Kamar 14

Bulan lalu ketika hendak menaiki sebuah gedung bertingkat di Jakarta, saya perhatikan angka penunjuk lantai di lift tidak memiliki angka 4, 14 dan 24. Biasanya angka 13 yang tidak ada, tapi kali ini semua yang mengandung angka 4 (empat) tidak ada. Jangan-jangan  biar “dikira” lantainya banyak lalu pengangkaannya diloncat-loncat?

Ketika akan naik ke lantai 18 gedung Menara Summit di Subang Jaya, Malaysia, dua tahun yll, saya berpikir kok tidak ada lantai 14? Sang pemilik gedung yang naik lift bersama saya, yang adalah seorang pebisnis properti di Malaysia, rupanya tahu keheranan saya. Beliau lalu menjelaskan perihal tidak adanya lantai 14 ini.

Rupanya angka 4 (empat) memang adalah angka yang dihindari oleh kebanyakan masyarakat Cina. Pasalnya bunyi lafal ‘empat’ dalam bahasa Mandarin bunyinya hampir sama dengan lafal ‘mati’ juga dalam bahasa Mandarin. Kedengarannya sama-sama ‘se’. Maka jalan pikirannya adalah jangan sampai ketika seseorang hendak menuju lantai 14 justru kedengaran seperti menyebut hendak menuju mati. Atau dapat diperlambangkan bahwa angka 4 (empat) dapat membawa seseorang tidak kepada hokinya atau keberuntungannya, melainkan “memelesetkannya” menuju kesialan, kegagalan, kehancuran, atau dalam lingkup bisnis adalah kebangkrutan.

Akan tetapi di Menara Summit pula saya juga heran: “Tapi kok ada lantai empat?”. Sang pemilik gedung pun sudah siap dengan jawabannya : “Lantai empat tidak dipakai bisnis, melainkan digunakan sebagai gudang”. Oo…, asal jangan menjadi lantai kematian atau kehancuran, kataku becanda dalam hati (becanda saja dalam hati…).

Dengan demikian menjadi dapat dipahami kalau diperhatikan di gedung-gedung tinggi milik orang Cina, kebanyakan tidak terdapat lantai empat, 14, 24, dst. Berbeda dengan orang Barat yang umumnya menghindari angka 13 yang berkonotasi sebagai angka sial. Maka kalau kedua “kepercayaan” itu berkolaborasi dalam sebuah gedung tinggi, misalnya gedung berlantai 15, maka hilanglah lantai empat, 13 dan 14… Berarti pengangkaan lantai gedungnya menjadi sampai lantai 18, atau malah cukup membuat 12 lantai saja?.

Demikian halnya dengan nomor kamar hotel atau tempat duduk di pesawat, adakalanya kamar No. 13 atau Row 13 di pesawat tidak ada. Entah kalau kamar hotel di Cina atau pesawat buatan Cina (saya belum pernah memperhatikan), jangan-jangan juga tidak memiliki kamar No. 4, 14, 24, dst. atau Row 4, 14, 24, dst. (becanda lagi, dalam hati…).

Maka ketika saya menempati sebuah kamar dengan No. 14, tentu saja tidak serta-merta pikiran saya harus berasosiasi dengan keyakinan tentang kesialan. Sebab “kepercayaan” saya berbeda. Walaupun di kamar itu saya langsung nggeblak….., seperti kebiasan saya setiap pertama kali masuk kamar hotel, merebahkan badan melampiaskan penat….. Angka 14 hanyalah sebuah angka, sebagaimana banyak angka atau nomor yang mengandung komponen angka 4 (empat) betebaran di mana-mana.

Untungnya saya bukan artis, sehingga apa yang terjadi di dalam kamar No. 14 tidak akan menarik perhatian orang. Kalaupun ada yang tertarik mengunggah dan menyebarkannya di internet, ya saya biarkan saja. Paling-paling adegan sedang buang hajat…., atau malah buang sial? (Jangan-jangan tergolong pornoaksi juga kah? Tapi masak sih pak polisi mau repot-repot menyidik orang buang hajat?).

Yogyakarta, 12 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

2 Tanggapan to “Kamar 14”

  1. en_me Says:

    memang benar pak, kekadang di kantor malaysia ada tingkat 14 diganti dengan 13A, begitu 4 kepada 3A, 24 kepada 23A.. begitulahh

    salamm pak dari seberang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: