Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan

Pagi itu saya sengaja tidak tidur setelah makan sahur dan sholat subuh, karena ada agenda pagi yang harus saya penuhi. Padahal biasanya tidur setelah subuhan itu, wow… luar biasa nikmatnya hingga terkadang terasa malas untuk bangun, seolah-olah ingin terus tidur sampai tiba waktu berbuka. Seolah-olah…..

Belum jam delapan pagi, matahari sedang beranjak untuk memulai tugasnya hari itu. Datang seseorang bersepeda lalu duduk di luar pagar halaman rumah. Melihat istri saya keluar, seseorang itu berkata terbata-bata : “Saya temannya Yusuf, temannya Yusuf…”. Seperti kesulitan untuk berkata-kata lebih banyak. Tinggal istri saya kebingungan yang lalu memanggil saya keluar.

Masya Allah, ternyata seseorang itu adalah teman kuliahku dulu. Pagi itu adalah untuk kedua kali saya bertemu sejak terpisah lebih dua puluh tahun yll. Saat pertemuan pertama beberapa bulan sebelumnya, sengaja saya yang mencari rumahnya untuk menemuinya. Teman saya ini tinggal di sebuah rumah sangat sederhana di sudut sebuah perkampungan di kawasan Kotagede, Yogyakarta.

Waktu itu saya sengaja mencarinya setelah memperoleh informasi bahwa teman saya ini sekarang sedang mengalami kesulitan. Tubuhnya yang dulu waktu kuliah tinggi gagah kini terlihat kurus dan loyo digerogoti penyakit stroke dan paru-paru. Tidak lagi mempunyai penghasilan tetap karena pekerjaan terakhirnya sudah ditinggalkannya akibat sakit tak tersembuhkan. Saya sempat menuliskan cerita status di Facebook :

“B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, ‘mencuri-curi’ bersepeda…”. (17/04/2010)

Setelah saya sambut kedatangannya pagi itu, kemudian saya bimbing dan saya ajak duduk santai di teras depan rumah. Badannya terlihat kurus dan rapuh. Berjalannya tak lagi tegak. Bicaranya nampak sangat kesulitan. Hanya senyum ramahnya yang masih tersisa menandakan masih ada gairah dan semangat hidup dalam dirinya. Tapi dia sanggup bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah saya.

Setelah menanyakan kabarnya, pertanyaan berikutnya adalah : “Apa istrimu tahu kamu bersepeda ke sini?”. Dijawabnya : “Ya dia tahu. Aku tadi pamit”. Agak lega saya mendengar jawabannya. Sebab ketika sebelumnya saya bertemu dengan istrinya, teman saya ini suka mencuri-curi bersepeda kemana-mana padahal kondisi fisiknya sebenarnya tidak memungkinkan. Demi menyambut tamu istimewa saya itu, terpaksa saya menunda keberangkatan ke acara yang seharusnya saya hadiri jam delapan.

Setelah mengobrol kesana-kemari. Akhirnya saya mendengar pengakuannya bahwa dia perlu bantuan keuangan. Dengan menunjukkan sebundel kertas lusuh dari dompetnya yang ternyata adalah bukti pembayaran pembelian obat bertanggal beberapa bulan sebelumnya dari sebuah Rumah Sakit di Jogja. Pendek cerita dia sudah telambat membeli obat karena kesulitan biaya. Mak deg atiku…! Tidak ada yang sempat terpikir di otakku kecuali bahwa teman saya itu sedang berkata yang sebenarnya dan bahwa saya perlu membantunya.

Bukan soal pemberian bantuan yang ingin saya ceritakan. Kalau soal itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik daripada yang saya lakukan. Melainkan perasaan betapa bersyukurnya saya. Bersyukur yang pertama karena pagi itu saya masih dianugerahi keadaan yang lebih baik ketimbang yang sedang dialami oleh teman saya itu. Bersyukur yang kedua karena pagi-pagi saya sudah memperoleh peluang untuk berbagi kebaikan kepada orang lain yang orang lain itu sedang sangat membutuhkannya. Tuhan begitu luar biasa menawarkan sebuah “peluang bisnis” kepada saya pagi itu, di saat saya sedang terburu-buru hendak berangkat memenuhi sebuah komitmen di tempat lain.

Namun tampaknya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu. Melalui utusan-Nya pernah disabdakan: “Pergunakan sebaik-baiknya masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu…”. Astaghfirullah… Sepuluh tahun yll. teman saya itu karirnya sedang melejit dan bersiap hendak menerima promosi jabatan di sebuah perusahaan BUMN. Namun apa hendak dikata, semuanya seolah lenyap dalam sekejap akibat dirinya tidak sanggup lagi menanggung derita atas serangan stroke yang dialaminya dan hingga kini praktis tak tersembuhkan secara total. Bahkan untuk melakukan pekerjaan sederhana pun dia tak lagi mampu walau semangatnya masih menggebu-gebu.

Jika demikian, tahulah saya bahwa nikmat Tuhan yang pernah dianugerahkan kepada seorang manusia itu tidak ada yang dapat menggaransi akan langgeng selamanya. Ketika Sang Pemberi Nikmat menganggapnya cukup, maka benar-benar cukuplah sampai di situ. Kita sering salah kaprah dalam merespon setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ternyata mengucap doa syukur saja belum cukup, melainkan perlu ditambah dengan doa agar kiranya nikmat itu tidak dibreidel sama Tuhan dan agar nikmat itu minimal bertahan tidak dicabut atau dibatalkan.

***

Sempat terpikir, pagi-pagi bukannya saya menerima rejeki tapi malah harus memberi rejeki kepada orang lain. Padahal doa yang sering saya panjatkan adalah agar diberi rejeki yang buanyak, seperti halnya yang saya lakukan saat usai sholat Dhuha sebelum saya menemui teman saya pagi itu. Dan doa itu pun spontan dikabulkan tapi dalam wujud yang sebaliknya, bukan menerima rejeki tapi justru memberi rejeki kepada orang lain.

Nampaknya formula yang harus saya hafalkan adalah bahwa menerima rejeki itu berbanding lurus dengan memberi rejeki kepada orang lain. Sedangkan nominalnya, rejeki yang diterima minimal akan sama besar dengan rejeki yang diberikan kepada orang lain dan bahkan seringkali jauh lebih besar. Maka kalau menurut pernyataan dalam kitab sucinya orang Islam bahwa rejeki itu akan datang dari sumber yang tak terduga (min khaitsu la yahtasib), itu berarti hal yang sama berlaku baik bagi rejeki yang diterima  maupun diberikan, si penerima maupun pemberi.

Oleh karena itu, jika pagi itu saya memperoleh peluang untuk memberi rejeki kepada orang lain berarti harus saya terjemahkan bahwa sesungguhnya saya juga sedang memperoleh portofolio rejeki yang minimal sama nilainya. Kapan cairnya saya tidak tahu, akan tetapi kitab suci yang sama menjanjikan bahwa investasi itu pada saat yang tepat nanti pasti akan diterimakan dan seringkali nilainya jauh lebih besar dari yang pernah diberikan kepada orang lain.

Jika demikian, maka ketika nikmat berupa kemampuan untuk menerima atau memberi itu datang, jangan pernah disia-siakan. Sebab kebaikan yang tersirat di dalam kemampuan untuk memberi maupun menerima hakekatnya adalah sama. Dan tidak ada balasan atas kebaikan itu kecuali kebaikan pula. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:60-61). Dan ketika Tuhan mengulang-ulang kalimat itu hingga 31 kali, maka mudah-mudahan bukan kepada kita sindiran itu ditujukan. Kalaupun benar demikian, maka pasti terkandung maksud yang lebih baik. Wallahu a’lam…

Yogyakarta, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: