Catatan Harian Untuk Merapi (15)

(123). Mencari Daun Pisang Untuk Sapi

Sore mendung di dusun Babadan, Magelang, seorang ibu berjalan letih menggendong daun pisang dengan selendang lusuhnya.

Kutanya: “Untuk apa bu?”.
Dijawab: “Ngge nedo sapi..(untuk makan sapi)”.

Ya, sapi2-sapi tetap harus makan, sedang rumput tak lagi hijau setelah didera abu vulkanik panas. Ketela dan hati batang pisang adalah alternatifnya. Tapi sungguh itu bukan pilihan…, bagi si ibu harus mencari daun pisang, tak juga bagi para sapi yang terpaksa memakannya.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(124). Ikan Wader RM “Purnama” Muntilan

Sore pulang dari Sawangan, teringat belum makan siang. RM “Purnama” di Muntilan, menjadi tujuan. Ini jenis warung pojok yang dulu suka jadi ampiran sopir-sopir truk pasir, tapi kini menjadi jujukan penggemar kuliner. Ikan wader, terkenalnya. Dengan tagline: “Spesial mangut lele, ikan tawar”.

Wow…taste ndeso-nya khas skali. Yang harus dilakukan: Datang, pesan (pilih sendiri), dilayani, dihitung, duduk, makan, mbayar.. (Jangan lupa yang terakhir!).

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(125). Genset Untuk Mushola

Pulang dari Sawangan kemarin, ngirim 3 genset untuk 3 mushola berbeda (amanah dari Himpunan Masyarakat Muslim di Papua). Salah satunya diterimakan melalui seorang teman di dusun Pancoh, desa Girikerto, kecamatan Turi, Sleman, yang berada di radius 12 km selatan Merapi.

Masyarakat sudah pada pulang dari pengungsian. Banyak kebun salak pondoh di sana, tapi sebagian rusak, buahnya jadi abu-abu tersaput abu Merapi. Ternak sebagian mati karena tak terurus selama ditinggal mengungsi.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(126). Tak Lagi Cantik Alami

Bagi sebagian masyarakat yang kebun salaknya tidak terlalu rusak (kalau yang rusak nggak ada lagi yang dapat diceritakan…), harga salaknya bisa jatuh, karena buahnya kotor oleh abu Merapi yang melekat di kulitnya.

“Mengapa demikian?”.

Jawabnya: “Buah salaknya tidak cantik lagi..”.

Jawaban bernada canda ini ada benarnya, karena buah salak harus dicuci dulu sebelum dijual. Itu berarti bersih dan cantiknya buah salak tidak lagi alami. Hmm…, yang cantik alami memang lebih mahal…

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(127). Awas Kolesterol

Teman yang tinggal di Girikerto itu selain punya kebun salak juga ternak burung puyuh. Selama ditinggal mengungsi setengah puyuhnya yang jumlahnya ribuan itu mati, tidak terurus pakannya. Sedang sisanya yang masih hidup pada stress tidak mau bertelur. Kasus ternak mati tidak terurus ini terjadi di banyak lokasi.

Meski begitu toh teman saya itu masih nyangoni kami dengan sekotak salak dan telur puyuh. Mengingat telur puyuh, maka statusku jadi seperti Merapi, AWAS kolesterol..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(128). Merapi Tenang Tapi Waspada Harus

Hari ini, sebulan sudah sejak letusan pertama Merapi (26/10). Malam ini, memasuki minggu keempat sejak letusan besar Jumat dini hari (5/11). Merapi tenang tiga hari ini dibanding hari-hari sebelumnya. Berharap Mbah Merapi pun sedang khusyuk bersujud kepada Sang Penciptanya menyambut malam hari raya Jum’at. Kemudian teruslah beristirahat panjang dalam kedamaian dan ketenangan…

Walau begitu, warga Jogja dan seputaran Merapi tetap harus WASPADA dan jangan lengah..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(129). Disambut Di Dusun Ngaglik, Sawangan

Warga dusun Ngaglik, desa Soronalan, kecamatan Sawangan, Magelang, yang hanya 25 KK, siang tadi nampak begitu antusias menyambut kedatanganku. Para bapak-ibunya menyalamiku. Aku jadi rada kikuk. Sebagian lalu ikut nimbrung saat aku ngobrol dengan Kepala Dusun, setelah menurunkan bantuan yang “tidak seberapa” itu.

Rupanya itulah pertama kali ada bantuan masuk ke dusunnya yang memang tidak mudah dicapai, sejak letusan besar Merapi 3 minggu yll.

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(130). Sekedar Penyambung Hidup

Saweran yang kuterima tiga hari yll akhirnya kusalurkan ke dusun Ngaglik, dari rencana semula ke dusun Soronalan. Ngaglik berada sekitar 1 km lebih jauh dan lebih atas dari Soronalan. Kondisi masyarakat di kedua pedusunan itu sama-sama lumpuh akibat letusan merapi.

Beras, mie instan, kecap dan sarden, yang kukirim tadi siang, hanya sekedar penyambung hidup… (Trims untuk pak Probo Jatmiko, bu Nuning dan seseorang yang tidak mau disebut namanya).

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(131). Tak Ada Lagi Kelapa Dideres

Mata pencaharian utama warga Ngaglik adalah penderes nira dari pohon kelapa untuk dibuat gula jawa dan pembuat keranjang bambu untuk wadah sayur. Kini pohon kelapa rusak oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang dapat dideres. Perlu waktu berbulan-bulan menunggu agar pohon kelapa dapat dideres kembali.

Begitu pun, tanaman sayuran hancur juga oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang membutuhkan keranjang. Sedang memulai bertani bukanlah pekerjaan mudah. Lalu harus ngapain…?

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(132). Sebuah Kearifan Yang Begitu Indah

Ketika abu Merapi berhamburan, semua tanaman hancur, ternak mati, masyarakat kehilangan pencaharian dan penghasilan, beras tak terbeli, bantuan tak kunjung tiba…

Ada warga yang masih punya simpanan padi, jagung, singkong. Maka saling berbagilah mereka, senasib-sepenanggungan, guyub rukun tanpa hitungan laba-rugi, mangan ora mangan kumpul… Sebuah kearifan yang tak pantas disebandingkan dengan hiruk-pikuk di Jakarta tentang aneka kepentingan…

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: