Antara Kebebasan Dan Komitmen

(1)

Terkadang saya membayangkan sebuah kebebasan, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ternyata itu tidak mungkin. Sebebas apapun kehidupan ini, maka selalu saja di sana ada komitmen yang harus dipenuhi, terhadap diri sendiri, keluarga, famili, tetangga, teman, alam sekitar, lebih-lebih terhadap Tuhan, dan terhadap siapa saya berinteraksi.

Bebas hanya memungkinkan pada tataran cara, mekanisme atau prosesnya, karen itulah yang harus dinikmati dan disyukuri…

(2)

Ketika dengan kebebasan saya, kemudian saya memilih untuk melakukan sesuatu esok hari, maka saya harus memegang komitmen bahwa apapun akan saya lakukan demi suksesnya esok hari itu.

Saya bebas memilih cara dan prosesnya, tapi saya menjadi tidak bebas untuk tidak melakukan apa-apa. Termasuk jika komitmen itu menuntut untuk bekerja sampai larut malam. Setidak-tidaknya kerja lembur itu saya lakukan karena saya merasa bebas melakukannya.

‎(3)

Pohon kersen tetangga itu ranting-rantingnya mulai merendah sehingga mengganggu mobil yang lewat. Tetangga saya belum sempat memangkasnya. Saya berkepentingan merapikannya dan sebenarnya saya bebas melakukan itu. Tapi saya tidak bebas untuk melakukan tanpa ijin, juga saya tidak bebas untuk menjaga agar tempat itu harus kembali bersih. Komitmen itu tetap harus saya jaga, walau saya bebas memilih cara melakukannya. Bersyukur saya sempat melakukannya sendiri dan saya menikmati prosesnya…

Yogyakarta, 13 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: