Catatan Harian Untuk Merapi (14)

(115). Tak Sesederhana Mengirim Bantuan

Status Merapi masih AWAS. Radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) diturunkan/dikurangi. Sebagian pengungsi pun berangsur pulang ke kampung halaman. Lalu setelah itu apa…? Kalau sekedar mengganti rumah dan infrastruktur yang rusak itu mudah. Tapi mengembalikan nafas kehidupan ekonomi? Tak sesederhana mengirim bantuan kepada pengungsi melalui posko-posko…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(116). Isi Perut Harus Tetap Dipenuhi

Mereka yang sebagian besar petani, peternak dan buruh lepas, butuh waktu panjang untuk menemukan kembali kehidupannya, memulihkan roda ekonominya, setelah semua hancur tak bersisa. Bahkan untuk sekedar memulai!

Tanah harus diolah dari nol, pohon yang masih hidup perlu waktu untuk diguna, bibit dan pupuk tak terbeli, pakan ternak harus dicari… Sementara hasil dinanti, isi perut harus dicari tapi nggak janji, tak seperti perut Merapi yang tak pernah ingkar janji…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(117). Sampai Kapan Menunggunya?

Sekitar 50 KK warga dusun Soronalan, Sawangan, Magelang, kini tak berkutik setelah diusik abu panas Merapi (5/11). Menunggu…, itu yang dapat mereka lakukan sementara ini. Ya, menunggu bantuan. Ya, menunggu saat aman untuk memulai bekerja. Bertani, beternak, berkerajinan, entah apa lagi… Tapi sampai kapan menunggunya? Dan apa masih ada yang diharapkan untuk ditunggu?

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(118). Mengirm Bantuan Ke Dusun Soronalan Magelang

Menyusuri jalan desa yang menanjak dan menurun selebar cukup satu mobil, membelah ladang-ladang yang rusak oleh abu vulkanik dan pemukiman penduduk, akhirnya sampai ke dusun Soronalan, Sawangan, Magelang.

Menilik lokasinya, pantas saja kalau tak tersentuh bantuan. Seorang relawan mandiri yang perduli dengan nasib tetangga-tetangganya yang hanya makan keladi dan singkong, pontang-panting mencari bantuan. Ke sanalah saya dkk. siang ini mengirim bantuan logistik.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(119). Ada Kebahagiaan Di Wajah Anak-anak Itu

Wajah anak-anak itu begitu ceria, begitu juga ibu-ibunya. Bersama kaum bapaknya berkumpul menyambut bantuan yang “tidak seberapa” yang untuk pertama kali datang ke dusun mereka.

Bekal kue dan makanan ringan yang kami bawa masih tersisa cukup banyak. Dan ketika dibagikan…, mereka, anak-anak dan ibunya, berebut sambil tertawa canda. Mereka menyalami kami. Masya Allah… Tak pernah terbayang menyaksikan kebahagiaan seperti itu…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(120). Kerja Keras Seorang Relawan Mandiri

Dari dusun Soronalan kami menuju dusun Babadan. Jaraknya sekitar 4 km. Jumlah penduduknya sekitar 185 KK, kondisinya tidak jauh beda dengan Soronalan. Kegiatan ekonomi lumpuh, belum ada yang dapat dikerjakan masyarakat. Beruntung di dusun ini ada seorang relawan mandiri yang gesit dan lincah, biasa disapa pak Inggo yang adalah seorang guru. Berkat kerja kerasnya, kemudian bantuan dari luar menjangkau. Malah bisa dibagi ke dusun-dusun lain yang senasib, “seret” bantuan…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(121). Mereka Yang Mencari Kelebihan Bantuan

Di Babadan ketemu kepala dusun Ngaglik yang sedang mencari bantuan. Kelincahan pak Inggo rupanya berhasil mendatangkan bantuan yang selama ini jarang mampir ke lokasi-lokasi yang “tidak populer”, apalagi susah dicapai. Karena itu dusun Babadan menjadi tujuan dusun-dusun lain untuk mencari kelebihan bantuan.

Seperti dusun Ngaglik yang lokasinya sekitar 1 km di atas Soronalan. Sayangnya saya baru tahu itu setelah meninggalkan Soronalan, mestinya tadi bisa sekalian diampiri.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(122). Dana Saweran Tertunda Penyalurannya

Dana saweran dari teman-teman di Jakarta dan Surabaya yang saya terima kemarin, semula tadi pagi mau saya belanjakan logistik untuk dikirim ke dusun Soronalan. Tapi rupanya teman-teman pensiunan Freeport sudah lebih dulu siap dengan logistik dan minta ditemani menyalurkannya, maka saya arahkan ke Soronalan. Sedangkan dana yang saya terima kemarin saya tunda penyalurannya dan akan saya tujukan untuk dusun Ngaglik, yang kondisinya sama seperti dusun Soronalan.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: