Archive for Juni 25th, 2010

Marem Pondok Seafood

25 Juni 2010

Anak lanang yang beberapa hari ini tekapar sakit di rumah, tiba-tiba malam ini mengajak makan seafood. Maunya ke “Marem Pondok Seafood”, Jl. Wonosari Km 7, Jogja. Menu unggulannya udang galah hotplate, gurami bakar/goreng asam manis dan ca kangkung. Sayang, di penghujung week-end ini kangkungnya keburu habis.

Jika sedang berada di wilayah tenggara Jogja, resto ini layak dipertimbangkan untuk dikunjungi. Jangan lupa ca kangkungnya, so special…!

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Musim Kawin

25 Juni 2010

Musim kawin telah tiba. Seperti kebiasaan umumnya masyarakat Jawa memilih bulan Rajab sebagai waktu yang dipandang “pas” untuk hajatan… Minggu siang ini, menghadiri pesta pernikahan seorang pegawai (di sebuah desa di Berbah, Sleman, Jogja). Betapa bertolak-belakangnya dengan pesta pernikahan yang kuhadiri beberapa hari yll. di gedung megah.

Pelajarannya: Bagaimana menikmati sepiring nasi menu ndeso bukan sebagai asesori pesta, melainkan bagian dari ritual kesyukuran…

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Setelah Tetes Terakhir

25 Juni 2010

Tetes terakhir kopi Amungme dari Papua sudah berlalu. Pagi ini disusul dengan kopi Kupu-kupu Bola Dunia dari Bali. Kuat pahitnya, mantap kentalnya, halus bubuknya, terasa kafeinnya, dan… sensasi “theng”-nya itu terasa sekali. Perlu tambahan gula bagi yang tidak suka ‘kopi rasa jamu’…

Terima kasih untuk sahabat yang telah mengirim oleh-oleh kopi. Di atas secangkir kopi itu kulihat wajahmu… (Maka bagi yang ingin wajahnya juga kulihat, kirimlah kopi…)

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tujuh Purnama Kita Lalui

25 Juni 2010

Sudah tujuh purnama kita lalui
Sejak kehadiranmu kembali dari pengembaraan panjang, nyaris tak kukenali
Langit terang temaram silih berganti
Pasang surut air laut menyisakan genangan membasahi
Angin badai datang dan pergi

Kau bisikkan kata-kata indah
Kau ajari aku tentang ibadah
Kau sertai aku menyusuri hati yang gundah
Kau ingatkan aku ketika salah
Kehadiranmu adalah anugerah
Seolah menjadi jawaban atas permohonan panjangku penuh pasrah

Kubalas dengan ketulusan hati tanpa pamrih
Sebab aku yakin di sana ada Tuhan yang Maha Kasih
Yang akan membimbingku dari kesalahan, dalam galau hati yang terkadang terasa perih

Sudah tujuh purnama kita lalui
Semesta keindahan telah bersama kita nikmati
Adalah kedalaman rasa yang selayaknya kita syukuri
Tak lalai untuk kita hikmahi
Walau hanya di alam maya kita bermimpi

Tapi nampaknya keindahan itu kian terusik
Karena kita tak mampu menjaganya, bahkan menjadi semakin pelik
Menjadikan jalan panjang itu seperti berbalik
Menjauh dari fitrah penghambaan kepada Sang Maha Pemilik
Tak sebagaimana saat semua bermula

Sudah tujuh purnama kita lalui
Masa-masa indah yang cukup untuk kita arungi
Namun petualangan dan perjalanan itu kemudian seolah semakin hilang kendali
Nyaris mencapai suatu titik yang seumur hidup akan kita sesali

Tapi, Tuhan…….
Betapa Engkau sangat menyayangi kami
Engkau tahu kami menjadi semakin liar tanpa kami menyadari
Lalu Kau paksa kami menghentikan perjalanan ini
Dengan caraMu, Kau paksa kami menoleh kembali ke dalam diri

Kini aku paham
Bukan karena Engkau marah atas kedhoifan dan kealpaan kami
Tapi justru begitu sayangnya Engkau kepada kami
Kini aku tahu itu
Engkau tidak rela kalau kami terperosok ke lembah dimana tak ada jalan kami bisa kembali

Sesungguhnya kami takut berada jauh dariMu, wahai zat yang Maha Suci
Namun jika ada khilaf terjadi di antara kami
Sungguh itu bukan kami sengaja mengingkari
Melainkan semata kebodohan dan kelemahan kami

Segala puji hanya bagiMu, Ya Robb…
Terima kasih, wahai zat yang Maha Rahman dan Rahim
Telah Kau ajari kami tentang pemahaman cinta kasihMu
Namun ampuni kami yang lemah dan hina ini
Yang tak selalu mampu menjaga hikmahMu

Kini perkenankan kami melanjutkan perjalanan panjang ini
Dan perkenankan pula kami memohon agar Engkau senantiasa menyertai

Yogyakarta, 20 Juni 2010
Yusuf Iskandar