Kenangan Itu Untuk Disyukuri

(Catatan Kenangan Untuk Teman Sekamarku, Prof. Dr. H. Didit Welly Ujianto, MS.)

Pengantar :

Pada hari ini, teman sekamar kostku 30 tahun yll, yang sekarang menjabat sebagai Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta periode kedua, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Manajemen, Prof. Dr. H. Didit Welly Udjianto, MS. Sebagai tanda turut bangga atas pencapaiannya itu, saya membantu menyunting sebuah tulisannya yang sangat menyentuh yang berjudul “Syukurku Hanya Kepada Allah” dan saya sendiri juga menuliskan sebuah catatan kenangan yang saya persembahkan kepada beliau, seperti di bawah ini.

***

Sebagai seorang calon mahasiswa UPN “Veteran” yang telah diterima di Fakultas (sekarang Jurusan) Tambang, pada sekitar pertengahan tahun 1979 saya mencari pemondokan di kawasan belakang kampus Tambak Bayan. Akhirnya sampailah saya di sebuah pemondokan bernama Pondok Siswa yang beralamat di Jl. Tambak Bayan IV/1. Setelah bertemu dengan bapak kost (Alm. Bp. H. Abdul Karim) saya diberitahu bahwa biasa kost per bulan untuk satu kamar adalah Rp 25.000,- Saya tidak langsung menyetujuinya mengingat biaya sebesar itu merupakan jumlah yang cukup besar bagi umumnya mahasiswa pada waktu itu.

Untungnya pihak pemilik kost memberi kemungkinan untuk sharing atau sekamar ditempati dua orang. Ketika secara kebetulan tidak lama kemudian siang itu juga datang seorang calon mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berasal dari Delanggu, Klaten, yang juga berniat tinggal di pemondokan yang sama, saya mengajak mahasiswa itu untuk gotong-royong menempati sekamar berdua, sehingga masing-masing dari kami iuran per bulan hanya Rp 12.500,- Maka sejak saat itu, saya dan mahasiswa itu tnggal di sebuah kamar berukuran 3 m x 3 m yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan dua dipan tempat tidur, sebuah meja belajar dan sebuah almari kecil. Kami pun berbagi menggunakan meja belajar dan almari kecil yang ada.

Mahasiswa Ekonomi teman sekamar saya itu bernama Didit Welly Ujianto. Seorang muda yang ramah, murah senyum (malah terkadang cenderung cengengesan), enerjik dan pandai bergaul. Di kemudian hari saya tahu ternyata Didit juga seorang yang tekun dan ulet dalam belajar, teman diskusi yang menyenangkan (semula saya berprasangka jangan-jangan terpaksa karena telanjur tinggal sekamar) dan memiliki daya ingat yang di atas rata-rata dibanding saya dan teman-teman sekost waktu itu.

Ketekunannya tidak saja dalam bidang akademik, namun juga dalam soal menjalankan ibadah. Sebagai seorang penganut Katholik, Didit adalah seorang yang rajin pergi ke gereja Kotabaru. Bahkan di dalam kamar un Didit tekun membaca Alkitab nyaris setiap pagi bangun tidur, menjelang tidur malam dan sesekali saat istirahat siang. Diam-diam saya cemburu memperhatikan ketekunannya dalam beribadah.

Namun satu hal yang belakangan ini baru kami sadari dan akan terus kami kenang adalah bahwa kehidupan pertemanan antara saya dan Didit sebagai teman sekamar barangkali merupakan contoh cara hidup bertoleransi agama yang pernah kami banggakan. Sebagai seorang muslim, setiapkali saya menjalankan sholat di kamar yang sempit itu, Didit yang sedang belajar harus menggeser kursinya dan terkadang berpindah ke atas tempat tidurnya.

Ketika saya bertadarus membaca Al-Qur’an dan pada saat yang bersamaan Didit membaca Alkitab, itupun tidak pernah saling menggangu atau terganggu. Padahal kami masing-masing memiliki kebiasaan membaca kiab suci sambil bersuara, bukan di dalam hati. Kami tetap konsisten dan saling menghargai dengan niat baik masing-masing tanpa perlu mempersoalkan apa yang sedang kami lakukan sesuai keyakinan kami. Bahkan sekali waktu kalau saya malas membaca Al-Qur’an, Didit pun mengingatkan saya dengan gaya bercandanya, kok tumben saya tidak membaca Qur’an. Demikian keseharian yang terasa demokratis dan penuh toleransi itu berlangsung selama dua tahun hingga akhirnya kami masing-masing pindah kost karena perkuliahan pada tahun ketiga berpindah dari kampus Tambak Bayan ke Ketandan.

Kebiasaan khas dari Didit yang paling saya sukai adalah selalu memakai sarung berwarna merah (mungkin satu-satunya yang dimiliki) dengan digulung tinggi dan bagian atas terbuka alias tidak memakai baju, kalau sedang berada di kost. Nyaris hanya ketika pergi ke kampus dan ke gereja saja Didit memakai celana panjang dan itu pun selalu tampil necis dan rapi.

Didit adalah seorang yang suka bercanda, dengan dialek bahasa Jawa ndesonya yang sangat kentara membuat suasana di kamar sering ger-geran berdua. Kesukaannya dengan lagu-lagu Jawa dan keroncong, serta mendengarkan siaran wayang di radio telah mewarnai suasana khas dalam pergaulan di pemondokan.

Semangat toleransi dan tenggang rasa yang dimiliki oleh Didit memang sudah terlihat sejak kami masih tahun-tahun awal mahasiswa terutama dalam pergaulan sehari-hari di pemondokan. Orang Jawa mengatakan Didit adalah seorang yang “entengan” tanpa pretense apapun. Ketika saya sebagai mahasiswa Tambang melakukan praktikum lapangan dan pulang membawa baju kotor, dengan santainya Didit membantu merendam pakaianku tanpa ada perasaan mendongkol atau kesal. Demikian pula sebaliknya ketika saya membantu merendam sarung merahnya yang sudah sekian hari atau minggu tidak dicuci.

Ungkapan khas Didit ketika sedang berdebat atau adu argumentasi tentang suatu hal lalu mentok tidak tahu jawabannya, maka dengan pasrah Didit akan mengatakan : “Lha witekno piye….?” (kira-kira bahasa Indonesianya : “Habis gimana dong?”. Kalau sudah begitu diskusi pun berhenti dan kami tertawa.

Semangatnya sebagai seorang mahasiswa yang memang sejak awal bercita-cita menjadi dosen juga sudah terlihat dari kebiasaan belajarnya. Didit adalah seorang yang rajin dan tekun dalam belajar, sejak dulu tidak saya ragukan. Hampir setiap malam Didit rajin mengulang apa yang telah dipelajarinya di kampus hari itu. Bahkan ketika teman-teman sekost lainnya memilih untuk berkegiatan lain, Didit seperti tidak tergoyahkan tetap belajar sendiri di kamar. Maka tidak heran jika sejak mahasiswa baru Didit sering menjadi rujukan bagi teman-teman seperkuliahannya di Fakultas Ekonomi. Sering teman-teman seperkuliahannya datang untuk belajar bersama di kamar Didit, yang berarti kamarku juga.

Kebiasaan Didit dalam belajar memang unik. Seringkali sambil berjalan memegang buku midar-midar di alam kamar, di depan kamar, di ruang tamu, ndremimil membaca buku, sambil tangannya menunjuk-nunjuk seolah-olah seorang dosen yang sedang mengajar mahasiswanya. Biasanya kami teman-temannya akan tertawa saja melihat tingkah kebiasaan Didit, meski terkadang rada jengkel karena belajar kami dan teman-teman lainnya jadi terganggu oleh suara Didit. Namun tidak saya pungkiri bahwa Didit memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa dibanding saya dan teman-teman sepemondokan. Maka Didit pun sering menjadi rujukan belajar kami ketika pada tahun-tahun awal kami mempelajari mata kuliah yang sama seperti mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

Hingga pertengahan tahun 1981, akhirnya kami berpisah ketika kami masing-masing harus pindah mencari tempat pemondokan baru guna mendekati kampus Ketandan. Beberapa tahun setelah itu saya masih agak sering bertemu Didit karena kami sesekali masih saling mengunjungi. Hingga akhirnya ketika kami masing-masing sampai pada tahap akhir masa perkuliahan yang wakt itu masih menerapkan sistem kenaikan tingkat, kami mulai jarang bertemu.

Hingga saya lulus sebagai sarjana Tambang dan Didit sudah lebih dahulu lulus sebagai sarjana Ekonomi, praktis Didit dan saya dan juga dengan teman-teman lainnya tidak pernah bertemu lagi. Bahkan antara Didit dan saya pun tidak pernah saling tahu kabarnya. Hingga akhirnya saya mendengar kabar bahwa Didit terpilih menjadi Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta pada tahun 2005. Sejak tahun itulah jalinan silaturrahim saya dan Didit terbangun kembali hingga sekarang.

Satu hal yang membuat saya surprise adalah ketika saya mendengar kabar bahwa Didit sudah menunaikan ibadah haji. Nyaris saya tidak percaya kalau mengingat bagaimana kami 25 tahun sebelumnya saling bertoleransi dalam kehidupan keberagamaan saat tinggal sekamar di pemondokan Pondok Siswa di Tambak Bayan. Bukan soal hajinya yang menarik perhatian saya. Kalau sekedar haji siapa saja yang memiliki biaya dapat dibilang mudah untuk melakukan, melainkan apa yang terjadi dan bagaimana muasal kisahnya.

Kini, pada hari ini teman sekamarku, sahabatku, saudaraku, Didit Welly Ujianto sedang mempersiapkan diri untuk menerima anugerah dan derajad berikutnya dari Allah swt. berupa gelar akademik tertinggi dengan dikukukannya sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Ekonomi, setelah untuk kedua kali dipercaya menjabat sebagai Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta.

Semua kenangan indah bersama Didit teman sekamaku dan teman-teman yang pernah sekost dengannya memang tak akan mudah dilupakan. Namun sudah semestinya sebagai bagian yang pernah mewarnai suka-duka dari episode hidup kami masing-masing, maka kenangan itu untuk disyukuri. Sebab Allah swt. senantiasa akan menyertai orang-orang yang ikhlas dalam bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya.

“Saudaraku Didit Welly Ujianto, engkau memang pantas menerima anugerah itu dan aku bangga padamu. Selamat, Prof…!

Yogyakarta, 10 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: