Sepertiga Malam Di Sepertiga Sisa Ramadhan

Dua-pertiga bulan Ramadhan terlampaui sudah. Itu berarti dua-pertiga dari kewajiban berlapar-lapar dan berhaus-haus di siang hari telah terjalani dan masih tersisa sepertiga bulan hingga komplit sebulan berpuasa ditunaikan. Sepertinya belum lama puasa dimulai dan tahu-tahu sudah hampir berakhir. Kebanyakan orang akan berujar: “Ora keroso…(tidak terasa)”. Sudah jelas lapar, haus, ngantuk, lunglai, kok dibilang tidak terasa. Tapi begitulah cara kita mengekspresikan “kesyukuran” atas hampir selesainya bulan Ramadhan. Semakin tidak terasa, diam-diam semakin senang hati kita karena seolah-olah beban berat hari-hari berpuasa dapat terjalani dengan mudah dan segera akan berlalu.

Saking tidak terasanya, sampai-sampai kita tidak ingat apa saja yang sudah kita lakukan dalam rangka meraih kebaikan yang ditawarkan oleh Ramadhan selama dua-pertiga bulan yang sudah terjalani. Jangan-jangan sesungguhnya kita memang tidak atau belum melakukan apa-apa, sehingga dua-pertiga Ramadhan ini hanya numpang lewat saja dalam penggal kehidupan kita. Makanya jadi “ora keroso”. Jika benar demikian, alangkah sayangnya. Alangkah ruginya, kata pelaku bisnis yang sedang deal dengan peluang bisnis. Dan peluang bisnis yang sesungguhnya maha dahsyat dan digaransi tidak akan rugi itu bernama Ramadhan.

Senyampang kita masih berada di perbatasan antara dua-pertiga perjalanan menuju sepertiga sisanya, alangkah baiknya kalau kita mewaspadai kondisi “ora keroso” yang tersisa. Fenomena “ora keroso” ini patut kita curigai. Jangan sampai tahu-tahu ora keroso kita sudah sampai di penghujung Ramadhan dan kita terkejut ketika kemudian baru ngeh bahwa ternyata belum atau malahan tidak melakukan kebaikan apapun selama sebulan Ramadhan yang sudah terlewati. Sebab jika demikian, maka Idul Fitri sebagai hari kemenangan adalah omong kosong yang menjadi tidak ada artinya.

Lha, apanya yang kembali ke fitri wong kita tidak pernah melakukan pembersihan diri. Apanya yang menang wong kita tidak pernah melakukan perjuangan. Indikasi tidak fitri dan tidak menang yang harus diwaspadai itu apa? Ya “ora keroso” itu tadi. Karena itu kita patut curiga kepada diri sendiri ketika sedang menjalani Ramadhan tapi kok ora keroso… Berjuang kok tidak terasa, melakukan pembersihan kok tidak terasa.

(Tidak termasuk, “ora keroso” ketika ada warganya yang dinakali dan digelitiki tetangganya, karena bisa jadi jangan-jangan syaraf gelinya sudah afkir? Fenomena “ora keroso” ini seringkali melenakan. Diplomasi “ora keroso” memang man-nyamman…, bisa dilakukan sambil tidur, apalagi sambil berpuasa, yang “konon kabarnya” tidurnya orang berpuasa itu ibadah…).

Kita sering mengira bahwa kondisi kembali ke fitri dan meraih kemenangan itu adalah “system” yang bergerak otomatis, seperti setelah Minggu ya Senin, setelah Januari ya Pebruari, setelah siang ya malam. Seolah itu adalah perubahan, pergantian dan perputaran waktu ke waktu yang sudah didesain dari sononya dan kita tinggal mengikuti nderek bingah…turut bahagia saja. Tapi sesungguhnya semua itu hanya ada di spanduk, iklan koran, khotbah para alim, sambutan pejabat, kartu lebaran dan kirim-kiriman SMS yang isinya pathing pecothot itu…

“No way…!”, kata Tuhan. Wong tidak melakukan upaya apapun kok tahu-tahu minta dikembalikan ke jiwa yang fitri dan minta kemenangan. Harusnya kita merasa sedalam perasaan yang dapat dirasakan di atas kesadaran keseharian kita bahwa kita ini memang sedang berjuang keras melakukan gerakan kebersihan spiritual untuk menaikkan derajat dan kualitas kesungguhan penghambaan.

Dengan kata lain, jangan-jangan peluang emas sebulan Ramadhan itu ternyata hanya numpang lewat saja dalam kehidupan kita. Berharap bertemu peluang emas tahun berikutnya? Ya, insya Allah…, jika Tuhan menghendaki. Jika tidak? Wassalam…. Sebab kehendak Tuhan itu ada di luar batas jangkauan mahluk lemah bin penuh dosa seperti kita. Apalagi kalau kita ini tergolong gerombolannya mahluk hidup yang dosanya full enggak setengah-setengah…

***

Banyak riwayat menerangkan tentang kebaikan waktu ibadah di malam hari. Dan bagian paling bernilai dari waktu malam itu adalah di sepertiga terakhir waktu malam, dimana itu adalah waktu paling woenak untuk memantapkan posisi selimut dan waktu paling tidak woenak untuk bangun, kecuali terpaksa buang hajat. Boro-boro mengambil air wudhu.

Mesin Ramadhan memang tidak hanya bekerja di malam hari. Mesin Ramadhan beroperasi tiga shift 24 jam non-stop, tak sedetik pun berlalu tanpa kebaikan berlipat ganda menyertainya. Termasuk setiap kebaikan yang dilakukan oleh siapapun hamba beriman walau hanya sedenyut nadi dan setarikan nafas yang dibarengi dengan niat ibadah. Namun shift malam adalah waktu terindah dan bernilai sangat tinggi diantara sepanjang waktu kerja mesin Ramadhan. Belum lagi adanya satu malam kemuliaan yang bernilai lebih dari seribu bulan yang tersisip di antara sepertiga terakhirnya.

Kebaikan yang ditebar dan dijanjikan “future value”-nya tak terhingga oleh Sang Maha Pemilik Hidup itu tidak diragukan lagi dan dipastikan ada di sana, di sepertiga terakhir waktu malam. Itu hanya berlaku bagi mereka yang mau mengorbankan posisi woenak-nya untuk bangkit dan bersujud ke haribaan Sang Maha Pencipta. Waktu sepertiga malam itu adalah waktu “kritis” dimana batas antara seorang mahluk dengan khaliknya sangat tipis dan sangat dekat sekali. Nyaris apapun yang dikeluhkan dan dimintakan oleh setiap hamba pada periode waktu “kritis” itu dijanjikan pasti akan dipenuhi oleh Penciptanya. Dalam bahasa gaul, itulah saat dimana seorang hamba memadu kasih dan bermesraan dengan Penciptanya.

Muhammad saw. sang penutup daftar para Nabi dan Rasul yang pernah ada yang hidupnya sudah dijamin bebas dari salah (maksum) saja masih merasa perlu memohon ampun kepada Penciptanya. Tidak lain agar di dalam rengkuhan ampunan-Nya maka kemesraan terbangun dengan sendirinya tanpa prasangka. Apalagi kita? Dalam kejadian keseharian kita, memohon maaf atau ampunan adalah momen strategis dalam percaturan pergaulan (mu’amalah) para hamba. Hanya ketika keberadaan kita dimaafkan oleh pihak lain, maka sekecil apapun yang kita lakukan, pihak lain akan dengan senang hati memberi apresiasi. Sebaliknya ketika keberadaan kita tak termaafkan, maka sebesar apapun kebaikan, kesetiaan, keloyalan, upeti yang kita sajikan akan dipandang sebelah mata oleh pihak lain.

Karena itu teladan Rasulullah Muhammad saw. semestinya kita ambil benang merahnya. Hanya ketika keberadaan penghambaan kita ini termaafkan (dalam bahasa agama disebut diridhoi) oleh Sang Maha Pencipa, maka setiap rengekan kita kepada Sang Pengabul Setiap Doa akan berpeluang besar untuk disambut dengan suka cita. Maka jangan heran kalau Rasulullah selama hari-hari Ramadhan, lebih khusus lagi dalam periode sepertiga malam di sepertiga bulan Ramadhan, tidak henti-hentinya bersujud sambil meneteskan air mata bermohon ampunan-Nya dengan sepenuh penyerahan diri, dan berdoa : “Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan suka mengampunkan, maka ampunkanlah bagiku” (Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni).

Jika kemesraan dengan Allah dapat dibangun sedemikian intensnya, lebih-lebih pada sepertiga malam di sepertiga Ramadhan, maka nyanyian kemesraan itu sesungguhnya ditujukan kepada Sang Kekasih Hati yang telah menjanjikan kebaikan tak terhingga dan tak terukur banyaknya. Sehingga ketika kita berkesempatan tiba di penghujung Ramadhan, tersayat hati ini bagai akan berpisah selamanya dan tidak pasti kapan akan berjumpa kembali. Bergejolak adrenalin kita akan kerinduan yang bakal kita rasakan. Berdesir darah kita akan penyesalan kenapa sebulan Ramadhan ini ora keroso… tahu-tahu berlalu begitu saja.

Maka akan ada nyanyian galau ketika kita berkesempatan tiba di penghujung Ramadhan nanti (meminjam kata-kata Iwan Fals) :

kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin kukenang selalu
hatiku damai jiwaku tentram di sampingMu
hatiku damai jiwaku tentram bersamaMu

Sebab, tak satu oknum pun mampu menggaransi bahwa kemesraan ini akan datang berulang pada putaran waktu selanjutnya

Yogyakarta, 31 Agustus 2010 (21 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

(Catatan ini adalah ekspresi kegelisahan atas resolusi Ramadhan yang saya buat sendiri tapi sangat berat untuk saya penuhi. Semoga ada hikmahnya bagi siapa saja yang membacanya)

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: