Cerita Tentang Penjaga Mushola Stasiun Bandung

(1)

Sudah 18 tahun ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji atau honor, melainkan hasil kotak infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kepingin sekali naik haji. Setiap tahun mengatakan: “Insya Allah tahun depan ke tanah suci”.

Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu diwiridkan. Tapi doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: “Pak, insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan Bapak benar-benar berangkat ke tanah suci…”.

Yogyakarta, 2 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

(2)

Awalnya hanya ingin sharing pengalaman “3 jam bersama sang penjaga mushola” di stasiun Bandung. Pak Syahroni, penjaga mushola itu ingin sekali naik haji, tapi satu-satunya sumber penghasilan adalah kotak infak.

Saya lalu menjelma menjadi “tukang kompor”. Saya yakinkan: “Insya Allah, niat Bapak akan terwujud. Jangan berhenti berdoa”. Respon rekan-rekan sungguh membuat saya merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah @Rp 1 juta. (Lihat status saya sebelumnya).

***

(3)

Masih tentang impian pak Syahroni (18 tahun menjadi penjaga, muadzin dan imam mushola stasiun Bandung) untuk naik haji, sedang penghasilannya hanya dari kotak infak. Saya tidak pernah berencana membantu kecuali dengan doa, tidak juga pernah berniat menggalang dana apalagi jadi Panitia.

Tapi membaca respon para sahabat, saya jadi bergairah seperti ketika malam Jum’at tiba (untuk lebih banyak tadarus, maksudnya) dan adrenalin saya meningkat seperti ketika mendaki gunung. (Lihat 2 status saya sebelumnya)

***

(4)

Siang tadi saya bicara via telpun dengan pak Syahroni. Terdengar dari bicaranya beliau terkejut, dengan terbata-bata mengucap syukur dan  hatur nuhun. Segera akan dibuka Tabungan Haji a/n beliau, sehingga siapapun yang berniat sedekah untuk pak Syahroni, tinggal transfer ke rekening tsb. (boleh juga via saya).

Ini akan menjadi bukti kesungguhan seorang hamba untuk memenuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yang menggenapi (Lihat 3 status saya sebelumnya).

Yogyakarta, 3 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

(5)

Perlu diketahui bahwa pak Syahroni ini bukan apa-apa saya. Tetangga bukan, famili apalagi, teman juga baru kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan dan ketulusan niatnya untuk pergi haji benar-benar menginspirasi saya.

Kalau ada yang tanya kenapa mau repot-repot membantunya? Saya tidak tahu. Semua terjadi begitu saja tanpa pernah saya rencana. Barangkali itulah jalan rejeki bagi pak Syahroni.. Min khoitsu laa yahtasiib (dari sumber yang tak terduga). (Lihat 4 status saya sebelumnya).

***

(6)

Terima kasih untuk para sahabat yang tergerak berniat membantu pak Syahroni, penjaga mushola stasiun Bandung, untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji (lihat 5 status saya sebelumnya). Insya Allah saya akan memfasilitasi –

Alhamdulillah, sudah ada 9 orang yang mengkonfirmasi untuk bersedekah (DS, ESSC, EH, WDSY, AP, EPJ, FW, YAAR, BW). Sebelum membuka Tabungan Haji, saya bersedia menampung dulu. Info lebih lanjut via Inbox. Siapa mnyusul?

Yogyakarta, 4 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: