“Jalan” Hidup Padat Merayap

Masih suasana lebaran. Tukang parkir di pasar Kendal, Jateng, dibayar Rp 2.000,- ngotot mengembalikan yang seribu. “Niki kunduripun..! (ini kembaliannya)”. Tukang parkir di sebuah bank di Jogja, disodori uang ditolaknya mentah-mentah. “Mboten usah, mboten usah…! (nggak usah)”. Lho kok masih ada yang memilih “jalan” hidup dengan konsekuensi padat-merayap begitu, di saat banyak “jalan alternatif” dapat ditempuh ramai-lancar tanpa komplain..

Yogyakarta, 16 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: