(2) Catatan Perjalanan : Antara Lembang – Maribaya

Lembang memang kota kecil di punggungan utara Bandung yang enak disinggahi dan disusuri jalanannya, ketimbang hiruk-pikuknya kota besar di seputarannya. Meski suasana kotanya cukup padat dan sibuk, masih saja terselip nuansa damai dengan belaian hawa pegununan yang menyegarkan. Di tengah cuaca siang yang cukup terik, kami kembali membelok ke jalan tembus Lembang – Cisarua – Cimahi. Namun kali ini untuk tujuan mencari tempat makan yang bernuansa desa dan berbeda dari kebanyakan rumah makan yang betebaran di sepanjang kawasan Lembang dan sekitarnya.

Sampailah ke rumah makan Saung Wargi yang berlokasi persis di sisi kanan bawah jalan yang menurun dan berkelok tajam, tidak jauh dari Lembang. Rumah makan bergaya tradisional yang di tengahnya terdapat sebuah kolam pemancingan besar dan beberapa kolam kecil serta di sekelilingnya terdapat saung-saung atau gubuk-gubuk berkonstruksi bambu. Para pengunjung dapat memilih antara duduk lesehan di atas tikar atau duduk di kursi.

Di salah satu saung itulah kami duduk lesehan sambil memandang kolam kecil yang di tengahnya sedang mekar bunga teratai. Menu sederhana ayam bakar, tahu, tempe dan lalapan cukup menjadi sajian makan siang yang terasa sungguh nikmatnya. Melahap makan siang sambil bercengkerama tentang apa saja. Tentang muhasabah (perenungan) perjalanan hidup dan kehidupan seseorang, dulu, kini dan yang akan datang. Tentang romantisme perjalanan ibadah yang sudah terlewati lebih dari setengah umur manusia. Tentang cobaan dan hikmah yang seharusnya dapat diambil pembelajarannya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebelum meninggalkan Saung Wargi untuk melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan sholat berjamaah di musholla yang ada di sana. Sebagai musafir, maka sholat Dhuhur dan Ashar sekaligus kami tunaikan secara jamak ta’dim (menggabung di waktu awal). Suasana musholla yang sempit itu sepertinya menjadi begitu indah ketika sholat berjamaah didirikan sejak takbir pertama hingga salam terakhir. Di sana ada Tuhan yang sedang memberi kesempatan yang luar biasa. Kesempatan yang tak pernah terpikirkan dan terencanakan, yang bisa berarti anugerah dan bisa juga musibah, tinggal bagaimana setiap dari hambaNya menerima dan menjalaninya.

Kalau ada percikan kemesraan Tuhan kepada mahlukNya dan kalau ada pelukan kasih sayang Tuhan kepada hambaNya, maka semua terbingkai dalam kesucian dan keagungan Sang Maha Pencipta ketika menebarkan rahmatNya kepada segenap jagat raya dan seisinya tanpa pernah pandang perbedaan. Di mataNya, semua mahluk ciptaanNya adalah sama.

***

Hari semakin bergeser menjelang sore. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke kawasan wisata Maribaya yang berjarak sekitar 15 km dari arah Lembang menuju lebih ke utara. Semula tidak ada niat untuk berjalan-jalan menikmati obyek wisata Maribaya, namun tiba-tiba saja keinginan itu melintas di pikiran, sekedar ingin mengenang perjalanan lintas alam yang pernah kami lakukan sekitar 22 tahun yang lalu.

Di sana ada air terjun yang dahulu pernah kami kunjungi. Kini tentu sudah banyak yang berubah. Tapi air terjun itu masih ada di sana, tak jua berubah keindahannya di bawah belaian kesejukan hawa pegunungan. Hijau semak belukar dan rimbunnya pepohonan yang ada di seputaran kawasan Maribaya adalah bagian dari wilayah luas Taman Hutan Raya Ir. Juanda yang sesungguhnya dapat dijangkau dari kawasan Dago atas di Bandung.

Tiada satupun ciptaan Tuhan yang tersia-sia. Tak juga hutan dan flora-fauna seisinya, tak juga gemericik aliran air dan air terjunnya. Semua menjadi saksi atas kuasaNya, semua menjadi bukti atas cinta Sang Khalik kepada setiap ciptaanNya, seperti semua menjadi saksi atas keindahan dan kemesraan yang terbangun di antara setiap mahluk yang menghamba dan bersujud kepadaNya.

Segenap kenangan indah seolah tak kan pernah terulang. Namun seperti rentang waktu 22 tahun yang sepertinya tak pernah terencana untuk terulang kembali, tetapi Tuhan nampaknya memiliki skenario berbeda sehingga berkenan memberi kesempatan kedua kali. Hanya segenap puja-puji rasa syukur yang dapat dipersembahkan dalam hati sanubari. Pada saat yang sama desir darah mengalir menyadari betapa rentannya mahluk ciptaanNya yang dhoif dan tak berdaya.

Tak terasa hari semakin sore. Perjalanan pun harus segera diakhiri. Ke stasiun Hall Bandung kami segera menuju, mengejar kereta malam yang akan membawa kembali ke Jogja. Taksi yang kami tumpangi melaju kencang membelah kala petang kota Bandung, di bawah rintik hujan dan terpaan angin dingin yang berhembus kencang serta degupan denyut jantung, seolah tiada lagi kereta malam yang akan lewat. Segenap rasa syukur, keharuan dan keindahan tertumpah menjadi satu dalam sebuah kesadaran bahwa semua perjalanan itu bisa jadi hanya sebuah mimpi. Dan jika secara kebetulan perjalanan di alam mimpi itu sejenak menjelma menjadi nyata…., maka Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan bumi dan seisinya tanpa pernah ada setitik materi pun yang sia-sia… (rabbana ma kholaqta hadza bathila).

komitmen harus diberikan,
kesadaran harus dibangkitkan,
bahwa ada yang lebih Maha Merencanakan di atas semua rencana-rencana yang ada.
bahwa biarlah Sang Maha Pemilik Alam Seisinya memilihkan jalan lurus yang seharusnya ditempuh,
hanya keikhlasan menyertai sepanjang waktu yang diberikan
waktu dimana ada mimpi-mimpi yang tak nyata
waktu dimana ada salah dan dosa
waktu dimana ada kebaikan yang dapat direngkuh
waktu dimana antara indah dan haru menyatu
entah sampai kemana akan menuju…

Bandung, 14 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: