Empati Bagi Si Penyeberang Jalan

Sendirian, jalannya tertatih-tatih seperti menanggung beban yang berat, perut dan dadanya berayun-ayun menandakan sedang hamil tua, kepalanya tolah-toleh, menunggu cukup lama mau menyeberang jalan nggak bisa-bisa. Akhirnya mbarengin saat istri saya menyeberang. Si penyeberang jalan itu seekor anjing kampung hitam kotor.

Entah kenapa adegan itu membangkitkan empati, seandainya dia adalah seorang ibu (atau, jangan-jangan perasaan saya saja yang berlebihan…).

Yogyakarta, 2 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: