Tentang Cinta Sejati

Pengantar:

Berikut ini adalah kutipan dari status saya di Facebook tentang cinta sejati (sebagai respon atas status beberapa teman tentang topik yang sama), yang saya ungkapkan dari sudut pandang berbeda melalui penggalan-penggalan cerita puuendek. Sengaja tidak sekaligus saya tuliskan rangkuman penafsiran di balik cerita-cerita ini. Silakan Anda membuat penafsiran menurut pemahaman Anda.

***

(1)

Istri saya lagi nonton acara ‘Take Me Out Indonesia’. Tiba-tiba bertanya:

Cinta sejati kuwi sing piye to?“. Pertanyaan tak terduga membuat saya diam agak lama.
Jawabku kemudian:
Wah, yo embuh..! Yang saya tahu adalah bahwa kita sedang berada di tengah perjalanan, di tahun ke-20, untuk menjawab dan membuktikan tentang cinta sejati itu”.

Jika hari ini ada 1 milyar orang di dunia sedang berkoalisi cinta, maka 20, 30, 40, 50 tahun yang akan datang akan ada 1 milyar pemahaman berbeda tentang cinta sejati.

(2)

Menerima dan menyanjung kelebihan seseorang seringkali lebih mudah dilakukan. Bahkan saking lebihnya malah diecer-ecer ‘disedekahkan’ sepanjang jalan. Tapi tidak demikian dengan kekurangannya, tidak setiap orang siap ‘berkorban’ nombok untuk menutupnya. Salah-salah malah nggrundel sepanjang hayat, bukan berjuang menutup kekurangnnya, melainkan justru memperbesarnya. Maka proses pembuktian cinta sejati pun makin terseok separti mobil Jazz mendaki sungai kering…

Yogyakarta, 10 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(3)

Tahun 1980 saya pernah nonton film di bioskop Rahayu Jogja (sekarang sudah almarhum). Judulnya, kalau nggak salah: ‘Window of the Sky’. Ada sepenggal dialog indah, bunyinya: “True love is beautiful, so if you feel touched, don’t be ashame to cry” (cinta sejati itu indah, jika kamu merasa terharu, jangan malu untuk menangis). Cuma saya heran sendiri, bukan tentang true love-nya, tapi kata-kata itu kok masih teringat, sedang hafalan P4 saja sudah bubar dari kepala..

(P4 adalah pelajaran tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, di jaman Orde Baru)

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(4)

Lebih baik aku kau bunuh dengan pedangmu
Asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu
kata penyanyi gambus di televisi sambil jingkrak-jingkrak…

Yen tak pikir-pikir (mumpung pikiran lagi waras..), cinta yang dapat membunuhku itu rupanya datang dari penunggang kuda yang asapnya tak gendong ke mana-mana, yang untuk mendapatkan cinta itu aku harus ber-‘transaksi’ membelinya…

(5)

Padahal di mana-mana cinta hasil ‘transaksi’ itu dijamin pasti luntur, bukan cinta sejati, tidak tulus, rentan terhadap kepentingan, dan… dapat membunuh itu tadi. Termasuk cinta yang tumbuh karena ‘rasa’… (sampai-sampai perlu minta kepada Tuhan hidup satu kali lagi…), ya… rasa asap tembakau maksudnya (Ugh-uk, ugh-uk, terdengar seperti burung hantu, suaranya merdu…)

Yogyakarta, 12 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(6)

Sering kudengar: “Habis sudah, batas kesabaranku!”. Lha memang garis batas kesabaran itu ada dimana? Yang saya tahu jelas batasnya itu ya garis finish, garis polisi, atau mall GVJ (Garis van Java). Tapi kata Thukul: “Sabar itu nggak ada batasnya…” (ini Thukul yang bilang lho!), ketika merespon Anang (mantannya KD) yang sedang penasaran karena merasa habis batas kesabarannya, saat sedang di tengah jalan membuktikan cinta sejati-nya..

(KD : penyanyi Krisdayanti)

Yogyakarta, 13 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(7)

Ketika hendak pergi maghrib-an ke masjid, kupamiti istriku dan kutanya:

“Minta didoain, nggak?“.
Istriku menjawab: “Jelas no…”.
Lalu kataku: “Sini ongkosnya!”.
Jawab istriku: “Ya nanti malam…”.

Inilah jenis ‘transaksi’ perkecualian dari cinta yang dapat membunuh, melainkan rangkaian bunga yang akan menghiasi dan mengharumi lintasan perjalanan panjang yang sedang kami arungi… (Apakah malamnya ongkos jadi dibayarkan? Itu soal lain)

Yogyakarta, 14 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(8)

Seseorang kirim email kepadaku. Dengan nada nelangsa bercerita yang intinya bahwa kekasihnya sekarang ada di US dan ingin sekali dia menyusulnya kesana pada suatu saat, sementara sekarang baru bisa berharap, bermimpi… Bagaimana ya caranya untuk bisa kesana?

Kali ini saya menghindar menjawab dengan nada canda, tapi saya ingin memotivasinya dengan mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dengan harapan dan mimpimu, pada saatnya kelak cinta sejati kalian akan membuktikan selebihnya…”

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(9)

Seorang kenalan yang sudah belasan tahun mengarungi bahtera rumah tangganya, bercerita: “Kalau di rumah sedang tidak ada kesibukan, mending saya pergi keluar. Karena di rumah kalau saya ada salah sedikit saja istriku suka bernyanyi dan suaranya keras sekali. Nggak enak sama tetangga”.

Saya membenarkan, karena bagiku kedengaran seperti sebuah perjuangan untuk mempertahankan bahtera cintanya. Hanya dalam hati saya berharap, semoga perginya itu bukan untuk mengaudisi penyanyi baru…

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(10)

Sebagai penganut Islam, saya mempelajari bahwa sesama muslim itu bersaudara, satu sakit yang lain turut merasakan… Saya juga memplajari bahwa sebagai bukti cinta pada Tuhan (dan RasulNya), maka selalu menyebut namaNya seperti melantunkan ‘nothing compare to You’… Saya juga memplajari bahwa doa dan pujian selalu tertuju padaNya (dan RasulNya) tanpa diminta……

So, bukankah yang demikian itu adalah referensi dan refleksi dalam membangun cinta sejati di dunia?

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(11)

Sedih hatiku, mulai hari ini aku di-PHK dari jabatan ‘sopirintendant’ gara-gara ‘boss’ dan putrinya sudah bisa nyopir sendiri. Pangkatku turun jadi sopir tembak, diminta nyopir hanya kalau sedang dibutuhkan saja… Yo wis, disyukuri saja.

Tapi sumprit.., jangan ada yang menyarankan cari ‘boss’ baru. Telanjur sudah tujuh samudra kusebrangi, tujuh gunung kudaki, tujuh gua kutelusuri, insya Allah ku tak ingin pindah ke lain ‘boss’…

Yogyakarta, 20 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(12)

I LIKE MONDAY…karena pada saat fajar menyingsing saya suka membuat keputusan STI (strategis tapi indah) dimana ruh penghambaan saya bermetamorfosis untuk membatalkan diri sebagai manusia ‘sunnah’ (ibadah personal puasa Senin) berubah memjadi manusia ‘wajib’ (ibadah kolektif bersama ‘boss’ saya…). So, setiap kali keputusan metamorfosis itu harus dibuat, maka pertimbangannya harus dalam rangka mengutamakan yang ‘wajib’ ketimbang yang ‘sunnah’…

Yogyakarta, 22 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(13)

Ketika karakter fisik dan materi tidak lagi menjadi ciri bagi modus eksistensi untuk MEMILIKI (to have), melainkan berganti untuk MENJADI (to be), maka di sanalah cinta sejati tumbuh subur. Masing-masing akan berjuang untuk menyatu saling MENJADI, sebab kalau hanya saling MEMILIKI maka yang dimilikinya itu sangat rentan untuk diganti, ditukar, diubah, dimodifikasi, direkayasa, diakalin, diplekotho…(terinspirasi oleh Eric Fomm).

Yogyakarta, 23 Maret 2010
Yusuf Iskandar

(Note : Yang saya maksud dengan ‘boss’ adalah ibunya anak-anak alias mantan pacar alias istriku tercinta)

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: