Menjadi “Sopir Tembak”

Usai tadarus malam ini lalu ML (melamun dan leyeh-leyeh) merenungi nasib seharian ini menjadi “sopir tembak”… Menjadi imam Subuh/kultum dadakan di mushola kampung; imam Maghrib di pesantren karena imam aslinya entah kemana; imam Isya’/tarawih/kultum di masjid satunya lagi karena petugas aslinya tidak hadir…

Berbeda dengan siangnya menjadi sopir ‘boss’ saya yang jadwalnya jelas plus dapat bonus yang nilainya khoirum-min (lebih baik dari) seribu sopiran…

Yogyakarta, 12 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: