Catatan Harian Untuk Merapi (12)

(102). Tambang Pasir Di Tengah Kota

Berkah Merapi… Pasir yang terendap dari gelontoran lahar dingin di sepanjang kali Code yang membelah Yogyakarta, ternyata menjadi berkah tersediri bagi masyarakat yang tinggal di lembah Code. Lihatlah antrian truk yang memanjang menunggu giliran untuk diisi pasir. Dan itu terjadi di tengah kota Jogja.

Ya benar, tambang pasir di tengah kota, di sepanjang aliran kali Code. Mudah-mudahan mereka tidak lupa bahwa banjir lahar dingin masih berstatus AWAS..!

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(103). Berkah Lahar Dingin Merapi

Mau menambang pasir tanpa ijin tapi diijinkan? Malah difasilitasi pemerintah? Maka tambanglah pasir kali Code.

Berkah bagi masyarakat karena nilai ekonomisnya. Pemerintah pun berkepentingan untuk menormalisasi kedalaman sungai yang dangkal total karena endapan lahar dingin. Sebab jika tidak, maka fungsi sungai akan hilang, lalu siap-siap saja mbludak di musim penghujan. Semua pihak kini jadi berkepentingan atas penambangan pasir kali Code.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(104). Purnama Terakhir

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti…

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya…

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(105). Tak Tersentuh Karena Tersembunyi

Matahari tepat di cakrawala barat, masih menyisakan semburat merahnya. Aku tiba di dusun Babadan, desa Butuh, kecamatan Sawangan, Magelang. Lokasinya sekitar 10 km timurlaut dari Blabak, Jl. Raya Jogja-Magelang, menuju arah Ketep lalu belok ke utara ke kaki gunung Merbabu.

Kesanalah petang tadi aku membawa tiga karung beras titipan seorang teman di Bandung bagi korban Merapi non-pengungsi yang tak tersentuh bantuan karena tersembunyi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(106). Mereka Tak Berdaya

Dusun Babadan terletak di baratlaut Merapi pada radius sekitar 12 km, dikelilingi hutan sengon. Ketika letusan besar Merapi terjadi (5/11), warganya terisolir. Pohon-pohon patah menghalangi jalan. Di dalam rumah takut kalau rumahnya roboh oleh abu dan pasir vulkanik. Mereka pun berkumpul di tanah terbuka di bawah guyuran abu panas Merapi dengan perlindungan seadanya. Tangis histeris wanita dan anak-anak nyaris hilang ditelan gemuruh Merapi yang menggetarkan bumi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(107). Posko Mandiri Untuk Korban Merapi Non-Pengungsi

Masyarakat dusun Babadan dan dusun-dusun tetangganya tidak mengungsi. Makanya mereka tidak punya gelar pengungsi. Di sinilah dilema. Karena bukan pengungsi maka lalu “tidak perlu” dibantu. Padahal sama-sama korban Merapi.

Tengoklah, semua bantuan berlabel “pengungsi”. Bahkan di posko-posko sampai berlimpah. Sedang mereka yang non-pengungsi? Jatah pemerintah sangat terbatas, minta ke posko prosedurnya belit-belit. Akhirnya mereka menggalang posko mandiri.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(108). Warga Soronalan Butuh Bantuan Segera

Baru saja dapat kontak dari posko mandiri di desa Soronalan, Sawangan, Magelang. Ada 50 KK di kaki gunung Merbabu yang butuh bantuan mendesak. Sejak letusan besar Merapi (5/11) belum pernah ada bantuan dan warganya makan seadanya (keladi, ketela, dkk). Beras yang saya kirim ke dusun tetangganya tadi malam akhirnya dialihkan ke sana. Cukup untuk 1 kg per KK.

Tuhan…, pliiis…turunkan berasMu yang masih ada di langit (fissama-i fa-anzilhu)…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(109). Berharap Hujan Beras

Mereka bukan pengungsi (makanya tidak ada bantuan), tapi penduduk setempat yang menderita akibat letusan Merapi. Mereka buruh tani, sedang semua ladang hancur. Sebagai penderes kelapa, pohon kelapa rusak. Sebagai pengrajin keranjang, tidak ada yang beli. Sebagai peternak, tidak ada pakan, sedang singkong harus berebut dengan pemiliknya. Pohon pisang rusak oleh abu. Sayur dan tanaman bumbu musnah. Untuk bertahan hidup? Berharap hujan abu berganti hujan beras…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: