Archive for April 7th, 2010

Kopi Shang Hai

7 April 2010

Jogja hujan sejak fajar hingga menjelang siang, sejak subuh hingga penghujung dhuha. Air tertumpah dari langit mengiringi sepenggal doa dhuha, semoga rejeki yang masih di langit sedang dihamburkan ke muka bumi (fis-sama’i fa-anzilhu). Dan, kusambut rejeki itu dengan secangkir kopi Shang Hai (haaaa… varian baru dari Cianjur, selain stok yang masih ada di almari, kopi dari Papua, Bandung, Jambi, Medan dan Aceh. Entah kapan habisnya!)

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bingung Berjamaah

7 April 2010

Penyiar TV itu bertanya kepada seorang Kapolres di Aceh: “Sebesar apa gempanya, pak?”. Pak Kapolres pun kebingungan menjawabnya. Sebenarnya saya ingin membantu menjawab, tapi saya juga bingung… Lha sebesar apa ya? Sebesar rumah Gayus atau sebesar gunung? Sebesar gempa Aceh atau Jogja? Akhirnya pak Kapolres menemukan jawabannya: “Ya cukup besar mbak”. Mbak penyiar pun nampaknya puas.

Bingung berjamaah, agaknya menjadi ‘identitas baru’ bangsa ini…

(Pagi ini sekitar pukul 05:26 WIB terjadi gempa berkekuatan 7,2 SR di wilayah pulau Sinabang, Nanggroe Aceh Darussalam)

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Bisnis MLM?

7 April 2010

Saya menerima SMS isinya: “Mendapatkan 5 hal melalui 5 jalan“, diakhiri dengan: “…sebarkn sms ini kpd saudara muslim minimal 7 org sja. Insya Allah 2jam kmdian akn mndngar kabar BAIK” –

Benar, bahwa siapa menebar kebaikan maka akan menuai yang lebih baik lagi, karena itu memang janji Tuhan. Tetapi, menebar kebaikan kepada minimal 7 orang dan 2 jam kemudian akan mendengar kabar baik? Ugh.., sepanjang yang saya kenal, Tuhan bukan pelaku bisnis MLM…

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Gerimis Subuh

7 April 2010

Gerimis subuh
nyanyian geluduk jauh di angkasa
daun-daun basah
mengganti titik embun yang entah kemana perginya pagi ini

Sebagian penghuni bumi menarik selimutnya
tinggi-tinggi
rapat-rapat
seolah tak mau terusik
padahal pagi basah sudah lama tak mereka jumpai

Imam subuh itu absen pagi ini
harus ada yang mengganti
lengkap dengan qunut seperti selama ini
meski tidak biasa bagi si penggganti
seperti tak biasanya gerimis subuh menghapus jejak langkah para jamaah
seperti tak biasanya burung-burung kecil bercericit oleh sayapnya yang basah

Gerimis subuh
makin deras
gemericik air terdengar bak harmonisasi musik pagi
mengantarkan sepenggal-dua tilawah ayat suci

Hening
damai
menyejukkan hati yang gundah
menentramkan jiwa yang gelisah
sebab tak yakin apakah esok masih ada kesempatan dimiliki
menjumpai gerimis subuh seperti pagi ini

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Musim Membajak Tiba

7 April 2010

Musim panen berlalu, musim membajak pun tiba

Kemana kerbauku kini?

APAPON tidak boleh buang

(Mohon maaf bila foto kurang tajam, karena diambil menggunakan kamera Blackberry)

Madurejo – Sleman, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Pameran Hanafi

7 April 2010

Mestinya hari ini aku hadir di Galeri Nasional Jakarta menyaksikan pembukaan pameran lukisan seorang sahabatku, merefleksi perjalanan kelimapuluh tahun. Tapi nampaknya Tuhan berkata: “Ko istirahatkan dulu ko pu kaki itu…“. Dan, ribuan halaman kertas yang telah penuh goresan pena pun kurenungi

(Selamat dan sukses buat sahabatku, Hanafi. Insya Allah aku ingin bersama menorehkan tinta di halaman selanjutnya, pada kesempatan berikutnya).

(Pameran lukisan dan instalasi oleh Hanafi berlangsung di Galeri Nasional Jakarta tanggal 6 s/d 18 April 2010)

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Murid Kencing Berlari

7 April 2010

Tanpa alasan yang jelas, kekasihku duluuu… bangga menjadikan aku sebagai idola, panutan sekaligus GURU baginya. Hatiku berbunga-bunga.

“Tapi aku ragu…”, kataku.
“Memang knaffa?”, tanyanya mesra (namanya juga kekasih, nggak mungkinlah teriak-teriak kayak kernet bis antar kota sambil bergelantungan).
“Apa kamu siap kalau aku ke toilet buang air kecil?”, tanyaku.
“Siap apaan?”, tanyanya curiga.
“Sebagai MURID kamu harus siap-siap kencing sambil berlari…”

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

RW

7 April 2010

Setiap kali ada pemilihan RW di kampung, kebanyakan para warganya malah berlomba tidak hadir karena takut kepilih. Kalau pun hadir, keukeuh tidak mau dipilih jadi RW. Lha, padahal tugas RW itu ‘kan mudah, wong cuma mengubah ‘baWang meRah’ menjadi ‘baRang meWah’. Tanpa perlu pusing-pusing nego dengan ‘Mr. Gayus’ untuk ngakalin PBM (Pajak Barang Mewah).

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Cinta Sejati

7 April 2010

Pengantar:

Berikut ini adalah kutipan dari status saya di Facebook tentang cinta sejati (sebagai respon atas status beberapa teman tentang topik yang sama), yang saya ungkapkan dari sudut pandang berbeda melalui penggalan-penggalan cerita puuendek. Sengaja tidak sekaligus saya tuliskan rangkuman penafsiran di balik cerita-cerita ini. Silakan Anda membuat penafsiran menurut pemahaman Anda.

***

(1)

Istri saya lagi nonton acara ‘Take Me Out Indonesia’. Tiba-tiba bertanya:

Cinta sejati kuwi sing piye to?“. Pertanyaan tak terduga membuat saya diam agak lama.
Jawabku kemudian:
Wah, yo embuh..! Yang saya tahu adalah bahwa kita sedang berada di tengah perjalanan, di tahun ke-20, untuk menjawab dan membuktikan tentang cinta sejati itu”.

Jika hari ini ada 1 milyar orang di dunia sedang berkoalisi cinta, maka 20, 30, 40, 50 tahun yang akan datang akan ada 1 milyar pemahaman berbeda tentang cinta sejati.

(2)

Menerima dan menyanjung kelebihan seseorang seringkali lebih mudah dilakukan. Bahkan saking lebihnya malah diecer-ecer ‘disedekahkan’ sepanjang jalan. Tapi tidak demikian dengan kekurangannya, tidak setiap orang siap ‘berkorban’ nombok untuk menutupnya. Salah-salah malah nggrundel sepanjang hayat, bukan berjuang menutup kekurangnnya, melainkan justru memperbesarnya. Maka proses pembuktian cinta sejati pun makin terseok separti mobil Jazz mendaki sungai kering…

Yogyakarta, 10 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(3)

Tahun 1980 saya pernah nonton film di bioskop Rahayu Jogja (sekarang sudah almarhum). Judulnya, kalau nggak salah: ‘Window of the Sky’. Ada sepenggal dialog indah, bunyinya: “True love is beautiful, so if you feel touched, don’t be ashame to cry” (cinta sejati itu indah, jika kamu merasa terharu, jangan malu untuk menangis). Cuma saya heran sendiri, bukan tentang true love-nya, tapi kata-kata itu kok masih teringat, sedang hafalan P4 saja sudah bubar dari kepala..

(P4 adalah pelajaran tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, di jaman Orde Baru)

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(4)

Lebih baik aku kau bunuh dengan pedangmu
Asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu
kata penyanyi gambus di televisi sambil jingkrak-jingkrak…

Yen tak pikir-pikir (mumpung pikiran lagi waras..), cinta yang dapat membunuhku itu rupanya datang dari penunggang kuda yang asapnya tak gendong ke mana-mana, yang untuk mendapatkan cinta itu aku harus ber-‘transaksi’ membelinya…

(5)

Padahal di mana-mana cinta hasil ‘transaksi’ itu dijamin pasti luntur, bukan cinta sejati, tidak tulus, rentan terhadap kepentingan, dan… dapat membunuh itu tadi. Termasuk cinta yang tumbuh karena ‘rasa’… (sampai-sampai perlu minta kepada Tuhan hidup satu kali lagi…), ya… rasa asap tembakau maksudnya (Ugh-uk, ugh-uk, terdengar seperti burung hantu, suaranya merdu…)

Yogyakarta, 12 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(6)

Sering kudengar: “Habis sudah, batas kesabaranku!”. Lha memang garis batas kesabaran itu ada dimana? Yang saya tahu jelas batasnya itu ya garis finish, garis polisi, atau mall GVJ (Garis van Java). Tapi kata Thukul: “Sabar itu nggak ada batasnya…” (ini Thukul yang bilang lho!), ketika merespon Anang (mantannya KD) yang sedang penasaran karena merasa habis batas kesabarannya, saat sedang di tengah jalan membuktikan cinta sejati-nya..

(KD : penyanyi Krisdayanti)

Yogyakarta, 13 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(7)

Ketika hendak pergi maghrib-an ke masjid, kupamiti istriku dan kutanya:

“Minta didoain, nggak?“.
Istriku menjawab: “Jelas no…”.
Lalu kataku: “Sini ongkosnya!”.
Jawab istriku: “Ya nanti malam…”.

Inilah jenis ‘transaksi’ perkecualian dari cinta yang dapat membunuh, melainkan rangkaian bunga yang akan menghiasi dan mengharumi lintasan perjalanan panjang yang sedang kami arungi… (Apakah malamnya ongkos jadi dibayarkan? Itu soal lain)

Yogyakarta, 14 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(8)

Seseorang kirim email kepadaku. Dengan nada nelangsa bercerita yang intinya bahwa kekasihnya sekarang ada di US dan ingin sekali dia menyusulnya kesana pada suatu saat, sementara sekarang baru bisa berharap, bermimpi… Bagaimana ya caranya untuk bisa kesana?

Kali ini saya menghindar menjawab dengan nada canda, tapi saya ingin memotivasinya dengan mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dengan harapan dan mimpimu, pada saatnya kelak cinta sejati kalian akan membuktikan selebihnya…”

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(9)

Seorang kenalan yang sudah belasan tahun mengarungi bahtera rumah tangganya, bercerita: “Kalau di rumah sedang tidak ada kesibukan, mending saya pergi keluar. Karena di rumah kalau saya ada salah sedikit saja istriku suka bernyanyi dan suaranya keras sekali. Nggak enak sama tetangga”.

Saya membenarkan, karena bagiku kedengaran seperti sebuah perjuangan untuk mempertahankan bahtera cintanya. Hanya dalam hati saya berharap, semoga perginya itu bukan untuk mengaudisi penyanyi baru…

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(10)

Sebagai penganut Islam, saya mempelajari bahwa sesama muslim itu bersaudara, satu sakit yang lain turut merasakan… Saya juga memplajari bahwa sebagai bukti cinta pada Tuhan (dan RasulNya), maka selalu menyebut namaNya seperti melantunkan ‘nothing compare to You’… Saya juga memplajari bahwa doa dan pujian selalu tertuju padaNya (dan RasulNya) tanpa diminta……

So, bukankah yang demikian itu adalah referensi dan refleksi dalam membangun cinta sejati di dunia?

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(11)

Sedih hatiku, mulai hari ini aku di-PHK dari jabatan ‘sopirintendant’ gara-gara ‘boss’ dan putrinya sudah bisa nyopir sendiri. Pangkatku turun jadi sopir tembak, diminta nyopir hanya kalau sedang dibutuhkan saja… Yo wis, disyukuri saja.

Tapi sumprit.., jangan ada yang menyarankan cari ‘boss’ baru. Telanjur sudah tujuh samudra kusebrangi, tujuh gunung kudaki, tujuh gua kutelusuri, insya Allah ku tak ingin pindah ke lain ‘boss’…

Yogyakarta, 20 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(12)

I LIKE MONDAY…karena pada saat fajar menyingsing saya suka membuat keputusan STI (strategis tapi indah) dimana ruh penghambaan saya bermetamorfosis untuk membatalkan diri sebagai manusia ‘sunnah’ (ibadah personal puasa Senin) berubah memjadi manusia ‘wajib’ (ibadah kolektif bersama ‘boss’ saya…). So, setiap kali keputusan metamorfosis itu harus dibuat, maka pertimbangannya harus dalam rangka mengutamakan yang ‘wajib’ ketimbang yang ‘sunnah’…

Yogyakarta, 22 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(13)

Ketika karakter fisik dan materi tidak lagi menjadi ciri bagi modus eksistensi untuk MEMILIKI (to have), melainkan berganti untuk MENJADI (to be), maka di sanalah cinta sejati tumbuh subur. Masing-masing akan berjuang untuk menyatu saling MENJADI, sebab kalau hanya saling MEMILIKI maka yang dimilikinya itu sangat rentan untuk diganti, ditukar, diubah, dimodifikasi, direkayasa, diakalin, diplekotho…(terinspirasi oleh Eric Fomm).

Yogyakarta, 23 Maret 2010
Yusuf Iskandar

(Note : Yang saya maksud dengan ‘boss’ adalah ibunya anak-anak alias mantan pacar alias istriku tercinta)