Ibu Guru Yang Kecopetan

Setelah tugas nyopir dan mengantar istri saya ke tokonya di Madurejo, Sleman, Yogyakarta, saya segera menuju ke masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Cuaca siang di seputaran Jogja sedang panas-panasnya. Maka duduk-duduk sambil agak melamun (melamun tapi agak) dan leyeh-leyeh di teras masjid usai sholat dhuhur, sepertinya menjadi selingan aktifitas yang menyejukkan. Selain menyejukkan suasana fisik di tengah teriknya matahari musim kemarau, juga menyejukkan hati dan pikiran usai menunaikan salah satu kewajiban.

Sambil mengisi waktu dengan berbalas SMS (jaman sekarang ini berbalas SMS rupanya sudah menjadi salah satu pilihan cabang aktifitas mengisi waktu), tiba-tiba datang seorang ibu muda naik Mio lalu memarkir sepeda motornya di pelataran masjid. Ibu muda berjilbab itu lalu turun membawa tas cangklong terbuat dari kain dan duduk tidak jauh dari saya duduk bersandar di tiang teras masjid. Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, pandangannya ke lurus depan seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya mencoba mencuri pandang karena saya merasa ada yang aneh. Mau menatap langsung saya merasa tidak enak dan mungkin juga kurang etis (terkadang pikiran saya masih bisa membedakan mana yang etis dan kurang etis, tapi seringkali lupa…).

Sejurus kemudian, tanpa basa-basi atau senyum sapaan, ibu itu bertanya : ”Kantor polisi terdekat dimana ya pak?”. Sepertinya ini pertanyaan yang agak janggal. Saya tidak langsung menjawab, melainkan secepat kilat saya mencoba menyelidik profil kenampakan ibu itu hingga ke plat nomor kendaraan yang dinaikinya. Secepat kilat pula kesimpulan sementara saya bahwa kelihatannya ibu itu bukan orang yang biasa berada di seputaran kawasan situ.

Baru kemudian saya menunjukkan dan memberi ancar-ancar dimana kantor pilisi terdekat berada. Tak ayal rasa penasaran saya belum terjawab. Ada apa dengan ibu itu? Dialog pun berlanjut.

”Lho ada apa bu?”, saya mencoba bertanya menyelidik.

”Saya mau melapor kecopetan”, jawabnya.

”Kecopetan dimana?”, tanya saya lagi.

”Di pom bensin tadi sebelum Prambanan”, jawab ibu itu sambil kemudian menjelaskan ihwal terjadinya aksi pencopetan, setelah saya menanyakan kronologi kejadiannya.

”Sebenarnya tadi ibu sudah melewati kantor polisi sebelum sampai ke sini”.

”Saya tidak tahu pak”.

”Ibu ini dari mana mau kemana?”, tanyaku kemudian.

”Saya dari Sragen mau ke Gombong”.

”Wah, ibu ini nekat sekali. Itu kan jauh kalau naik sepeda motor. Apalagi sendirian”, kataku tidak habis pikir.

”Iya memang, sekitar enam jam perjalanan. Biasanya saya naik bis. Ini soalnya saya buru-buru mau layatan sekalian memulangkan motor ke Gombong”, jawaban itu membuat saya semakin penasaran. Bukan soal kenekatannya, melainkan duduk persoalannya.

Setelah panjang-lebar berdialog karena saya mencoba menelisik dan memastikan bahwa ceritanya benar dan agar saya tidak perlu berprasangka buruk terhadap ibu itu, barulah akhirnya saya percaya bahwa ibu itu tidak sedang mengada-ada dalam rangka mencari keuntungan diri sendiri dengan memperdaya orang lain, alias bukan sedang berupaya pu-tippu

Menurut ceritanya, ibu itu asli Gombong dan hal itu dengan mudah dapat terdeteksi dari logat bicaranya dengan bahasa Indonesia yang ngapak-ngapak, maupun juga dari plat nomor sepeda motor yang dinaikinya. Setelah ibu itu menyadari HP dan dompet seisinya dicuri orang ketika sedang berhenti sholat dhuha di sebuah pom bensin sebelum sampai Prambanan dari arah Solo, dia belok ke selatan berniat mampir ke rumah temannya di Wonosari untuk minta bantuan. Agaknya dia tidak tahu kalau jarak Prambanan – Wonosari itu cukup jauh. Bahkan sialnya lagi ternyata temannya itu sudah lebih dulu berangkat melayat ke Gombong. Itulah sebabnya maka di tengah kebingungannya akhirnya ibu itu mampir ke masjid dimana kebetulan bertemu dengan seorang sopir yang sedang duduk melamun dan leyeh-leyeh di teras masjid.

Baru tiga bulan yang lalu diangkat menjadi guru di Sragen, daerah asal suaminya yang sekarang kerja di Jakarta. Sebenarnya selama ini biasanya kalau pulang ke Gombong naik bis. Tapi karena katanya sekalian mau mengembalikan sepeda motornya dan buru-buru mau melayat, kemudian diputuskan pulang ke Gombong naik sepeda motor, sendirian dengan perkiraan waktu tempuh enam jam! Itulah yang kemudian sempat kulontarkan kata-kata : ”Sampeyan kok nekat banget”.

Niatnya mau sholat dhuhur dulu kok ndilalah di masjid itu tidak tersedia mukena untuk sholat bagi ibu-ibu. Maka ibu itu pun segera hendak pergi lagi, setelah sekali lagi saya memberi ancar-ancar dimana kantor polisi berada. Sambil bersiap melanjutkan perjalanan, ibu itu berkata : ”Saya mau melapor dan mungkin mau pinjam uang ke polisi biar nanti sepeda motornya mau saya titipkan di sana. Saya mau naik bis saja…”.

Ucapan dari ibu guru itu membuat otak saya berpikir cepat. Apakah memang seharusnya ibu itu menempuh cara itu? Tidak adakah solusi yang lebih baik baginya? Apa yang bisa saya lakukan?

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepadanya, sambil saya berkata : ”Bu, ini untuk membeli bensin. Ikhlaskan saja dompet ibu yang hilang dan doakan pencurinya, insya Allah ibu akan memperoleh gantinya yang lebih baik”, kataku sok tahu (dan memang dalam situasi tertentu, berperilaku ’sok tahu’ itu adalah sebuah keterampilan yang sangat diperlukan). Semula ibu itu menolak pemberian saya. Namun saya yakinkan bahwa dia lebih membutuhkannya. Tidak lupa kemudian saya wanti-wanti : ”Hati-hati di jalan, bu…!”. Ucapan ”normatif” tapi saya tahu pasti itu cukup membantu menenangkan pikirannya.

***

Bagian terakhir itulah sebenarnya yang menjadi inti dari cerita saya ini. Bukan soal uang yang saya berikan. Kalau itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik dengan jumlah yang lebih banyak. Dalam agama saya, dan juga siapapun (lebih-lebih para pemilk KTP Islam) pasti tahu, perbuatan ”pamer kebaikan” adalah tergolong riya yang dilarang oleh agama. Namun, ternyata tidak setiap pemilik uang sempat dan mampu membuat keputusan cepat untuk melakukan sebuah kebaikan di detk-detik yang boleh dikatakan ”kritikal”. Sebab kalau saja saya kelamaan berpikir, ibu itu pasti sudah telanjur berangkat tanpa saya melakukan tindakan apapun.

Intinya adalah bagaimana kita menangkap sebuah peluang di detik-detik yang dalam istilah persepakbolaan disebut dengan injury time. Juga dikenal ada istilah suddent dead. Siapa duluan membuat gol, atau action langkah kemenangan, dialah yang akan meraih hasilnya. Dalam pengalaman cerita di atas, saya lebih dahulu membuat keputusan untuk berbuat sesuatu di detik-detik terakhir sebelum ibu itu pergi. Bukan tidak mungkin, saya terlambat membuat keputusan sehingga ibu itu lebih dahulu melaju pergi meninggalkan saya yang sesaat setelah itu baru ngeh….. Sesal kemudian tak berguna….

Satu hal lagi, bahwa kesempatan memperoleh peluang seperti itu tidak datang setiap saat. Sekedar ilustrasi, barangkali kita pernah mengalami berangkat dari rumah membawa segepok uang receh dengan harapan kalau nanti ketemu peminta-minta di jalan akan dibagikan. Tapi setelah berjalan melewati banyak perempatan jalan malah tidak satu pun peminta-minta yang kita jumpai. Atau sekali waktu kita pergi hendak bersedekah kepada seseorang dan ternyata setelah dicari-cari, seseorang itu tidak berhasil ditemui. Bahkan dalam kisah di atas, seorang teman yang kebetulan membaca status yang saya tulis di Facebook segera mengontak saya dan berniat menyumbangkan sejumlah uang. Namun sayang sekali, sudah dicari-cari hingga ke kantor polisi Prambanan, ibu itu tidak berhasil dijumpai. Entah sedang singgah kemana ibu itu. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang. Tapi ketika kemudian kesempatan itu datang, sepertinya banyak hal membuat ragu dan menghalangi sehingga kita malah tidak melakukan apapun.

Ya, tentang menangkap sebuah peluang, itulah sebenarnya yang saya ingin berbagi melalui cerita ini. Menangkap sebuah peluang ”bisnis” yang dalam pemahaman saya di baliknya terkandung nilai yang tak terukur dan digaransi akan memperoleh return yang tak terhingga nilainya. Hanya sebuah langkah kecil yang relatif tidak berarti banyak. Namun saya ingin meyakinkan bahwa improvisasi keseharian semacam itu terkadang perlu dilakukan, minimal agar irama kehidupan ini tidak membosankan begita-begitu saja…, karena langgam improvisasi yang secara kasat mata tidak seberapa itu akan terasa besar manfaatnya baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Namun sekali lagi, tidak banyak orang yang sempat menangkap peluang ”bisnis” semacam ini. Padahal bukan soal ”berapa banyak” yang menjadi esensinya.

Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: