Antara Ariel Dan Maria Eva

Pengantar:

Hingar-bingar video sarunya “mirip” Ariel – “mirip” Luna Maya – “mirip” Cut Tari mengingatkan saya (heran, kok ya ingat saja…) kepada “insiden” yang sama sarunya dengan yang melibatkan tokoh “mirip” artis Maria Eva dan “mirip” anggota Dewan yang terhormat empat tahun yll. Sekedar bernostalgia dengan hikmah atau pelajaran apa yang dapat dipetik, berikut ini tayang-ulang dongeng saya empat tahun yll.

*******

Gunung Es-nya Maria Eva

Gunung esnya Maria Eva ini tentu tidak mak nyusss…, seperti gunung es campurnya “Pak San” di Cilacap. Tapi ini kisah tentang sebuah fenomena, yang bisa jadi benar, bisa jadi salah. Bukan hanya penderita HIV/AIDS saja yang bisa membentuk fenomena gunung es, tapi penderita (sebenarnya lebih tepat disebut penyuka, karena memang tidak menderita) selingkuh juga bisa membentuk fenomena gunung es.

Ini hanya sebuah unek-unek tentang semangat yang rada mengada-ada, mungkin su’udzdzon (berprsangka buruk), tapi mungkin juga make sense…..!

***

Hari-hari ini sebagian besar penonon televisi di Indonesia sedang “terjebak’ untuk terpaksa mengambil bagian dalam menggunjing aib orang lain. Sebut saja penggunjing pasif. Pasalnya tidak turut ngomong, melainkan ter-fait-acompli untuk turut mengikuti perkembangan ceritanya. Kemanapun saluran TV di-ceklek-kan, kisah aib orang lainlah yang muncul pathing pecothot….., berhamburan tak terkendali. Puncak tangganya diduduki oleh beredarnya film adegan saru (lebih enak didengar ketimbang mesum) perselingkuhan yang berujung perseteruan, antara Maria Eva versus Yahya Zaini. Keduanya public figure (meskipun sebelumnya saya juga tidak pernah tahu kiprah maupun seluk dan beluknya kedua orang itu). Karena itu, tentu saja tidak bebas dari kepentingan, baik kepentingan diri sendiri maupun (apalagi) orang lain..

Anggap saja aib perselingkuhan itu sebagai sebuah “insiden” (tapi direncanakan), yang kalau dijabarkan menjadi : sebuah insiden perselingkuhan, yang konangan (ketahuan) istri dari pelaku laki-laki, sempat direkam, hasil rekamannya sempat beredar, dan pilem itu jadi pembicaraan orang (karena menyangkut tokoh atau selebriti).

Anggap saja “insiden” Maria Eva ini bak sebuah puncak gunung es, maka lereng, tebing, lembah dan kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air itu bisa jadi lebih nggegirisi (mengerikan). Ambil saja perbanyakannya mengikuti deret ukur kelipatan sepuluh, maka rekonstruksi ceritanya bisa menjadi demikian :

Ada sebuah “insiden” Maria Eva.
Ada sepuluh “insiden” yang filmnya tidak menjadi pembicaran orang.
Ada seratus “insiden” yang filmnya tidak sempat beredar.
Ada seribu “insiden” yang tidak sempat direkam.
Ada sepuluh ribu “insiden” yang tidak konangan isri atau keluarganya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air laut itu membentuk dataran yang mbleber kemana-mana seperti lumpur Lapindo? Perbanyakannya bisa-bisa lebih dari deret ukur kelipatan sepuluh, melainkan eksponensial?

Barangkali ada seratus ribu, sejuta atau lebih banyak lagi, “insiden” yang tidak direncanakan, “just-in-time”, ujug-ujug terjadi begitu saja………, dimana-mana, tak kenal papan lan panggonan (waktu dan tempat), dan pakaian seragam (toh akan dilepas juga).

***

Waktu terus berlalu. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi, tidak bisa di-tip-ex atau di-delete. “Maria Eva” lainnya yang kini masih thenguk-thenguk (diam tepekur) di dasar lautan semakin hari semakin gerah. Bukan soal salah siapa. Melainkan kalau ada sepasang pelaku “insiden”, kenapa satu pihak tetap tampak disubyo-subyo (disanjung-sanjung) dan malah menikmati aneka keistimewaan. Sementara pihak lainnya menanggung derita batin, tenggelam dalam nasi yang sudah kadung jadi bubur. Itu tentu karena kepentingan telah berganti antara yang dulu dan sekarang. Kepentingan (interest) memang tidak tak lekang oleh panas, tidak tak lapuk oleh hujan, apalagi gempa atau banjir lumpur. Belum lagi karena karir, prestise, kemapanan dan kenyamanan yang berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Mudah-mudahan kaki gunung esnya Maria Eva tidak mencair, yang lalu mbleber ke wartawan infotainment. Pertama, agar waktu dan energi bangsa ini tidak terbuang percuma. Kedua, agar saya tidak perlu menjual TV di rumah yang gambarnya sudah agak rusak akibat digulingkan oleh Gempa Yogya dan kini semakin rusak gambarnya oleh tayangan aib orang lain, plus dengan lugu-nya (maksudnya : lu guoblok…) dimunculkannya cuplikan adegan saru itu. Ya, hanya oknum televisi guoblok saja yang menganggap cuplikan tayangan itu pantas muncul di tengah keluarga.

Jagad….jagad……., yang namanya aib memang tidak ada yang sopan. Sama aib dan tidak sopannya adalah mereka yang suka mengutak-atik aib orang lain, lalu mengumbarkannya kepada tetangganya sebangsa dan setanah air. Seolah berkata : Mari kita melakukan aib rame-rame seperti potong padi di sawah atau berjama’ah seperti jum’atan…..

Yogyakarta, 9 Desember 2006
Yusuf Iskandar
(Tidak punya ponsel yang ada kameranya)

Iklan

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: