Sehari Di Kamar 14

Ini bukan cerita soal kamar atau isinya atau kegiatan di dalamnya. Sebab itu adalah privasi setiap orang, betapapun menjengkelkan atau mengesankannya, baik atau buruknya, biasa-biasa saja atau indahnya. Kamar 14 atau kamar nomor berapapun, hanyalah sebuah kamar. Isi dan kegiatan di dalamnya pun layaknya sebuah kamar, bukan kantor, bukan warung, bukan juga pos ronda.

Ini adalah cerita tentang komponen angka 4, termasuk di dalamnya kamar 4, 14, 24, dst. atau lantai gedung bertingkat. Bagi kebanyakan masyarakat Cina, angka 4 (empat) adalah angka yang dihindari untuk dijadikan sebagai penanda . Pasalnya bunyi lafal ‘empat’ dalam bahasa Mandarin bunyinya mirip lafal ‘mati’ juga dalam bahasa Mandarin., yaitu ‘se’ yang bunyi elafalannya nyaris susah dibedakan antara yang berarti ‘empat’ dan ‘mati’.

Jika kemudian saya sempat sehari menempati kamar 14, maka sepenuhnya itu karena memang tinggal kamar itulah yang masih kosong untuk ditempati. Tidak harus saya hubung-hubungkan dengan “kepercayaan” yang tidak saya percayai itu.

Selebihnya, ya tinggal bagaimana saya akan menempati dan menggunakannya, dengan cara apa, dengan siapa, dengan aktifitas apa, asal tetap mbayar uang sewanya….

Yogyakarta, 31 Mei – 1 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: