Menjaga “Spirit” Gamelan

Ketika pertama kali menggagas Yogyakarta Gamelan Festival tahun 1994, alm. Sapto Rahardjo (seniman mbeling seangkatan dan semodel dengan Harry Roesli) meyakini bahwa gamelan adalah sebuah “spirit”, bukan semata alat musik tradisional. Festival dan konser gamelan bisa dengan mudah dipagelarkan tiap tahun, tapi menjaga “spirit”-nya ternyata jauh lebih sulit…

Yogyakarta, 18 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: