Catatan Harian Untuk Merapi (13)

(110). Mereka Makan Keladi Dan Ketela

Ketika saya cerita bahwa masyarakat di dusun-dusun terpencil yang terkena dampak letusan Merapi bertahan hidup dengan makan seadanya, seperti keladi dan ketela, maka itu benar adanya. Bukan cerita yang saya dramatisir…

Hanya umbi-umbian di dalam tanah yang bertahan terhadap serangan abu vulkanik panas. Tanaman lain di permukaan rusak, termasuk kelapa, sayuran, rumput, apalagi pisang. Ironisnya, kalau minta bantuan ke posko besar akan ditolak karena mereka bukan pengungsi…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(111). Mereka Adalah Relawan Mandiri

Posko mandiri (itu istilah mereka), adalah posko yang dikelola oleh pribadi-pribadi yang dengan semangat relawan mengelola masyarakat korban Merapi yang ada di rumah-rumah penduduk, bukan di lokasi/barak yang sengaja disiapkan untuk pengungsi.

Dengan upayanya sendiri relawan mandiri ini mencari bantuan ke pelbagai pihak. Bahkan antar mereka sering saling berbagi bantuan jika di lokasinya ada kelebihan. Memang, mereka kebanyakan ada di dusun-dusun terpencil, pelosok dan tersembunyi.

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(112). Bantuan Dari Para Sahabat

Hari ini saya menerima transfer sejumlah dana dari para sahabat di Jakarta dan Surabaya. Rencananya akan langsung saya alokasikan ke posko mandiri di dusun Soronalan dan Babadan, kecamatan Sawangan yang memang butuh bahan makanan mendesak.

Tapi sayang, sore ini cuaca berawan gelap, hujan deras berkepanjangan, sedang lokasi yang mau dituju agak naik ke kaki gunung. Terpaksa ditunda. Insya Allah…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(113). Siapa Yang Lebih Nekat

Seorang relawan mandiri di lereng baratdaya Merapi sore tadi mengirm pesan singkat via SMS, katanya: “Jumlah jiwa ada 250. Ekonomi lumpuh”. Posko itu ada di dusun Semen, kecamatan Dukun, Magelang. Info dari dusun tetangganya mengabarkan kalau masyarakat dusun Semen mencari-cari bantuan logistik.

Kutanya lokasinya di radius berapa dari puncak Merapi?
Jawabnya: “Sekitar 4 km pak!”.

Haduh…, lha yang nekat itu yang dibantu atau yang membantu?

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(114). Hanya Sebuah Potret Kecil

Dusun Babadan, Soronalan, Bandung dan Semen, di wilayah kabupatn Magelang, hanyalah sebagian kecil potret ketakberdayaan masyarakat yang dibuat tak berkutik setelah diplekotho abu dan pasir vulkanik panas dari Merapi. Padahal masih ada buanyak dusun-dusun terpencil yang warganya tidak mengungsi tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyambung hidupnya.

Mereka nyaris tak tersentuh bantuan. Semoga ada orang lain yang bergerilya membantu mereka yang buanyak itu…

(Note: diplekotho adalah ekspresi dalam dialog orang Jogja yang berarti ditakberdayakan)

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: