Sebuah Mimpi Di Lembah Peraduan

Bersengaja bangun jam 02:30 dini hari.
Lebih awal dari lonceng sisa sepertiga malam yang biasanya tahajud ditunaikan hingga adzan subuh menjelang.
Berniat hendak menyaksikan peristiwa alam hujan meteor (Eta Aquarids)  yang puncaknya bakal terjadi saat Jum’at dini hari ini.

Sayang sekali cuaca muram karena hamparan langit terbalut awan gelap.
Melihat ke bentangan bola langit sisi timur dimana hujan meteor seharusnya terlihat.
Menunggu beberapa lama berharap awan bergerak menyingkir dan menyingkap cerahnya langit yang seharusnya berbintang.
Bersyukur bulan sabit masih ada di sana, sesekali menampakkan sepotong wajahnya dan sesekali terlihat seperti putri malu.
Bersyukur bulan yang tinggal sepotong itu masih menebarkan kemilaunya, walau tetap saja kegelapan yang tampak di seputarannya.

Sempat hati termangu, bermenung menatap kelabu gelapnya langit.
Mencoba berdiri bersabar barangkali masih tersisa sempat untuk menyaksikan fenomena astronomi langka di ruang berjarak jutaan tahun cahaya yang terjadi di antara hamparan bumi dan luasnya bentangan langit.

Walau keindahan angkasa tak ternikmati, pengakuan akan kebesaran Sang Pencipta sepantasnya tetap terungkapkan.
Awan gelap memang tak seindah langit cerah berhiaskan rembulan dan gemintang.
Namun keindahan yang demikian itu adalah keindahan relatif terhadap ciptaan alam menurut persepsi manusia.
Sedang Sang Pencipta dan Pemilik keindahan sejati memastikan bahwa kehakikian keindahan itu ada pada bagaimana hakekat tujuan dan proses penciptaan alam dan seisinya.

Maka sebenarnya bukan tanpa ada tersirat makna jika setiap ciptaan alam itu ditebar, melainkan agar jangan pernah ada pengingkaran atas karya Sang Maha Pencipta.
Tuhan telah memastikan kepada setiap mahluknya bahwa sesungguhnya dalam pencptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia (
rabbanaa maa kholaqta haadzaa baathila). Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. 3 : 190-191).

Saat waktu subuh masih lebih seputaran jarum jam.
Perjalanan malam berubah menjadi sebuah perjalanan lintas batas antara kesadaran dan impian.
Sebuah perjalanan ekstase.
Sebuah perjalanan mimpi yang pasti tak nyata.
Meninggalkan ayoman langit berawan menuju lembah peraduan.
Bukan, bukan hendak meninggalkan ajakan bertahajud melainkan menundanya untuk menyongsong keindahan lain yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta atas elemen nafsu dan emosi yang ada dan tumbuh dalam diri manusia.
Memang bukan sebaiknya, melainkan tidak juga kesalahan jika melakukannya.
Bagaimanapun juga menunda kebaikan adalah bukan kebaikan.
Tetapi kebaikan yang tertunda itu lebih baik daripada meninggalkannya.

Biarkan hujan meteor mungkin terjadi nun jauh di luar sana.
Tak sempat menjadi saksi atas fenomena alam langka itu, tapi sempat mensyukuri dan mengagungkan keberadaan Sang Penciptanya.
Petualangan di lembah peraduan adalah juga bagian dari ibadah penghambaan atas keindahan pancaran cintaNya.

Percakapan tentang cinta, percakapan tentang keindahan dan percakapan tentang mimpi-mimpi mengawang, adalah bagian dari bersatunya hati yang sedang dilanda perasaan yang tak terkatakan, melainkan rasa akan pancaran spektrum cahaya Rahman (kasih) dan Rahim (sayang) atas keagungan Sang Maha Pencipta.

Dari percakapan berpindah ke perasaan.
Dari perasaan berpindah ke amaliah.
Dari amaliah menjelma kehangatan berkas cahaya Rahman dan Rahim, yang masih terasa hingga ke relung hati paling dasar, hingga ke sumsum tulang paling dalam.
Mimpi di Lembah peraduan menjadi saksi atas cinta kasih anak manusia.
Kalau pun tidak nyata maka mimpi pun ada.
Tabir tipis merah sutra tak menjadi penghalang atas bersatunya hati dan jiwa.
Singkapan tabir halus dan lembut mengantarkan ke medan petualangan yang membentang liar untuk dijelajahi dan disusuri sedalam yang mampu dilakukan.
Berhiaskan harum bebauan yang membangkitkan gairah, mengeksplorasi lebih jauh menuju ruang-ruang yang seolah tak bertepi.

Jika kemudian ada kenikmatan membentang indah di ufuk maya jauh di sana, maka itu pun adalah perwujudan dari penciptaan yang pasti bukan sebuah kesia-siaan.
Kenikmatan yang terpancar dari gairah ruh yang bersenyawa, hawa harum mewangi yang menyelimuti, lembutnya sentuhan cinta, yang semuanya menyatu ke alam mimpi di lembah peraduan.

Bagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, dimana kebaikan dan keburukan seolah menjadi satu nyaris tak berbatas.
Namun kesadaran akal dan pikiran, jiwa dan raga, hati dan rasa, tetaplah menjadi pembatas yang hakiki, bahwa betapapun kenikmatan, keindahan dan kecintaan itu menjelma, tetaplah ada dalam pelukan Rahman dan Rahim milik Tuhan Seru Sekalian Alam.

Subhanallah…..
Tiadalah akan pernah selesai ujian dan anugerah datang silih berganti.
Semua berujung kepada bersatunya pahala dan dosa.
Maka menjadi bagian dari perjalanan kesyukuran adalah wujud akhir yang semestinya terimplementasi dalam amal perbuatan keseharian.
Semoga segenap malaikat dan bidadari di atas langit senantiasa mengawal setiap penggal perjalanan demi perjalanan…..

Alhamdulillah…..
Bertahajud kepada Sang Khalik tetap bisa dijalankan dan melangkah menuju rumah Allah menyertai seruan panggilan Subuh Jum’at pun tertunaikan.
Namun jika kemudian harus memimpin jamaah Subuh menyempurnakan penghambaan di penghujung malam dan di pangkal fajar,
Astaghfirullahaladzim…., semoga Allah melimpahkan maghfirah (ampunan) dan rahmatNya.
Demikian hari pun menjelang dan Insya Allah akan terus menjelang hingga penghabisan waktu yang entah kapan datangnya.

Yogyakarta, 7 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: