seadanya, sering-sering singkong”.
“Darimana?”, tanyaku.
“Ada orang yang membantu ngirim singkong”, jawabnya lagi.
“Apa kebun singkongnya tidak menghasilkan?”.
“Banyak yang rusak…”.

Rupanya saking tebalnya abu vulkanik panas, kandungan sulfurnya meresap dan merusak umbi-umbian di bawahnya. Insya Allah, masih ada sembako yang akan datang… (Terima kasih kepada HMM Papua untuk berasnya)

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(146). Di Dusun Klakah Dimana Merapi Nampak Indah

Dari Windusabrang saya berkunjung ke dusun Klakah sekitar 3 km masuk ke tenggara ke kaki Merapi, masuk wilayah Selo, kabupaten Boyolali. Dusun ini berada di radius sekitar 3,5 km dari Merapi (Uugh..!), tepat di atas sungai Apu. Kondisi masyarakatnya yang baru kembali dari pengungsian, tidak jauh beda. Tapi konon masyarakat merasa bahwa penanganan bantuan oleh Pemkab Boyolali, lebih baik daripada Pemkab Magelang.

Dari sini, bentang gunung Merapi nampak kekar dan indah…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(147). Tontonan Langka Banjir Lahar Dingin

Sejak dari Muntilan sore tadi, saya lihat banyak orang berkerumun di hampir setiap jembatan yang melintas di jalan Jogja – Muntilan. Rupanya sungai-sungai itu sedang banjir yang tentu saja membawa material lahar dingin Merapi. Arusnya sangat deras dan gemuruh suaranya, rupanya menjadi tontonan langka. Bahkan banyak pengendara mobil yang juga berhenti turut menyaksikan.

Saat tiba di Bintaran dimana kali Code ada di lembahnya, saya lihat inilah banjir terbesar…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(148). Banjir Terbesar Di Kali Code

Kali Code banjir besar sejak sore hingga malam ini. Terbesar selama ini. Arusnya sangat deras. Gemuruh suaranya menakutkan. Tinggi air sudah di atas rata-rata wilayah sepanjang lembah Code.

Di kawasan Bintaran dimana saya berdiri saat ini, air tertahan oleh tanggul bantaran sungai dan karung-karung pasir yang sudah ditumpuk di atasnya. Di lokasi lain ada yang tanggulnya jebol. Masyarakat waspada siap-siap kabur jika kondisi memburuk. Sebagian sudah mengungsi.

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(149). Ada Penonton Terjatuh

Seorang penonton di kawasan Gondolayu terjatuh ke kali Code dan terbawa arus deras yang tak terduga. Sesekali arus agak turun, tiba-tiba membesar lagi, begitu berulang-ulang. Uuugh…, jangan lagi deh… Ayo menjauh, menjauh dari bantaran sungai…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(150). Foto Banjir Lahar Dingin

Foto banjir Kali Code td sore, dpt dilihat di link ini… @JogjaUpdate: #Jogja @marawie: Kali code sekarang http://twitpic.com/3bay3e

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: