Archive for Juni 21st, 2010

“Sa Pi Basket”

21 Juni 2010

Rembang petang anak lanang ‘mblandang masuk kandang’, baru pulang….
Bertanyalah ibunya: “Leee…, ko pi mana?”.
“Sa pi basket”, jawabnya.

Sirkus kah? Ada sapi main basket….

(Note – dialek Indonesia Timur: ko=kamu, pi=pergi, sa=saya).

Yogyakarta, 18 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kekenyangan Di Kondangan

21 Juni 2010

Kondangan malam ini agak spesial. Saya bilang ke istri: “Nampaknya tidak banyak tamu yang kita kenal…”. Berarti, waktunya tidak banyak tersita untuk halal-bihalal, melainkan uji-coba semua hidangan yang ada kecuali nasi.

Maka usai menyalami pengantin, langsung ambil steak bbq, lalu bakso, zuppa soup, mie oriental, es puter, mpek-mpek, buah segar, es buah, salad, tidak ada yang terlewat. Semuanya diselesaikan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya…

***

Nampaknya di acara kondangan yang spesial itu istriku menyerah di tengah jalan. Maklum, kapasitas “sapiteng”-nya terbatas. Sementara kapasitas “sapiteng”-ku 12 kali panjang badan… (Dasar!).

Meninggalkan arena kondangan, kemlakaren (kekenyangan)…, langsung melaju pulang. Baru ngeh setelah ditegur istri: “Lho, kok pulang?”. Oops! Sorry, sampai lupa mau singgah dulu ke rumah mertua….

(Note : sapiteng = safety tank)

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Menulis Dongeng Tambang

21 Juni 2010

Ketiduran usai “mirip” ibadah kebaktian fajar, terbangun oleh dering tilpun dari seberang samudera.
Intinya: “Mas, bisa bantu nulis tentang dongeng tambang tapi dengan gaya populer agar mudah dipahami orang awam?”.
Spontan jawabku: “Insya Allah, siap!”.

Untuk urusan dongeng-mendongeng, apalagi temanya sesuai dengan bidang yang pernah saya tekuni selama 19 semester, membuat adrenalinku melonjak seperti ketika mendaki gunung…

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Angka Empat

21 Juni 2010

Masih tentang angka 4: Seorang teman pembaca blog saya dari Malaysia membenarkan bahwa di sana seringkali untuk menghindari penggunaan angka 4 (empat), dilakukan modifikasi. Misalnya: lantai 4 menjadi 3A, 14 menjadi 13A, 24 menjadi 23A. Ini gara-gara bunyi lafal ’empat’ dalam bahasa Mandarin yang “mirip” dengan bunyi lafal ‘mati’, yaitu ‘se’

(Sementara menurut kamus daripada infotainment daripada Indonesia, kata “mirip” berarti: “iya, tapi tolong jangan paksa aku mengiyakan”)

(Note: Dunia infotainment lagi gencar-gencarnya merilis berita tentang video porno “mirip” artis Ariel, Luna Maya dan Cut Tari)

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Dari Mana Datangnya Rejeki

21 Juni 2010

Petang itu saya agak terlambat tiba di masjid, agak lama setelah gaung adzan maghrib menghilang dari angkasa. Sambil menunggu iqomat tanda dimulainya sholat maghrib, saya jalan melenggang di pinggiran dalam dinding masjid sambil mata melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah Qur’an kecil lusuh yang sampul luarnya sudah hilang dan menyisakan sebundel lembaran-lembaran bertulisan huruf Arab. Lembaran-lembaran itu pun sudah sobek-sobek bagian luarnya. Di sebelahnya ada setumpuk kitab Qur’an yang kondisinya terlihat jauh lebih baik.

Entah kenapa justru kitab lusuh itu lebih menarik perhatian saya. Segera kuraih, lalu kubuka asal saja di bagian tengah, entah pada halaman berapa. Spontan seperti ada yang mengarahkan pandangan mataku pada sebuah ayat yang setelah kubaca bunyi lafalnya sepertinya sangat familiar. Walau tulisan di buku kecil itu terlihat terlalu kecil, tapi bagian awal dari ayat itu masih dapat kubaca, yang berbunyi : “Allahu yabsuthur-rizqo limayyasyaak…..”. Saya juga masih bisa membaca tulisan di bagian atas halaman kitab kecil itu, yaitu surat Al-Ankabuut. Tapi mata plus-minus saya sudah tidak mampu membaca nomor ayatnya sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Karena saya merasa sangat mengenal ayat itu tapi lupa artinya, dengan meninggalkan rasa penasaran saya berkata dalam hati : “Akan kucari artinya nanti di rumah”.

Sepulang dari masjid, setelah bertadarus sebentar segera saya ambil buku tarjamah dan saya cari penggal ayat tadi. Tidak terlalu sulit mencarinya, walau tadi tidak terbaca nomor ayatnya, tapi saya tahu nama suratnya. Akhirnya kutemukan juga. Agak terhenyak saya setelah membaca terjemahan lengkapnya yang berbunyi : “Allah melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambanya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya…” (QS. 29:62).

Entah kenapa saya merasa agak galau. Barangkali karena timing saja. Sebagai “penganggur terselubung” akhir-akhir ini saya agak risau tentang hakekat sumber datangnya rejeki. Padahal terjemahan ayat itu sebenarnya biasa-biasa saja. Makna tersiratnya juga sudah sejak dulu saya pahami. Namun pada petang itu, bunyi sepenggal ayat yang secara kebetulan saya baca di Qur’an sobek di masjid itu, kedengaran bagai sebuah teguran atau peringatan. Sebuah kebetulan?

Ya, tentang rejeki. “Binatang klangenan” yang setiap menit, setiap jam, setiap hari senantiasa diburu dan didambakan orang. Saya atau mungkin orang lain, selama ini sering terlena. Setiapkali bicara ihwal rejeki konotasinya selalu uang dan materi. Referensi pertamanya selalu pemilik uang atau atasan, atau orang-orang kaya. Akibatnya peranan Tuhan seolah-olah “terkesampingkan” dari akal pikiran, dan justru pikiran tentang penguasa uanglah yang kemudian datang melintas lebih dahulu.

Mencarinya memang wajib. Mengupayakan dengan segala daya upaya juga harus. Tapi titik tolak tindakannya (baca : amaliyah) mestinya bukan “kepada siapa” melainkan “atas nama siapa”. Seringkali yang kemudian melintas di pikiran adalah “melobi” kepada penguasa uang, walaupun hal itu dilakukan juga sebagai upaya pelengkap, tapi mestinya bukan itu sebagai esensi penghambaan atas nama Sang Maha Pemberi Rejeki.

Saya tahu bahwa pemikiran terlena seperti itu tidak terlalu salah. Saya juga percaya bahwa sudah ada yang Maha Pengatur Rejeki. Namun yang terjadi seringkali salah kaprah. Alam bawah sadar saya seolah-olah memerintahkan bahwa untuk memperoleh rejeki itu harus fokus dan begitu tergantung kepada pemilik uang atau oknum-oknum lain selain Tuhan.

Lha, kalau sebenarnya Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Kenapa mesti pusing dengan penguasa uang, orang kaya atau atasan? Kenapa tidak langsung saja berfokus kepada Tuhan? Perkara nanti rejeki itu akan dititipkan siapa atau dikirimkan lewat jasa kurir apa, biarlah Tuhan yang mengurusnya. Begitu, pikiran jernih saya kemudian.

Ya, ketika kita butuh rejeki lebih, mestinya ‘kan tinggal berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan, agar kita termasuk dalam kelompok yang dikehendaki-Nya untuk dilapangkan rejekinya? Tapi kenapa selama ini tidak banyak yang mau berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan? Jangan-jangan karena kita merasa malu dan tidak pantas melakukan itu. Atau, malah sebenarnya tahu bahwa dirinya tidak pantas tapi tetap “nekat” merajuk kepada Tuhan. Seperti seorang yang tahu kalau dirinya tidak pantas mencintai gadis yang “mirip” bidadari tapi keukeuh mengubernya? Dan, Jaka Tarub pun kemudian akan mencuri pakaian “mirip” bidadari yang sedang mandi agar dapat merengkuhnya. Maka, jalan pintas ditempuh, sehingga rejeki pun dapat diperoleh. Tinggal keberkahannya yang akan membedakan. “Ora dadi daging (tidak menjadi daging)”, kata orang di kampung saya.

Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana, hanya berusaha memantaskan diri untuk hadir dan “melobi” Tuhan. Sebab Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang berjanji memenuhi kebutuhan hambanya, bahkan Dia pula yang berjanji akan mengabulkan setiap permohonan hambanya.

So, kurang apa lagi? Kurang pantas, jawabnya. Jangan-jangan kita memang kurang pantas untuk hadir dan meminta kepada Tuhan agar diturunkan rejeki dari langit atau dikeluarkan rejeki dari muka bumi. Dan ketika rejeki itu kemudian benar-benar didatangkan, jangan-jangan kita juga sebenarnya kurang pantas diberi amanah mengelolanya.

Yogyakarta, 14 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Enthok Bu Gendut

21 Juni 2010

Mampir makan siang ke warungnya Bu Ndut, kantin lantai bawah sebuah gedung di Warung Buncit, Jakarta. Mau makan sayur lodeh malah ditawari enthok (itik manila) goreng yang ukuran potongannya seiring-sebangun dengan postur yang jualnya, Bu Gendut. Sayang cara masaknya kurang pas, masih agak keras, tapi aromanya lebih lembut tidak amis seperti daging bebek. Lalapan daun kemangi dan poh-pohan, dan sambalnya benar-benar joss…, ngangenin…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Catatan:
Daun poh-pohan rasanya seperti mint. Orang Sunda bilang daun keresmen.

Akibat Nonton Bola

21 Juni 2010

Jam 10 lebih, jalan tol dari arah bandara Soeta menuju Jakarta padat-merayap-tersendat, padahal biasanya jam-jam segitu sudah mulai lancar. “Orang Jakarta ramai-ramai keluar rumahnya agak siang karena semalam nonton bola, pak…”, kata sopir taksi datar bernada menghibur diri. Woooo……

(Soeta : Soekarno – Hatta)

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

VIP Lounge

21 Juni 2010

Jika sedang menunggu boarding di bandara dan ingin makan-minum sepuasnya, carilah VIP Lounge, terutama bagi pemilik kartu kredit tertentu. Jika tidak punya kartu kredit, tetap masuklah ke sana karena jatuhnya lebih murah. Biaya Rp 50.000,-/orang (terkadang ada diskon), makan-minum sepuasnya, sekalian buang hajatnya. Dibanding kalau di resto di luarnya mungkin jadi lebih mahal. Nggak nyamannya…, diuber sales kartu kredit…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar